Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

Secuil Cerita dalam Perayaan HPI (2)

Saya tiba di Sanggar Budaya Istana Gebang pukul 19.30, terlambat tigapuluh menit dari yang dijadwalkan. Namun, ada yang aneh dengan langkah saya. Kenapa jadi sempoyongan begini? Meski biasanya saya memang berjalan jinjit, tapi kali ini berbeda. Kepala saya mulai memberat. Tapi, saya melukis senyum saat melihat Mbak Flo dan Kak Fahri di halaman. "Lho, ngapain kamu ke sini?" Kak Fahri bertanya dengan heran. "Acaranya sudah selesai." Lanjutnya, membuat saya sedikit terbelalak. Saya mengalihkan pandang pada Mbak Flo, dan ia membenarkan. Saya jadi kaget betulan. Tapi kemudian, mereka berdua kompak tertawa. Wah, rupanya saya dikerjai. Saya sedikit menggerutu kesal bercampur tawa, sambil tetap berusaha menahan denyut yang makin menjadi di kepala. Kak Fahri pun memberitahu saya jika dia yang menjadi MC (dadakan) malam ini. Acara bedah buku sesi dua dan tiga tadi sore pun batal terlaksana, karena tak ada penonton. Ah, sayang sekali. Tapi ini mungkin karena perencanaan acara

Secuil Cerita dalam Perayaan HPI (1)

Hari ini memang telah saya tunggu-tunggu. Perayaan Festival Hari Puisi Indonesia Blitar Raya, yang dihelat di Sanggar Budaya Istana Gebang. Pagi ini, acaranya adalah bedah tiga buku sekaligus. Novel karya Pak Heru Patria bertitel Untuk Sebuah Cinta yang Tertinggal di Blitar ; antologi puisi milik Oma Merry berjudul Bahasa Kalbu ; juga antologi cerpen FLP Blitar Jejak-Jejak Kota Kecil. *** Saya tiba pukul sembilan tigapuluh, dan ternyata suasana Sanggar Budaya masih sepi. Hanya ada sejumlah panitia, seperti Pak W Haryanto, Mbak Florensia, Mbak Ismi, juga beberapa anggota Balilatar. Saya juga bertemu Irsyad, Ryan Adin, dan Ana Fitriani. Tak lama kemudian, Kak Fahri muncul, bersamaan dengan Pak Heru dan Mas Saif. Kak Fahri akan menjadi moderator, sedangkan Mas Saif sebagai pembanding. Satu jam berselang, Alfa Anisa dan Mbak Nunung datang membawa se-termos kopi hitam dan beberapa bungkus gorengan. Saya tak ketinggalan mengambil bagian segelas kopi dan sekerat roti goreng, hehehe. *** Saat

Teruntuk Matahari (2)

"Setiap orang yang datang ke kehidupanmu punya kapasitas sendiri-sendiri untuk menjadikanmu lebih baik..." -Matahari Tulisan ini masih saya beri judul sama seperti tiga tahun lalu. Teruntuk Matahari. Mengapa Matahari? Karena dalam namanya ada kata "Surya", yang berarti Matahari. Dan seperti matahari, ia selalu berusaha memberi cahaya di hidup setiap orang yang dikenalnya. Seperti catatan kemarin, kali ini juga saya tujukan bagi sahabat sejak SD. Sejak awal, saya juga berada satu kelas dengannya, di kelas B. Di masa kecil, badannya cukup gemuk, juga tak terlalu tinggi. Dia tak terlalu pendiam, tapi juga tidak tergolong nakal.  Saya sendiri justru tak terlalu akrab dengannya di masa SD dulu. Yang saya ingat, dia gemar bermain sepakbola, juga permainan khas anak laki-laki lainnya. *** Sama dengan Gilang, saya bertemu lagi dengannya di tahun 2012, pada momen Lebaran. Saya masih ingat, siang itu, sebuah dering telepon memutus mimpi. Saat saya jawab, ada sebuah suara asin

Teruntuk Dokter Masa Kecil

Senja hampir beranjak, saat saya membuka beranda Facebook. Di urutan paling atas, terdapat sebuah notifikasi, lengkap dengan foto profil besar. Sebuah pemberitahuan ulangtahun. Sesaat, saya terpaku. Rupanya hari ini ulangtahun beliau. Saya tidak menyangka. Tiba-tiba, gurat kenangan masa kecil menyapa benak saya. Sedikit kenangan dengan beliau. Sebenarnya, tak banyak yang bisa saya ingat tentang beliau. Saya akan coba menuliskan sejumlah momen yang sempat saya alami bersamanya. Sebagai sebuah bingkisan ulangtahun. *** Saya lahir di Malang, 25 tahun lalu. Usia kandungan ibu masih enam bulan setengah saat itu. Ya, saya lahir prematur. Itu menyebabkan kaki kanan saya jinjit dan saya kidal. Saya juga sempat punya alergi tenggorokan. Itu membuat saya harus menghindari sejumlah makanan, seperti cokelat, kacang, melon, semangka, dan mentimun. Tapi, namanya juga anak-anak, kadang saya bersikeras meminta dibelikan makanan pantangan tersebut. Hingga akhirnya membuat alergi saya kambuh. Jika sudah

Untuk Sang Raja Usil

"Dinda, maafin aku ya. Dulu aku nakal banget sama kamu. Kok aku dulu bisa senakal itu ya?" Tawa saya menyembur saat mendengar kalimat yang disampaikan dengan raut wajah serius itu. Melihat saya tertawa, beberapa teman lain yang ada di situ pun ikut tertawa, membuatnya tersenyum malu. Sebelum ucapan maaf itu terlontar, terlebih dulu ia bertanya apakah saya masih ingat padanya. Dengan kelakar, saya berkata, "Mana bisa lupa sama kamu?", disambut riuh teman-teman lain yang meledeknya. *** Momen itu terjadi di Lebaran 2012. Pada siang menjelang sore itu, kedatangan beberapa Sahabat Merah Putih mengejutkan, sekaligus menggembirakan saya. Salah satu yang ikut dalam rombongan adalah dia. Dari semua yang datang saat itu, yang paling saya ingat memang dia. Sebabnya? Apalagi, jika bukan karena segala keusilannya di masa kecil dulu. *** Sebenarnya kami sudah satu sekolah sejak di bangku TK. Hanya saja, saat itu kami berbeda kelas. Barulah saat masuk SD, di kawasan Sananwetan, k

Lebaran #4

28 Juni. Pagi sudah menginjak angka sembilan, tapi saya masih di rumah. Ya, rencana yang digagas semalam belum menunjukkan tanda-tanda akan terlaksana. Rencananya, kami akan berkeliling Blitar lagi, sekalian mencicipi bakso Pak Irul di kawasan Kebon Rojo yang sudah lama tak kami kunjungi. Namun, dua kakak sepupu saya yang berumah di Perumahan Pakunden--Mas Dito dan Mas Daffa belum juga bisa dihubungi. Jadilah, saya, adik, dan Mbak Savira--sepupu dari Gresik hanya bisa menunggu. Menjelang siang, ada kabar terbaru dari kedua kakak sepupu saya itu. Rupanya mereka tengah berada di Sirah Kencong. Wah, kalau tahu begini kami bertiga pergi sendiri saja. *** Namun, rupanya ada kejutan untuk saya di jam setengah empat sore. Sebenarnya inilah yang saya tunggu sejak permulaan hari. Kedatangan Sahabat Merah Putih! Kali ini pasukan tak sebanyak biasanya; hanya Ade, Fian, Ikra, Gilang, Dimas, Rendik, Pipit, dan Ulfa. Meski kini pasukan yang berkunjung tak sebanyak tahun 2012 lalu, namun tak menguran

Kevin and The Red Rose : Musik Rasa Kevin Aprilio, Lirik Rasa Yovie & Nuno

Kulihat dari kejauhan Sepasang sayap terbalut sinar Kau perengkuh jiwaku yang bimbang Memberikan cahaya yang tenang... -Intro Suatu malam, saat tengah membuka Youtube, sebuah videoklip menarik perhatian saya. Terkunci Untukmu, dibawakan oleh Kevin and The Red Rose. Kevin and The Red Rose? Grup apa itu? Ternyata, grup ini adalah project baru Kevin Aprilio. Siapa yang tak mengenalnya? Putra pasangan musisi Addie MS dan Memes yang tak menyelesaikan SMA-nya ini mulai dikenal bersama band -nya, Vierratale. Selain Vierratale, Kevin juga sempat memproduseri sebuah girlband bernama Princess. Dan Kevin and The Red Rose adalah proyek terbarunya. *** Namun, seperti kata Kevin dalam sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi swasta, Kevin and The Red Rose bukanlah sebuah band . Konsep mereka sederhana; ada tiga lelaki yang bernyanyi, dan Kevin yang bermain musik. Tiga vokalisnya adalah Luthfi Aulia, Ilyas, dan Eda. Luthfi dan Ilyas 'ditemukan' Kevin di Instagram. Mereka berdu

Lebaran #3

27 Juni ini diisi dengan reuni keluarga almarhum Kakek. Tahun ini, reuni bertempat di rumah adik Kakek di kawasan Tlumpu, Blitar. Saya berangkat satu mobil dengan keluarga sepupu dari Gresik yang baru tiba hari itu. Acara dibuka dengan sambutan salah satu perwakilan keluarga, dilanjutkan pembacaan doa bersama. Seusainya, mari menikmati hidangan yang tersedia. Di sela-sela makan, saya menyempatkan diri mengabadikan gaya bersama sepupu saya. Tak lupa, kesepuluh cucu berfoto bersama Eyang Putri. *** Jam enam petang. Saya sekeluarga bersiap menghadiri undangan selanjutnya, tasyakuran yang diadakan Pakde dan Bude di rumahnya. Tasyakuran ini sekaligus sebagai perayaan ulangtahun pernikahan mereka yang ke-25. Saya dan adik berangkat satu jam lebih lambat dari yang seharusnya. Masih semobil dengan sepupu dari Gresik. Sedangkan ayah dan ibu berangkat naik motor. Sampai di sana, seluruh keluarga sudah berkumpul. Tak hanya keluarga Pakde, saudara-saudara Bude pun hadir pula. Bahkan ada salah satu