Langsung ke konten utama

Cerita Akhir Pekan (3)

Rupanya, memesan Grab tak semudah yang dikira. Padahal, saya sudah duduk di teras kafe. Namun sinyal tak juga membaik. Ada lagi kendalanya, ponsel saya tak bisa tersambung ke WiFi di kafe itu. Entah kenapa.

Saya duduk di teras hanya bersama Ara. Mbak Faridha pamit pulang untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Saya berkali-kali mengakses aplikasi Grab, tapi gagal. Koneksi kurang baik, begitu keterangan yang tertulis di layar.

***

Tiba-tiba, saya teringat Ade, salah satu Sahabat Merah Putih. Saya tahu, ia kini juga bergabung dengan Grab Car. Tapi, ia lebih sering menerima orderan keluar kota.

Saya nekat menghubunginya, meski saya tak yakin apakah ia sedang berada di Blitar.

"Kamu lagi di mana, De?" begitu tanya saya usai mendengar jawaban salam Ade. Dia menyebut salah satu kawasan di Blitar. Rupanya dia sedang berkumpul dengan teman-temannya.

Saya pun menjelaskan kendala yang saya alami. Inginnya saya mengorder Grab Car Ade. Tapi Ade berkata, ia sedang tak membawa mobil kali ini.

***

Baiklah. Saya akhiri percakapan dengan agak kecewa. Kebingungan kembali melingkupi benak saya. Saya coba membuka aplikasi Grab di ponsel, tapi hasilnya nihil.

Tak habis ide, saya coba mengontak Mas Bayu lagi lewat Whatsapp. Sebenarnya tak enak juga kalau meminta tolong lagi, tapi apa boleh buat.

Namun kali ini situasi tak bersahabat dengan saya. Mas Bayu tak kunjung membaca pesan itu. Saya maklum, mungkin Mas Bayu tengah beristirahat. Apalagi ia baru saja didera hujan.

***

Saya pun mencoba menghubungi nomor driver Grab lain yang tersimpan di kontak ponsel. Driver yang belum saya tahu namanya itu membalas dalam waktu tak terlalu lama. Sayang sekali, dia sedang off hari ini.

Aduh, bagaimana ini? Saya benar-benar bingung. Ara pun ikut cemas melihat wajah saya yang kusut.

***

Akhirnya, berbekal kenekatan yang sama dan sedikit sungkan, saya menelepon Ade lagi. Dengan cepat saya bercerita tentang kegagalan saya memesan Grab hari ini. Dengan hati-hati, saya menanyainya, apakah Ade bisa menuju kafe dan mengantar saya pulang.

Di luar dugaan, Ade menyanggupi. Ah, saya lega, namun rasa tak enak muncul lebih banyak di benak. Hari ini saya mengacaukan agenda beberapa orang, termasuk Ade.

***

Beberapa saat kemudian, sebuah motor matic menepi di pinggir halaman kafe, bersamaan dengan saya yang menghentikan langkah.

Sang pengendara yang berjaket merah dan berkacamata itu langsung saya kenali sebagai Ade. Segera saya naik ke boncengan. Dan motor pun melaju, setelah bertukar pamit dengan Ara dan Mbak Faridha.

***

Sepanjang jalan, saya tak henti meminta maaf, karena ulah saya merusak agenda Ade. Ade tertawa.

"Udah, santai ae lah Din! Koyok sama siapa, ae!"

Tanggapnya dengan gaya bicara ceplas-ceplos itu. Beragam argumen yang saya lontarkan pun dijawab tawa oleh lelaki yang saya juluki Matahari ini.

Tak lupa, saya menanyai kabarnya, juga kabar ibunya. Syukurlah, kondisi ibunya kini stabil. Semoga selalu dan semakin sehat.

Ade juga bercerita, bahwa selain nge-Grab, ia juga menjalankan beberapa usaha lain. Salah satunya usaha percetakan yang dibuka di kawasan Garum.

Ade pun menuntaskan keingintahuannya atas pertemuan saya dengan Dewi beberapa hari lalu. Saya menjelaskan singkat.

***

Tiba-tiba, Ade memperlambat laju motornya saat melintasi areal pemakaman di kawasan Kauman. Sembari berujar, "Din, kamu bakal tak anter sampai rumah, asal ada syaratnya."

Saya sejenak heran, dan bertanya apa syarat yang ia maksud.

"Aku nggak mau terima uangmu." jawaban itu sontak mengejutkan saya. Saya segera mengelak, karena saya meminta tolong padanya atas nama Grab.

"Ya sudah, aku berhenti di sini ya!" kini Ade bersiap memberhentikan motornya di depan makam itu. "Oh ya, satu lagi. Nomor WA kamu tak blok, dan kamu nggak usah kenal aku lagi!"

***

Waduh! Syarat macam apa ini? Tidak bisa! Dengan berat hati, saya pun mengiyakan. Tapi saya pun punya satu permintaan untuknya, yakni mampir sebentar ke rumah sebagai ganti biaya perjalanan. Tapi Ade menolak, dengan alasan ia sudah ditunggu teman-temannya.

Hingga motor itu berhenti di halaman rumah saya, Ade tetap kukuh pada keputusannya. Buru-buru ia mohon diri.

***

Ah, terimakasih banyak, De. Maafkan jika saya telah mengganggu kesibukan akhir pekanmu. Maafkan sudah merepotkanmu. Saya harap kamu bisa menyempatkan diri mampir ke rumah di lain hari. Tetap semangat ya! Semoga semua usahamu dilancarkan. Salam saya untuk kedua orangtua dan adik-adikmu.

Oh ya, saya punya satu ungkapan yang pas untukmu. What you get is what you give. Saya tak bisa membalas apapun. Hanya Allaah pemberi balasan terbaik. Satu lagi, having you as one of my best friend is really a blessing.

Terimakasih banyak.[]

Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama