Langsung ke konten utama

Empat Tanggal di Agustus (1)

Membuat balon besar itu meletus
Kenangan di dalamnya terhambur keluar
Berserak tak karuan
Lama ku duduk di bawah sana,
Memandanginya dengan banyak rasa
Mau tak mau, kupunguti satu-satu
Mau tak mau, kubaca lagi
Sontak, segala cerita masa lalu terputar kembali
Penuhi hati dan pikiran
Bawa sebentuk sesak, derai tawa, dan airmata
Kini mari, rangkai lagi segala kenangan itu
Lewat empat tanggal yang suguhkan rangkum senandung...


*




Kini masih sama dengan lima bulan lalu. Saya masih terlalu banyak berdiam di rumah, hanya jalani rutinitas yang sama. Bahkan mulai terbiasa melihat hubungan akhir pekan dan keluar rumah yang jadi makin renggang. Deretan kafe bersama segala jenis kopi, mari berjumpa di mimpi.

Tubuh terasa nyeri setiap pagi dan petang. Jenuh mendera hati dan pikiran. Terlebih ketika sadari bahwa bincang dengan mereka terjadi makin jarang. Ciptakan semacam sesak. Memenuhi dada. Timbulkan radang.

*

Selasa, 4 Agustus 2020. Angka delapan merapat di malam yang tak sedingin biasa. Senyum tergambar di wajah. Makin lebar saat serombongan lelaki itu muncul di panggung berlatar cahaya redup.

Sesaat kemudian, musik dimainkan. Suara khas sang vokalis pun terdengar. Suara ini telah menarik perhatian indera dengar saya sejak 2012, lewat promosi seorang kawan lama.

Kawan saya ini juga penyuka musik dan cukup sering meng-cover lagu. Namun bedanya, ia lebih sering mengulik lagu yang terbilang antimainstream. Salah satunya adalah lagu-lagu dari grup musik ini. Saat itu, ia memberi saya file mp3 dua lagu. Selamat Datang dan Sampai Waktunya Datang.

*

Bernama The Finest Tree, beranggotakan sepasang kakak-beradik. Elang dan Cakka Nuraga. Nama Cakka tidak asing buat saya, sebab 12 tahun lalu saya sering menonton aksinya di panggung Idola Cilik 2. Saat itu usianya masih sekitar 10 tahun.




Sebenarnya, saya cukup kaget dengan kualitas dan warna vokal Cakka saat ia beranjak remaja hingga sekarang. Terasa cukup berbeda dengan suaranya saat kecil dulu. Kini, suaranya jadi lebih merdu dan ada sedikit kemiripan dengan suara Duta Sheila on7, menurut telinga saya.

Tak jauh-jauh, rupanya produser mereka adalah gitaris Sheila on7, Eross Candra. Di album pertama dan kedua, beberapa lagu mereka merupakan ciptaan Eross. Selanjutnya, mereka lebih banyak merilis single.

Mereka sering pula mengisi acara konser off-air, juga acara musik on-air di televisi. Mereka pernah berkolaborasi dengan Sheila on7 juga Brisia Jodie, baru-baru ini.

*

Di tahun 2015, mereka tergabung dalam album kompilasi We Love Disney bersama sejumlah penyanyi lainnya. Mereka didapuk membawakan lagu tema dari film Tangled, I See The Light, dalam versi Bahasa Indonesia.




Di 2019, mereka merilis mini album bertajuk Tertujuh, dengan menyuguhkan dua lagu lama mereka yang diaransemen ulang, yakni Sampai Waktunya Datang dan Lupa Bawa Nyali.

Dirilisnya Membiru tahun ini menjadi penanda kembalinya mereka ke dunia musik, setelah sempat vakum beberapa waktu lalu. Saat itu, Cakka memang pamit sejenak untuk pergi ke Pakistan.

*

Kembali pada 4 Agustus. Para fans yang disebut Forester menyambut gembira, saat konser bertajuk Membiru ini tersiar langsung di YouTube. Wajar saja jika mereka antusias. Konser The Finest Tree jadi yang dirindukan, terlebih sejak adanya pandemi ini.




Sayang, saya lupa urutan lagunya. Tayangan streaming ini pun sempat beberapa kali terjeda cukup lama. Saya pikir, paket data saya yang habis, tapi ternyata memang koneksi mereka yang tersendat.

Walau begitu, senyum tak lelah tersungging di bibir saya. Senang rasanya bisa mendengar suara khas Cakka nyanyi live lagi. Apalagi saat sejumlah tembang favorit saya dimainkan. Seperti Melebur Beda, Lupa Bawa Nyali, Sampai Waktunya Datang, Sedikit Waktu, dan Namamu di Doaku.

*

Kabar gembiranya, konser ini akan ditayangkan ulang besok, pukul delapan malam. Masih di kanal YouTube yang sama.

Konser Membiru cukup berhasil kembalikan semangat saya lagi di tengah adaptasi atas situasi ini. Thanks for coming back, guys! Keep making many easy-listening songs![]

Hampir ujung Agustus 2020
Adinda RD Kinasih

Pictures said:
1. The Finest Tree
2. Cakka Nuraga
3. Elang Nuraga
4. Poster Konser Membiru
Source: Instagram @thefinesttree, @theforester_id, @cakkanuraga, @elangnuraga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama