Langsung ke konten utama

Cerita Akhir Pekan (2)

Perlahan saya menepuk bahu gadis berjilbab hitam yang duduk sendirian di salah satu bangku di teras. Dia menoleh dan mengulas senyum, namun kemudian terkejut menatap saya yang kebasahan. Segera ia mengajak saya masuk.

Hari ini memang saya niatkan untuk bertemu dan berbagi sedikit kegembiraan untuknya. Gadis ini bernama Fitria Rahmawati, yang saya sapa Ara. Entahlah, bagi saya nama itu mudah diingat dan dilafalkan.

***

Saya dan Ara segera bertukar cerita, diiringi derai hujan di luar. Dua cangkir berisi moccachino latte dan tiramisu latte ada di hadapan kami, ikut menemani.

Tak lupa, saya sodorkan "hadiah" sederhana yang saya bawa. Seketika mata Ara berbinar saat membukanya. Dia bilang, beberapa hari lalu ia menginginkan jajanan ini.
Saya turut tersenyum. Syukurlah jika Ara menyukainya.

***

Kini giliran mata saya yang membelalak. Saat Ara mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Sebuah karya Fiersa Besari bertajuk Catatan Juang. Wah. Seketika saya heboh ingin berfoto bersama buku itu, hahaha. Ara pun mengabadikannya dalam sejumlah jepretan nan cantik.

Keseruan bertambah saat Mbak Faridha datang satu jam kemudian. Bincang kami makin ramai. Tak lupa berfoto lagi, tentunya. Tak lupa, kami shalat Ashar di mushala kafe.

***

Setelah itu,  sembari menunggu Maghrib, Mbak Faridha mengambil gitar yang digantung di salah satu sisi dinding. Ia memetik gitar, dan saya bersenandung alakadar. Mulai dari lagu hits Ed Sheeran hingga tembang manis Virgoun dan Payung Teduh.

Tak terasa, Maghrib tiba. Bertiga kami melangkah ke areal belakang kafe, tempat mushala berada. Menunaikan tiga rakaat berjamaah di sana.

***

Setelahnya, mari pulang! Saya tak sabar ingin menyambut rumah. Karena selain malam mulai merambat, saya pun dibuat penasaran oleh telepon yang saya terima beberapa saat sebelumnya.

Untuk Fitriara, biarkan saya mengucap ini lebih awal. Selamat menapaki angka baru di perjalanan usiamu. Panjang umur, sehat, dan diberkahi selalu. Terimakasih untuk cerita dan canda yang telah dibagi; tak hanya hari ini, juga untuk ratusan hari sebelumnya.

Tetap kuat, ceria, dan semangat, ya Gadis Bunga Matahari! Now I know I have met an angel in person.* And that's you.[]

Bersambung...

(*) dinukil dari lirik lagu Perfect oleh Ed Sheeran.
Foto oleh Fitriara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama