Langsung ke konten utama

Postingan

Di Kedai Hari Itu

Sejak tiba pukul tiga, gadis itu duduk di sana. Pada sebuah sofa coklat di dekat pintu masuk, juga dekat dengan jendela, dan mesin pendingin yang terpasang di atas. Usai bertukar sapa dengan pasangan muda pemilik kedai dan memesan sejumlah menu, gadis itu kembali duduk dan tenggelam bersama buku bersampul keemasan yang ia keluarkan dari tasnya. Buku itu masih terlihat baru. Beberapa menit perasaannya diombang-ambingkan cerita racikan Dee Lestari. Namun bosan datang dan berhasil menyerang. Matanya beralih pada meja, melahap camilan yang telah tersaji. Croffle empuk bersalut cokelat bersama lembutnya eskrim vanila menciptakan paduan enak di lidah. Dari tempatnya duduk, pelan kepalanya menoleh ke bagian tengah kedai. Tiba-tiba, matanya tertarik jadi pengamat. Dari ujung kiri. Di sana bertengger seperangkat mesin kopi. Di depannya, terdapat gelas sedang berisi beberapa bungkus gula, serta dua boks kopi dari sebuah kedai di Surabaya. Di sebelahnya, ada maneki neko , si kucing emas khas

Mimpi yang Penuh

Jarum panjang nyaman di delapan. Si pendek merapat ke angka empat. Suara Adhitia Sofyan mengalun bersama petikan gitarnya, lewat sebuah lagu berjudul Across This Milion Stars . Pandangan teralih dari layar ponsel ke jendela. Emasnya mentari sore membias di sana, buat ruangan jadi terang. Seketika, terpejam sang mata usai sejenak lihat jendela. Nyalanya menyilaukan. Dalam gelap, hadir lagi kilasan panorama itu. Wajah pagi berkilauan, udara dingin yang menenangkan, rumah mungil yang selalu terasa nyaman. Teringat pada bangku-bangku bulat di teras kecil itu. Terkadang, makhluk berbulu jingga kelabu menyapa di anak tangga. Ia mengeong pelan, meminta jatah makanan. Pada kilasan berikutnya, panorama kota itu yang muncul. Ramainya, asrinya, rapinya tata kota, taman bunga, gedung tinggi, aneka pertokoan, lezatnya makanan, alun-alun, wahana wisata, juga bermacam sekolah berbagai jenjang yang hebat. Ya, ini masih tentang kota itu. Pembawa riang sejak dulu. Kerap membayangkan, bagaimana warna-w

Ruparasa, Inilah Kekasihmu yang Baru

Halo, Ruparasa. Apa kabar? Maafkan saya, sudah terlalu lama tak menoreh cerita. Sesungguhnya lusinan ide menumpuk di kepala, namun entah apa yang terjadi pada jemari ini. Seakan sedang genggam beban berat, hingga tak mampu merangkai kata. Ada beberapa hal yang terjadi pada sekian bulan belakangan. Kembalinya sebuah pertemuan. Tercapainya satu impian lawas. Hingga, akar keraguan yang akhirnya tumbuh menjadi satu cabang keberanian. Ya. Tumbuhnya satu keberanian. * Kali ini, kisah si berani itu yang akan saya bagi. Entah dari mana awalnya saya menaruh minat di bidang ini. Namun, menurut dugaan pribadi, sepertinya Ayahlah yang secara tak langsung menurunkan talenta ini. Di masa kecil, mendengarkan radio sudah menjadi kebiasaan buat saya. Bukan saja menanti lagu-lagu kesukaan diputar--saat itu yang paling sering saya dengar adalah lagu anak-anak karya Kak Ria Enes dan Susan, serta Kahitna, tapi juga untuk mendengarkan suara ayah saya. Karena pada 1990 hingga 1996 silam, ayah sempat m

Cerita Kedai Kopi (5) - Split Espresso

Sejak berlokasi di Jalan Veteran, kedai kopi satu ini telah membuat saya penasaran. Namun, menurut kabar-kabar yang saya dengar, kedai ini libur menyeduh di Hari Minggu. Ah, sayang sekali. Baiklah, akhirnya rasa penasaran saya terpaksa dibekukan dahulu. Namun, jika tak keliru, di Januari 2021, saya mendapat sebuah berita gembira. Split Espresso telah pindah lokasi di Jalan Mawar, Kota Blitar. Tepatnya, di depan apotek Kimia Farma. Yeay, lebih dekat dari rumah! Di akhir Januari lalu, saya diajak Fitriara ke sana. * Benar saja, suasana dan menu kedai membuat saya betah seketika. Kala itu, saya memesan sepotong banana bread dan segelas chocolate iced by Korte , kalau saya tak salah. Aneka kudapan di sini diletakkan dalam etalase roti lawas, dan dihangatkan dulu sebelum dihidangkan.   Pemilik kafe ini adalah sepasang suami istri, Mas Ardi dan Mbak Kiki. Rupanya, minat mereka pada dunia kopi dimulai sejak berkuliah di Malang. Mbak Kiki sendiri juga gemar membuat kue. Semua kudapan di ke

Terimakasih 2020 : A Little Throwback Note

Pagi terakhir di 2020. Saya memandangi kalender meja beberapa saat usai mematikan lampu tidur. Tak terasa, esok tahun telah berganti. Dan 2020 telah menorehkan banyak kenang, baik yang penuh tawa, atau sarat airmata. Bagi saya pribadi, 2020 memberi banyak pelajaran, pengalaman, juga "memaksa" terbiasa melakukan rutinitas yang asing untuk saya sebelumnya. Contoh paling sederhana, memakai masker dan membawa hand sanitizer ke mana pun. Keharusan berdiam di rumah awalnya tentu aneh dan menjenuhkan. Apalagi buat saya, yang hanya punya kesempatan keluar rumah di akhir pekan. Tapi, lambat laun saya mulai bisa terbiasa. Berusaha mencari hiburan untuk diri sendiri. 2020 membuat saya akrab dengan Netflix, Disney+ Hotstar, juga sejumlah platform yang adakan konser musik daring. Menonton konser Afgan, juga AFI Reunion lewat live-streaming pun terwujud tahun ini, justru saat harus berdiam di rumah. Meski akhirnya saya tak hanya berada di rumah. Momen keluar rumah saya diawali dari

Membuka Kembali Enam Tahun Merah Putih : Kejutan dari Sebuah Pesan

"Can you take me back when we were just kids Who weren't scared of getting older? 'Cause no one knows you like they know you And no one probably ever will You can grow up, make new ones But the truth is That we grow up, then wish we could go back then There's nothing like old friends 'Cause you can't make old friends..." -Old Friends, Benjamin Rector Kedai Sade, pukul 11 siang. Saya naik tangga dengan agak susah payah, sebelum menerima dua uluran tangan. Satu milik gadis barista yang saya belum tahu namanya. Satu lagi miliknya. Sejenak mata saya terbelalak, namun kemudian menyipit seiring senyum yang terbit di balik masker. Sesaat kemudian, kami sudah duduk berhadapan. Di hadapannya ada pai keju yang tinggal sepertiga, juga segelas Americano yang sudah tak penuh lagi. Saya menyesali keterlambatan yang hampir satu jam ini. Maafkan, yaa... * Namanya Tios Marhenes. Kami berkawan baik di masa SD, dan sempat satu sekolah di SMP, meski berbeda kelas.

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama