Langsung ke konten utama

Benda Mungil Penghantar Kenangan

Saya mengenalnya dari beranda media sosial ciptaan Mark Zuckerberg, kalau tidak salah sejak 2011 lalu. Semua berawal dari fan-fic (fan-fiction) yang dipostingnya secara berkala di beranda Facebook. Saya juga ikut ditandai dan menjadi pembaca karya-karyanya saat itu.

Ada satu hal yang sama. Kami adalah penikmat karya musik Afgan. Dan fan-fic yang ditulisnya pun menggunakan Afgan sebagai tokoh utama. Hanya tokoh wanitanya saja yang berganti-ganti. Kadang Raisa, Sherina, Maudy Ayunda, Arlene Rainamira, Rossa, juga Isyana Sarasvati. Setiap postingannya selalu berbuah puluhan hingga ratusan like dan komentar.

Lambat-laun, sejumlah Afganisme yang lain mengikuti jejaknya. Beranda Facebook pun dipadati fan-fic Afgan dalam berbagai kombinasi tokoh, tema, dan konflik.

***

Dari sejumlah fan-fic yang ditulisnya, yang paling saya ingat adalah Sarasvati Jatuh Hati. Dari judulnya, sudah bisa tertebak bahwa tokoh utamanya adalah Afgan dan Isyana.

Yang membuat fan-fic ini unik adalah latar dan alurnya. Diceritakan, di sebuah kerajaan tinggallah Putri Sarasvati, yang pandai berkuda dan pemberani. Pertemuannya yang tak disengaja dengan Pangeran Afgan dari negeri tetangga mengubah hidupnya.

Buat saya, tema ini berbeda dari sekian banyak fan-fic Afganisme lain yang berlatar kampus dan SMA. Gaya bahasanya pun asyik diikuti, dan bikin ketagihan. Membuat saya tak ingin melewatkan lanjutan kisahnya.

***

Selain Afgan dan perkembangan musikalitasnya, kami juga sering berbincang soal buku dan film. Kadang kami juga berdiskusi tentang karya masing-masing. Yang saya kagumi dari dia adalah kemampuannya untuk menemukan tema-tema yang unik.

Di sela-sela bincang itu, saya sempat meminta foto diri dan nomor ponselnya. Namun, ia tak kunjung memberikannya pada saya. Alasannya, dia belum siap. Saya sempat heran dengan hal itu, tapi kemudian saya mencoba mengerti.

***

Tiba-tiba, sebuah kejutan hadir pada akhir Januari tahun lalu. Darinya, gadis Klaten itu. Kejutan dibawa oleh lelaki berseragam oranye, terbungkus amplop putih berukuran sedang.

Saat saya buka, isinya sebuah flashdisk hitam. Ada campuran rasa dalam benak. Kaget, senang, juga heran. Ada apa dengan benda mungil satu ini?

"Dinda, di flashdisk itu ada video-video Afgan yang kukumpulkan selama ini. Kamu simpan ya. Kalau suatu saat nanti aku sudah nggak jadi Afganisme lagi, paling nggak aku sudah ninggalin kumpulan video itu di kamu."

Membacanya di kolom komentar Facebook, hati saya gerimis. Sungguh, saya tak menyangka akan mendapatkan ini, bahkan dari seseorang yang belum terlalu lama mengenal dan belum pernah bertemu langsung. Benda mungil itu berarti besar untuk saya.

***

Pertengahan tahun 2016 mungkin adalah kali terakhir saya bertukar kabar dengannya. Beberapa waktu sebelumnya, ia memang sempat berkata akan berhenti menulis fan-fic dan me-nonaktif-kan Facebooknya. Tentu saja saya mencegah. Bagi saya, dia berbakat, dan sayang sekali jika harus berhenti menulis.

Namun, sepertinya itulah keputusan yang tak bisa diubah lagi. Yang saya ingat, perbincangan terakhir kami adalah seputar S|DES, album terbaru Afgan. Saat itu, kami sempat menganalisa beberapa lagu baru dan aransemen yang ada di album tersebut.

***

Setelah itu, saya benar-benar kehilangan kontak dengannya. Akun Facebook-nya sudah hilang dari peredaran. Blog-nya juga. Saya tak bisa mengecek di sosial media yang lain, seperti Whatsapp dan Instagram, karena saya tak punya nomor ponselnya dan akun Instagram.

Hanya tinggal flashdisk hitam ini yang menjadi penanda saya pernah mengenalnya. Seorang gadis bernama Lulu Arbi yang jago "menyulap" Afgan menjadi pemuda desa hingga pangeran berkuda dalam setiap fan fiction-nya.

***

Lulu, di mana pun kamu saat ini, semoga sehat selalu. Dan saya selalu berharap kamu masih tetap menulis. Don't stop writing!

Satu lagi, terimakasih untuk pernah mewarnai beranda Facebook saya dengan tulisan-tulisanmu. Terimakasih juga untuk benda mungil hitam ini. Kini ia tak hanya jadi pengobat rindu, tapi juga penghantar kenangan.[]

29 Mei 2017

NB. Kisah Si Benda Mungil selengkapnya dapat dibaca di http://dharakinasih.blogspot.co.id/2016/01/benda-mungil-pengobat-rindu.html?m=1

Komentar

  1. Thank you so much Din ... Nangis aku baca ini. Thank youuuu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama