Langsung ke konten utama

Bertemu Bandung (3.2)

"If you get lost, you can always be found
Just know you're not alone
'Cause I'm going to make this place your home..."
-Home, Phillip Phillips



Masih di hari yang sama, Ahad, 19 Januari. Mobil kami memasuki sebuah pelataran. Ada tiga rumah di sekelilingnya. Seorang wanita berjilbab menyambut kami ramah, Bu Dede namanya. Mungkin ini pemilik villanya, batin saya menduga.






Saya keluar dari mobil paling akhir, kemudian mengikuti langkah mereka yang sudah lebih dulu masuk rumah.

Duduk sejenak di teras untuk melepas sepatu, saya dibuat penasaran dengan isi rumah ini. Sepertinya artistik dan menarik. Suara para sepupu saya terdengar riuh-rendah, menyoal pembagian kamar, juga minta tolong difotokan. Foto?

*

Saya melangkah ke dalam, dan memandangi sekeliling dengan senyum lebar. Villa ini keren, itu yang terucap dari benak. Pantas saja jika para sepupu sibuk berfoto.




Di sisi kanan pintu ada sebuah meja dengan empat kursi. Ada dua kamar yang bersebelahan di sisi kiri. Kamar mandi terletak di samping tangga menuju lantai dua. Kemudian, ada salah satu sudut yang langsung saya favoritkan, yakni dapur.

 





Berkonsep minimalis, dapur di Villa Casa Lembang ini dekat dengan pintu belakang. Lengkap dengan sejumlah furnitur, yakni kulkas, dispenser, kompor gas tanam, microwave, mesin kopi, bak cuci piring, dan rak piring tentunya. Ada sebuah meja lebar di tengah dapur beserta keranjang di atasnya.
Ternyata keranjang itu berisi satu pak roti tawar, meises, sereal, dan sekotak besar susu cair. Di dekat mesin kopi, ada toples-toples kecil berisi gula, mentega, teh, dan kopi. Semua itu bisa kami konsumsi selama bermalam di sana.

*

Ada yang menarik perhatian saya saat akan naik tangga. Di sisi kiri, ada beberapa poster film yang terpasang. Ada poster Sabtu Bersama Bapak, Mari Lari, Testpack, dan Shy Shy Cat; lengkap dengan tandatangan para aktornya. Saya merasa sedikit aneh. Apakah villa ini pernah dipakai untuk syuting film-film itu?
  






Sesampainya di lantai dua, saya semakin heboh. Tata ruang di sini tak kalah apik dengan lantai satu tadi. Ada sebuah kursi malas lengkap dengan bantal. Ada sebuah rak buku di sampingnya.

  





Sebuah sofa dan meja bundar kecil berada di tengah ruangan, berhadapan dengan rak televisi. Selain beberapa pernak-pernik, di sebelah rak itu ada poster film Jomblo, yang dibintangi Ringgo Agus, Christian Sugiono, Dennis Adhiswara, dan Rizky Hanggono. Di sisi kanan ada dua jendela lebar. Hawa sejuk khas pegunungan langsung terasa saat jendela dibuka.


 


Di lantai dua ini ada sebuah kamar lengkap dengan toilet dalam. Dilihat dari tata ruangnya, sepertinya ini kamar utama. Selain itu, ternyata ada loteng di atas, lengkap dengan sebuah tempat tidur. Sayangnya saya tak bisa ke sana, sebab tangganya terlalu sulit dinaiki.



 


Saya menempati sebuah kamar di lantai satu bersama Almira. Ternyata, di setiap kamar pun ada bukunya. Diantaranya novel Testpack, Sabtu Bersama Bapak, Jomblo, dan dua buku lainnya saya lupa. Saya makin penasaran, apa mungkin para aktor film-film ini pernah syuting atau menginap di sini?

*

Usai menyimpan koper dan bersih diri, kami melanjutkan perjalanan. Mobil menuju ke arah Dago Pakar. Saya jadi ingat sepotong tembang Bandung-nya Fiersa Besari yang juga menyebut tempat ini.

Ternyata, apa yang saya khawatirkan terjadi. Mobil kami agak bermasalah saat melintasi tanjakan. Untung saja tempat tujuan kami sudah dekat.




Sore itu kami habiskan di sebuah tempat bernama Kafe Utara. Desainnya unik dan berada di perbukitan. Kami memilih bangku di halaman kafe yang agak tinggi.





Tak jauh berbeda dengan di Blitar, kafe ini menawarkan aneka varian kopi dan nonkopi, juga rice bowl dan sejumlah camilan. Saya memesan seporsi rice bowl dan cokelat dingin.


 





Mungkin, yang berbeda adalah keindahan panorama dan hawa sejuknya. Dago Pakar sedikit mengingatkan saya pada Kota Batu.

*

Jelang senja, kami beranjak pergi. Untunglah mobil kami sudah berangsur pulih. Melaju lagi, kali ini mengarah turun, meski belum sampai ke kota. Terlebih dulu kami shalat Maghrib di sebuah masjid yang dilewati.

Saya tak terlalu tahu mobil ini menuju ke mana. Sejak dari masjid, mata saya asyik menikmati pemandangan. Hingga kemudian saya kaget saat mobil berbelok ke sebuah gedung besar yang meriah dengan hiasan lampu-lampu. Lalu mengarah ke basement. Ini di mal?




Benar. Ini memang Mall PVJ atau Paris Van Java. Waduh. Nyeri di kaki saya belum reda. Dan jujur saja, saya paling tidak nyambung kalau diajak ke mal, apalagi jika belanja baju. Ketika yang lain sibuk menyebut brand pakaian ternama, saya bingung sendiri. Sungguh tak tahu akan membeli apa di sini.

Jadilah, saya melangkah tertatih, masuk tanpa semangat. Mungkin nanti saya akan menunggu di foodcourt terdekat saja. Tapi kemudian mata saya mengarah pada seorang pengunjung yang membawa kresek Gramedia. Saat saya tanyakan pada Mas Daffa, ternyata benar. Syukurlah, ada Gramedia di mal superluas ini. Paling tidak ada satu tempat yang saya kenali di sini.

*

Kami bertujuh berpisah di depan eskalator. Empat yang lain menuju clothing line yang dimaksud. Sedangkan Mas Dito dan Mas Hilmy memilih menemani saya ke Gramedia di lantai dua. Mereka membantu saya naik eskalator.

Saya langsung masuk dan meneliti setiap rak yang ada di sana. Mas Dito dan Mas Hilmy mengikuti dengan raut muka bingung. Saya tersenyum. Sebenarnya kasihan juga pada mereka berdua. Sudah saya bilang untuk tinggalkan saja saya di sini, tapi mereka tetap menemani saya.




Tak butuh waktu lama, saya langsung menjatuhkan pilihan pada dua buku ini. Perikardia karya Dokter Gia Pratama, dan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini edisi spesial. Mungkin nanti akan saya tuliskan review dua buku ini di lain kesempatan.

*

Dari Gramedia, kami tak tahu lagi akan menuju ke mana. Maka, kami kembali ke lantai satu dan duduk mengobrol di bangku depan supermarket. Tak berapa lama, Mas Hilmy menyusul kakaknya ke toko pakaian.

Tinggallah saya berdua Mas Dito. Kami sempatkan membeli pereda dahaga di salah satu gerai minuman. Mas Dito juga membeli roti di supermarket itu.




Setelah itu, kami lanjut mengobrol. Tentang apa saja. Entah berapa lama, sampai akhirnya Almira menelepon saya. Rupanya yang lain sudah selesai berbelanja. Saya dan Mas Dito segera menyusul. Ternyata ada hikmahnya juga ke mal ini. Saya jadi mendapatkan dua buku ini. Hehehe.

*

Akhirnya pulang juga, pikir saya lega. Sudah tak sabar rasanya ingin menginjakkan kaki lagi di Villa Casa Lembang yang keren itu. Hahaha. Namun, teka-teki tentang maksud keberadaan sejumlah buku dan poster film populer di rumah itu masih belum terpecahkan.

Bagaimana perjalanan kami di Paris Van Java selanjutnya? Dan kira-kira siapakah pemilik Villa Casa Lembang ini? Tunggu di bagian selanjutnya.[]

4 Pebruari 2020
Adinda RD Kinasih

Sumber Gambar: dok. pribadi dan TripAdvisor.




loading...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama