Langsung ke konten utama

(Bukan) Andai di Blitar Ada Ojek Online

Jam menununjukkan angka 20.20, saat saya bersiap meninggalkan 'rumah kedua' saya yang berlokasi di Jalan Dr. Sutomo nomor dua. Ketika itu, ada kegelisahan menyergap benak. Mengingat, tak ada orang rumah yang bisa menjemput.

Kak Fahri sudah pulang lebih dulu, demi sebuah urusan penting. Alfa Anisa juga sudah pamit, karena tak enak badan. Tinggal Irsyad dan Ryan yang tengah sibuk di depan laptopnya masing-masing.

***

"Nanti tak anterin, Mbak. Tapi bisanya jam 10-an." ucapan Irsyad justru tak membuat saya lebih tenang. Teringat pesan Ayah untuk tak pulang terlalu malam, dan jam sepuluh? Ah...tidak. Jangan. Saya harus sampai di rumah sebelum jam sepuluh. Lagipula, Irsyad masih sibuk men-desain. Sudah terlalu sering saya merepotkan banyak orang.

Saya pun mencoba mengontak adik, menanyakan jam pulangnya. Tapi kemudian saya ingat, besok dia juga ada ulangan di sekolahnya. Pikiran saya sempat kacau sesaat. Lalu bagaimana saya bisa pulang?

Mbak Na yang sejak tadi sibuk di balik meja kopinya, perlahan menghampiri saya. Dia pun keheranan, mengapa saya belum pulang. Saya hanya menjawab, akan diantar Irsyad nanti. Saya tahu, Mbak Na masih sibuk.

***

Tiba-tiba, muncul ide iseng di pikiran saya. Segera saya buka Google, dan mengetikkan "ojek online blitar" di sana. Muncul beberapa pilihan. Tanpa pikir panjang, saya meng-klik salah satu laman fanpage.

Sebuah fanpage terbuka kemudian. Saya langsung menekan tombol Call Now yang tertera di laman. Deret nomor langsung berpindah ke menu telepon di ponsel. Lalu, langsung saya masukkan ke daftar kontak, dan saya cari di WhatsApp. Ternyata ada.

***

Senyum saya terkembang sebentar. Segera saya hubungi nomor tersebut lewat WhatsApp. Hingga lima menit, belum ada jawaban. Wah, jangan-jangan hoax nih, pikir saya. Sepertinya malam ini akan benar-benar pulang jam sepuluh.

Tapi kemudian, ada balasan dari Mas Ojek. Menanyakan dari mana-ke mana dan sedikit petunjuk jalan. Saya mengetik jawaban dengan cepat, seolah takut Mas Ojek akan menganggap saya tidak serius.

Lucunya, justru saya yang menanyai, apakah ini betul ojek online. Mas Ojek membenarkan, sambil menambahi bahwa ia baru saja mengantar pelanggan ke Wlingi. Hah, baiklah. Saya lega sekarang, hehehe. Tak lupa, saya tanyakan pula ongkosnya. Dia menjawab, limabelas ribu rupiah.

***

"Tunggu sebentar ya, Mbak. Saya menuju ke sana." Begitu jawaban Mas Ojek yang sedikit membuat saya cemas. Semoga dia bisa menemukan lokasi Philokoffie.

Jam sembilan kurang, seorang lelaki bertubuh gempal tiba, dengan helm, jaket, dan motor berwarna hitam. Oh, inikah Mas Ojek-nya? Hmm...baiklah. Saya pun berpamitan pada Irsyad dan Ryan, juga Mas Kharis yang saat itu juga ada di luar.

***

Syukurlah, saya bisa naik ke motor, meski harus dari depan. Karena dari belakang ternyata cukup sulit. Kaki saya memang pegal sejak siang tadi.

Dan kemudian, saatnya pulang! Sepanjang jalan, saya sedikit tak percaya, bahwa saat ini saya naik ojek online. Rasanya seperti di sinetron OK-Jek saja. Hahaha...

Sempat pula saya dan Mas Ojek bertukar cakap. Ternyata, ojek online yang bernama B-Jek ini sudah ada sejak dua tahun lalu. Oh ya? Ke mana saja saya, hingga tidak tahu bahwa Blitar pun kini punya ojek online? Wah, ternyata saya kudet juga. Hahaha....

***

Akhirnya, motor pun berhenti di depan pagar rumah. Saya turun dari depan, membayar ongkos, dan mengembalikan helm. Mas Ojek pun berlalu. Ayah yang saat itu ada di halaman memandang dengan heran. Sedang saya malah tersenyum lebar.

Ya, berarti, apa yang saya tulis di blog ini setahun lalu* kini telah terwujud. Saya termasuk yang sangat gembira dengan adanya layanan ojek online di kota ini. Dan seperti yang sudah pernah saya tuliskan, jika ada ojek online di Blitar, saya akan menjadi salah satu pelanggan setianya.

***

Terimakasih untuk keadaan malam ini, yang membuat saya mendadak "agak kreatif" dan jadi berani pulang sendiri naik ojek. Hehehe.

Terimakasih juga untuk para Sahabat di FLP Blitar. Karena sejak bertemu kalian-lah saya jadi (masih) sedikit lebih mandiri.

Terimakasih juga untuk Mas Ojek yang lupa saya tanyai namanya. Sepertinya saya akan sering meng-order ojeknya nih, Mas. Hehehe.

Jadi, kalau sekarang ingin ke Philokoffie kapan saja jadi mudah, kan? #Eeeh... 😁😁😁[]

*dapat dibaca di : http://dharakinasih.blogspot.co.id/2016/07/andai-di-blitar-ada-ojek-online.html?m=1

Gambar diambil dari Fanpage B-Jek Blitar Ojek

Blitar, 14 Mei 2017
Adinda RD Kinasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama