Langsung ke konten utama

Membuka Kembali Enam Tahun Merah Putih : Reuni Sekejap Mata di Ujung Pesta

The Big Day kali ini berawal dari sebuah pesan Whatsapp beberapa minggu yang lalu. Isinya sebuah undangan, dari Geby yang akan segera melepas masa lajang. Ini momen langka bagiku. The Big Day datang dua kali di rentang waktu yang berdekatan.

***

Siang ini. Segera kuusaikan pekerjaanku. Aku memang sengaja meminta ijin pulang lebih awal, demi bisa ikut ambil bagian dalam Hari Besar kedua ini. Jam satu tepat, aku sudah siap. Karena menurut pesan Whatsapp-nya, Ade akan datang sekitar jam satu.

Namun, hingga satu jam berikutnya, ia belum datang juga. Hah, baiklah. Ini tak ubahnya seperti tanggal 27 April lalu, saat kelambatanku membuat Ade dan Niko terpaksa menunggu setengah jam. Kini gantian aku yang harus menunggu, bahkan hingga satu setengah jam.

***

Akhirnya, Ade tiba pukul setengah tiga. Dalam langkahku menuju teras, ada yang asing di pandangan. Siapa gerangan gadis yang berdiri di muka pintu, dengan rok batik hijau yang senada kemeja Ade itu?

Saat langkahku lebih dekat, bukannya menyapa, aku malah diam saja. Ya, aku kaget. Terlalu kaget, hingga tak mampu berkata-kata. Tak kusangka gadis manis itu akan benar-benar datang ke sini hari ini.

Setelah beberapa saat terdiam, ada sepatah-dua patah sapa yang kulontarkan. Gadis bernama lengkap Ratih Puspitasari Yasika itu menanggapi dengan ramah dan senyum lebar.

***

Setelah memakai sepatu, kami menuju minibus silver yang telah menunggu. Aku duduk di jok tengah, sedang Ade di balik kemudi. Bukannya duduk di samping Ade, Ratih malah mengambil tempat di sebelahku.

Ternyata, Ratih datang langsung dari Malang demi bisa menghadiri acara hari ini. Tadi Ade menjemputnya lebih dulu di stasiun. Ah, rupanya begitu. Sepanjang jalan, aku cukup banyak menanyai Ratih. Seputar kuliahnya, yang kini sudah hampir selesai, juga tempat tinggalnya di Tulungagung. Ternyata Ratih sendiri malah jarang pulang ke Tulungagung. Setiap akhir pekannya sering dihabiskan di Blitar, seperti hari ini.

***

Kami tak langsung menuju ke rumah Geby, tapi justru kembali ke rumah Ade di kawasan Garum. Tahukah mengapa? Hanya demi sepasang sandal! Ya, Ade rela jauh-jauh pulang, untuk menukar sandalnya. Ada-ada saja. Tapi tak apa-apa bagiku, malah bisa sekalian jalan-jalan, hahaha...

Usai menjemput sepasang sandal yang tertukar, kami segera meluncur ke rumah Geby di Jalan Tengger. Sama seperti saat ke rumah Pipit minggu lalu, kami harus berjalan agak jauh dari tempat parkir. Ini sudah hampir jam tiga. Untung saja sepasang pengantin masih berada di pelaminan. Ternyata, Pipit juga sudah tiba di sana bersama Mas Bagus.

Segera saja, usai bersalaman dengan beberapa penerima tamu, kami pun menyalami Geby dan Novia, juga kedua orangtua mereka. Tak lupa, kami juga mengabadikan gaya dalam beberapa jepretan.

***

Saat kami tengah asyik menikmati hidangan, pasangan pengantin meninggalkan pelaminan. Ya, acara resepsi memang sudah usai. Kami datang tepat di ujung pesta. Untung saja masih kebagian foto bareng dengan Geby dan Novia.

Setelah menandaskan makanan dan meneguk habis jus jambu, aku dan Ratih mengajak Ade beranjak dari sana. Ade pun mengiyakan tanpa pikir panjang, karena dia juga tak punya teman ngobrol. Pipit dan Mas Bagus sudah pulang lebih dulu. Sahabat Merah Putih yang lain pun tak nampak hadir di sana.

***

Mobil langsung menuju ke rumahku. Kali ini Ratih duduk bersebelahan dengan Ade. Dalam perjalanan, kami menyempatkan diri berfoto bersama.

Jika dalam catatan sebelumnya kusebut reuni singkat, rupanya kali ini reuninya lebih singkat lagi. Hanya sekejap mata.

Ade dan Ratih menyempatkan mampir sebentar saat sampai di rumahku. Setelah melanjutkan ngobrol sejenak, mereka mohon diri.

***

Baiklah. Meski sedikit kecewa tersebab reuni yang terlalu singkat ini, aku tetap bersyukur karena masih bisa bertemu kalian, Sahabat Merah Putih. Mungkin nanti kita akan semakin jarang, atau mungkin takkan lagi bisa bertemu lagi karena kesibukan masing-masing.

Terimakasih Ade dan Ratih, untuk telah mengisi Big Day kali ini. Maafkan jika aku banyak merepotkan. Dan Ratih, maaf juga karena mungkin telah membuatmu kaget dengan gaya bicaraku yang cablak ini, hehehe. Sukses untuk persiapan wisudanya, ya. Terimakasih juga Pipit dan Mas Bagus untuk telah ikut mewarnai hari ini.

Dan tak lupa, selamat menempuh hidup baru untuk Aggeby dan Novia. Semoga bahagia selalu. Terimakasih untuk telah turut mengundang kami dalam pesta kalian.[]

Sampai kapan pun, Sahabat,

...semoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan...

-Sheila on 7, Sebuah Kisah Klasik

6 Mei 2017
Adinda RD Kinasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama