Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Kangen Kopi Philokoffie

Seusai rutinan kemarin, saya menyempatkan diri mampir ke Philokoffie. Kebetulan, Mas Kharis sudah ada di sana pada jam empat sore itu. Ternyata, ia memang bermalam di kedai. Meski kini Philokoffie tak lagi sama, ternyata masih ada yang tak tergantikan. Ialah rindu pada racikan kopinya. Sore itu, kedai nampak sedikit berantakan. Mungkin memang karena belum masuk jam buka. Saya segera masuk dan berdiri di depan meja kopi. Sejenak mengamati beberapa toples berisi biji kopi. Saya agak heran saat membaca nama Kopi Carlos honey drew. Ini biji kopi varian baru dari luar negerikah, begitu tanya saya yang dibalas tawa oleh Mas Kharis. Saya pun tertawa lebih nyaring saat mengetahui apa yang tersembunyi di balik nama itu. Rupanya Carlos itu singkatan dari Karangploso, sebuah kawasan di Malang. Walah, saya kira ini kopi dari luar negeri. Saya pun memesannya. Mas Kharis menanyakan, ingin dibuat dengan metode apa. Saya, yang buta teknik meracik kopi pasrah saja. Yang paling cocok menurut Mas, begitu

Cerita Akhir Pekan (4-habis)

Mari sejenak kembali pada dering telepon yang membuat saya penasaran dan ingin segera pulang. Rupanya itu dari Pak Pos. Dan kabar yang disampaikannya seketika membuat hati saya berdesir, hehehe. *** Beberapa waktu lalu, Whatsapp saya kedatangan sebuah pesan. Isinya sederhana, hanya sebuah kalimat tanya. Penawaran, tepatnya. Yang lagi-lagi membuat saya bimbang. Ingin mengiyakan, tapi tak enak. Ingin menolak, tapi sayang. Eh, bercanda. Hehehe. Tapi saya putuskan memilih jawaban kedua. Tidak. Tidak lagi kali ini. Sudah cukup tahun lalu saja. *** Ya, ini sebuah catatan untuk Ana, lagi. Dan masih gara-gara Afgan, tentu saja. Apalagi, jika bukan sebuah album barunya yang bertajuk DEKADE . Dan tiba-tiba, pesan Ana muncul, menawari saya album itu. Lagi. Awalnya saya menolak. Tapi dengan bujukan sedemikian rupa, Ana berhasil mengubah pikiran saya. Saya pun setuju dia mengirimi kaset itu, asal biayanya saya ganti. Tapi Ana mengelak. Sedangkan saya bersikukuh pada pendapat itu. Hingga akhirnya de

Cerita Akhir Pekan (3)

Rupanya, memesan Grab tak semudah yang dikira. Padahal, saya sudah duduk di teras kafe. Namun sinyal tak juga membaik. Ada lagi kendalanya, ponsel saya tak bisa tersambung ke WiFi di kafe itu. Entah kenapa. Saya duduk di teras hanya bersama Ara. Mbak Faridha pamit pulang untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Saya berkali-kali mengakses aplikasi Grab, tapi gagal. Koneksi kurang baik, begitu keterangan yang tertulis di layar. *** Tiba-tiba, saya teringat Ade, salah satu Sahabat Merah Putih. Saya tahu, ia kini juga bergabung dengan Grab Car. Tapi, ia lebih sering menerima orderan keluar kota. Saya nekat menghubunginya, meski saya tak yakin apakah ia sedang berada di Blitar. "Kamu lagi di mana, De?" begitu tanya saya usai mendengar jawaban salam Ade. Dia menyebut salah satu kawasan di Blitar. Rupanya dia sedang berkumpul dengan teman-temannya. Saya pun menjelaskan kendala yang saya alami. Inginnya saya mengorder Grab Car Ade. Tapi Ade berkata, ia sedang tak membawa mobil kali

Cerita Akhir Pekan (2)

Perlahan saya menepuk bahu gadis berjilbab hitam yang duduk sendirian di salah satu bangku di teras. Dia menoleh dan mengulas senyum, namun kemudian terkejut menatap saya yang kebasahan. Segera ia mengajak saya masuk. Hari ini memang saya niatkan untuk bertemu dan berbagi sedikit kegembiraan untuknya. Gadis ini bernama Fitria Rahmawati, yang saya sapa Ara. Entahlah, bagi saya nama itu mudah diingat dan dilafalkan. *** Saya dan Ara segera bertukar cerita, diiringi derai hujan di luar. Dua cangkir berisi moccachino latte dan tiramisu latte ada di hadapan kami, ikut menemani. Tak lupa, saya sodorkan "hadiah" sederhana yang saya bawa. Seketika mata Ara berbinar saat membukanya. Dia bilang, beberapa hari lalu ia menginginkan jajanan ini. Saya turut tersenyum. Syukurlah jika Ara menyukainya. *** Kini giliran mata saya yang membelalak. Saat Ara mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Sebuah karya Fiersa Besari bertajuk Catatan Juang. Wah. Seketika saya heboh ingin berfoto bersama bu

Cerita Akhir Pekan (1)

Sepulang kerja, saya sudah bersiap di depan rumah demi menanti driver Grab yang sudah saya pesan. Hari ini memang agak berbeda. Saya akan menuju salah satu kafe di kota Blitar. Demi penuhi janji yang telah disepakati beberapa hari sebelumnya. Namun rupanya, sang driver mengirim satu pesan baru ke aplikasi saya. Berkata bahwa ban motornya bocor, dan ia akan mencarikan driver lain. Saya segera membalas, dan memintanya agar cepat. *** Resah melingkupi batin saya, melihat kelabu yang telah menggantungi langit. Bagaimana ini? Di mana driver lain itu? Kecemasan saya bertambah saat Fitriara bilang dia telah sampai di kafe tersebut. Tidak bisa. Saya tak bisa menunggu lagi. Tanpa pikir panjang, segera saya buka Whatsapp dan menghubungi Mas Bayu, seorang driver Grab yang kebetulan saya simpan nomornya. Saya minta tolong diantar ke tujuan, lengkap dengan alasannya. *** Sekadar info, Mas Bayu ini pernah mengantar saya ke Perpustakaan Bung Karno hari Ahad lalu. Siapa sangka, ternyata profesiny

Membuka Kembali Enam Tahun Merah Putih : Kejutan Akhir Pekan

Makan siang yang terlambat baru saja tandas, saat bunyi bel terdengar dari luar. Ya, saya memang baru pulang dari pertemuan rutin komunitas menulis di Perpustakaan Bung Karno. Terimakasih untuk layanan ojek berbasis aplikasi yang telah hadir di kota ini. Mobilitas saya jadi makin mudah kini. Tapi bukan itu inti catatan hari ini. Mari kembali ke bunyi bel di muka pintu ruang tamu. Siapa yang sore-sore begini berkunjung, pikir saya. Ah, mungkin teman Ayah. *** Segera saya ayun langkah dan membuka pintu ruang tamu. Tampak seorang perempuan manis berkacamata, berdiri di salah satu anak tangga. Siapa ini? Apakah salah satu teman Adik? Baru saja akan berbalik masuk untuk memanggil adik saya, tiba-tiba memori saya memunculkan satu nama. Hah, benarkah? Sejenak seisi pikiran dipenuhi penasaran. Lalu langsung saja, "Kamu Dewi ya?" Yang segera disusul tawa geli. Ternyata benar. Dia salah satu Sahabat Merah Putih-mungkin yang paling lama tidak bertemu. Kejutan! Teringat pesan Whatsapp sa

Meniti Garis Waktu bersama Fiersa Besari

Judul             : Garis Waktu Penulis           : Fiersa Besari Tahun Terbit : 2017 Cetakan ke   : 7 Tebal Buku    : 211 halaman Penerbit        : mediakita Jakarta "Pengagummu akan pergi setelah kau tak sesuai lagi dengan imajinasinya, tapi orang yang menyayangimu akan tetap tinggal, betapa pun buruknya dirimu. Dan diterima apa adanya tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain, itu indah." -Garis Waktu (29) Entah kapan tepatnya saya menemukan buku ini; ah bukan. Tepatnya adik saya yang menyodorkan buku ini pada saya sambil mengira-ngira ini bagus atau tidak. Saya sejenak membaca sekelumit alinea di sampul belakang. Dan kemudian buku ini pun ada di genggaman. Sebenarnya, awalnya saya tak tertarik membaca jenis buku seperti ini. Novel bukan, kumpulan cerpen pun bukan. Tak tahu apa istilah tepatnya. Mungkin penggalan cerita yang dirangkai dan dikumpulkan jadi satu; tapi bukan cerpen. Tapi kemudian, saya mulai penasaran dengan isinya, setelah saya 'tertipu' dengan na