Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Benda Mungil Penghantar Kenangan

Saya mengenalnya dari beranda media sosial ciptaan Mark Zuckerberg, kalau tidak salah sejak 2011 lalu. Semua berawal dari fan-fic (fan-fiction) yang dipostingnya secara berkala di beranda Facebook. Saya juga ikut ditandai dan menjadi pembaca karya-karyanya saat itu. Ada satu hal yang sama. Kami adalah penikmat karya musik Afgan. Dan fan-fic yang ditulisnya pun menggunakan Afgan sebagai tokoh utama. Hanya tokoh wanitanya saja yang berganti-ganti. Kadang Raisa, Sherina, Maudy Ayunda, Arlene Rainamira, Rossa, juga Isyana Sarasvati. Setiap postingannya selalu berbuah puluhan hingga ratusan like dan komentar. Lambat-laun, sejumlah Afganisme yang lain mengikuti jejaknya. Beranda Facebook pun dipadati fan-fic Afgan dalam berbagai kombinasi tokoh, tema, dan konflik. *** Dari sejumlah fan-fic yang ditulisnya, yang paling saya ingat adalah Sarasvati Jatuh Hati. Dari judulnya, sudah bisa tertebak bahwa tokoh utamanya adalah Afgan dan Isyana. Yang membuat fan-fic ini unik adalah latar dan alur

Merangkum Sepuluh Tahun Pada Sepuluh Mei

"...When I'm with you, I can feel so unbreakable..." -Westlife, Us Against The World Akhir duaribu tujuh. Mengenalmu saat masih berbalut seragam putih abu-abu, lewat selebaran ekstra kurikuler Jurnalistik yang markasnya dicat warna biru. Sejak itu, ada bincang yang terbuat dari siang selepas jam pulang; bersama pemandangan halaman sekolah yang lengang, juga bangku panjang berlapis porselen yang kosong. *** Kadang, bincang berlanjut dengan saling menyahuti kalimat di telepon. Tentang apa saja, termasuk kegemaran yang nyaris sama : menulis, buku, film, dan lagu. Terkadang, cerita keseharian dan keluarga ikut ditukar. Perihal rumus dan kosakata dari tumpukan tugas sekolah tak ketinggalan, masuk pula dalam bincang. *** Tukar buku pun acapkali dilakukan. Buku tulismu yang penuh tulisan bertinta biru sering kupinjam hingga lebih seminggu. Kamu pun hampir selalu membaca karya-karya yang kutulis dengan pensil itu; lalu membubuhkan sebaris-dua baris kalimat kritik dan saran di san

(Bukan) Andai di Blitar Ada Ojek Online

Jam menununjukkan angka 20.20, saat saya bersiap meninggalkan 'rumah kedua' saya yang berlokasi di Jalan Dr. Sutomo nomor dua. Ketika itu, ada kegelisahan menyergap benak. Mengingat, tak ada orang rumah yang bisa menjemput. Kak Fahri sudah pulang lebih dulu, demi sebuah urusan penting. Alfa Anisa juga sudah pamit, karena tak enak badan. Tinggal Irsyad dan Ryan yang tengah sibuk di depan laptopnya masing-masing. *** "Nanti tak anterin, Mbak. Tapi bisanya jam 10-an." ucapan Irsyad justru tak membuat saya lebih tenang. Teringat pesan Ayah untuk tak pulang terlalu malam, dan jam sepuluh? Ah...tidak. Jangan. Saya harus sampai di rumah sebelum jam sepuluh. Lagipula, Irsyad masih sibuk men-desain. Sudah terlalu sering saya merepotkan banyak orang. Saya pun mencoba mengontak adik, menanyakan jam pulangnya. Tapi kemudian saya ingat, besok dia juga ada ulangan di sekolahnya. Pikiran saya sempat kacau sesaat. Lalu bagaimana saya bisa pulang? Mbak Na yang sejak tadi sibuk di bali

Membuka Kembali Enam Tahun Merah Putih : Reuni Sekejap Mata di Ujung Pesta

The Big Day kali ini berawal dari sebuah pesan Whatsapp beberapa minggu yang lalu. Isinya sebuah undangan, dari Geby yang akan segera melepas masa lajang. Ini momen langka bagiku. The Big Day datang dua kali di rentang waktu yang berdekatan. *** Siang ini. Segera kuusaikan pekerjaanku. Aku memang sengaja meminta ijin pulang lebih awal, demi bisa ikut ambil bagian dalam Hari Besar kedua ini. Jam satu tepat, aku sudah siap. Karena menurut pesan Whatsapp-nya, Ade akan datang sekitar jam satu. Namun, hingga satu jam berikutnya, ia belum datang juga. Hah, baiklah. Ini tak ubahnya seperti tanggal 27 April lalu, saat kelambatanku membuat Ade dan Niko terpaksa menunggu setengah jam. Kini gantian aku yang harus menunggu, bahkan hingga satu setengah jam. *** Akhirnya, Ade tiba pukul setengah tiga. Dalam langkahku menuju teras, ada yang asing di pandangan. Siapa gerangan gadis yang berdiri di muka pintu, dengan rok batik hijau yang senada kemeja Ade itu? Saat langkahku lebih dekat, bukannya menya

Teruntuk Lelaki Bernama Fanny

Aku sedikit lupa, sejak kapan tepatnya ada kata "teman" diantara kita Yang pasti, masa kanak-kanak berseragam merah putih jadi saksi jumpa pertama Saat hidup belum jadi seserius ini 'tuk dilihat dan dipikirkan Kini kita hanya bisa bertemu pada maya Sebab, kota kecil ini sangat jarang kamu sapa Tapi, cerita tetap tak alpa untuk dibagi, Perihal apa saja. Kamu, yang gemar berkawan monitor dan papan keyboard seharian Menjadikan kacamata itu setia bertengger di pangkal hidung. Kamu, yang asyik menelisik segala novel bertema ajaib Yang acapkali kusebut Fantasi, Hingga berhasil menulariku, dan aku pun kini kecanduan pula akannya Kamu, penggemar bulutangkis dan futsal Juga pendengar segala jenis musik, Dari yang cadas hingga shalawat, Dari yang berbahasa Jepang, hingga yang benuansa barat Teruntuk lelaki bernama (tengah) Fanny, yang kadang bisa jadi jenaka sesuai namanya Terimakasih untuk telah membagi kelumit cerita dan tawa itu denganku Selamat mengenang tanggal lahirmu, di uj

Kenangan yang Diputar Ulang di Hari Lahir

Kami adalah sahabat sejak TK. Saya ingat, dulu dia berambut panjang, meski pribadinya sedikit tomboi. Ayahnya seorang pelatih renang, dan ibunya bidan. Hingga SD, kami pun masuk ke sekolah dan kelas yang sama. Ada  lebih banyak lagi kenangan yang tertoreh di masa ini. Kami sering saling mengunjungi satu sama lain, berbagi bekal, juga bermain bersama. Yang paling sering kami mainkan saat itu adalah rumah-rumahan, yang dibuat dari gabungan alat tulis. Orang-orangannya adalah Hello Kitty mini yang memang sengaja kami bawa ke sekolah. Hehehe. *** Ada satu kejadian unik yang pernah kami alami bersama. Saat pelajaran IPS, rupanya ada tiga siswa yang mendapat nilai terendah. Dua diantaranya adalah saya dan dia. Kami pun dihukum. Dia dan satu teman saya yang lain menyapu ruang kelas, sementara saya menyapu ruang kepala sekolah! Huufft...untung saja saat itu Ibu Kepala Sekolah sedang tidak ada. *** Tak hanya itu, minat musik kami pun hampir sama. Salah satu grup band yang booming pada saat itu

Menoreh Kenangan di 13 Maret

Kita telah lama jauh di mata Terpisah jarak. Aku masih di sini, di kota kecil, Yang pernah jadi latar cerita masa kecil kita Adakah kamu ingat? Saat tangis seorang gadis kecil terdengar siang itu, Di tepi jembatan sebuah Taman Kanak-Kanak Kotak bekalnya hanyut, dan itu buatnya takut Enggan pulang, ingin bersembunyi dari ibunya. Lalu kamu, Dengan ringan menggamit lengan gadis cilik itu Mengajaknya singgah di rumahmu. Sepanjang siang hingga sore, kamu coba segala cara untuk membuatnya tertawa Dan kamu berhasil. # Sejak saat itu, ada aku dan kamu yang menjadi kita Berbagi banyak tawa, lara, bahkan sempat saling bertukar amarah Tapi satu hal. Ada satu yang selalu kita ingat. Sebuah hari lahir. Aku selalu ingat hari ini, Sebagaimana kamu yang tak pernah lupa bulan dan tanggal lahirku. Meski, tahunan sudah kini kita tak bertemu. Ini 13 Maret-mu. 25 tahunmu. Walau jarak kita terlampau jauh, Tapi di hatiku kamu masih riuh Begitu pula doaku, yang selalu berlagu. Semoga langit berkenan pertemuka

Herr Der Diebe : Berpetualang bersama Pangeran Pencuri

Identitas Buku Judul                   : Herr Der Diebe (Pangeran Pencuri) Penulis                : Cornelia Funke Alih Bahasa      : Hendarto Setiadi Tebal Buku        : 426 halaman Cetakan Kedua : 2011 ISBN                   : 978-979-22-6883-6 Penerbit             : Gramedia Pustaka Utama Jangan lagi bertanya di mana saya menemukan buku ini, karena jawabannya masih sama. Sore itu-dua minggu yang lalu, seperti biasa, saya mampir ke Philokoffie sepulang rutinan FLP di Perpustakaan Bung Karno. Kafe mungil di Jalan Dr. Sutomo ini memang sudah seperti rumah kedua buat saya. Sebenarnya, buku ber- cover anak laki-laki bertopeng ini sudah lama saya lihat di rak buku Philokoffie. Namun, baru kali itu saya penasaran dengan kisahnya. *** Berawal dari kisah Prosper dan Bo, sepasang kakak beradik asal Inggris, yang melarikan diri ke Venezia, Italia, demi terhindar dari rencana bibinya untuk mengadopsi Bo, dan memasukkan Prosper ke asrama. Di Venezia, mereka ditolong oleh sekawanan pencuri cilik