Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

My Dearest : Irsyad - Anisa

Tak ada yang lebih membahagiakan, ketimbang apa yang saya terima pagi itu. 28 Juli baru saja melangkah ke angka sepuluh, saat sebuah tautan muncul di kotak pesan saya. Segera saya buka link itu dengan penasaran bercampur deg-degan. Senyum terbit di wajah saya seketika, saat dua nama itu terbaca. Irsyad dan Anisa segera dipersatukan dalam akad dua hari lagi. Ya, akad. Seperti lagu milik Payung Teduh yang terputar dalam undangan digital itu. * Bicara perihal mereka berdua selalu tak jauh dari puisi, buku, dan lagu. Juga aneka warna yang turut mereka torehkan dalam hidup saya. Saya pertama kali bertemu Anisa di akhir 2015, saat pertemuan perdana FLP Blitar di rumah Fahri. Kemudian berjumpa Irsyad setahun setelahnya, di selasar Perpustakaan Bung Karno. Sejak awal, saya sudah merasakan ada dunia baru yang mereka ciptakan. Dunia yang berisi hal-hal yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Dan sejak saat itu pula saya tak pernah putus mendoakan mereka. * Sore, sehari menjela

CERPEN : Orasi Kaki - Part 2-habis

Dari dalam becak yang ia tumpangi, senyum lebarnya terbit seketika. Tentu saja, sebab Malioboro sudah dibuka kembali. Kontras dengan cemas yang kami rasakan sejak awal perjalanan. Sejak becak motor ini melaju, mata Rara sibuk menyapu sekeliling. Ada deretan pertokoan, mulai dari yang legendaris hingga yang baru-baru ini berdiri. Sebagian besar masih tutup. Juga deretan penjual cinderamata, kaos, dan angkringan, dan deretan kursi kayu dan bangku bulat dari marmer. Lalu-lalang para pejalan kaki dan pesepeda juga telah memadati sepanjang jalan ini. Becak motor pun terhenti beberapa saat kemudian. Untunglah, aku dan Nan bisa menuruni kendaraan ini tanpa kendala berarti. * Dengan segera, Rara melangkah penuh semangat mendekati sang ibu yang telah menunggu kedatangan mereka. Nyeri yang kami rasakan tadi ternyata masih tersisa, hingga membuat Rara langsung duduk di samping ibunya. "Ri, kamu masih sakit?" bisik Nan pelan. Rara masih asyik memandangi keramaian, sembari menan

CERPEN : Orasi Kaki - Part 1

Malioboro pagi ini tak seramai tahun lalu saat aku kemari. Sejak virus dari negeri seberang itu mengabarkan kunjungannya ke negeri ini empat bulan lalu, tempat wisata di seluruh kota ditutup sementara. Begitu pula dengan Daerah Istimewa ini. Semua destinasi dipaksa sepi. Tiada wisatawan mengunjungi. Pedagang cinderamata, pakaian, jajanan, dan pemilik warung angkringan di sepanjang Malioboro pun meliburkan diri. * Dari dalam becak yang ia tumpangi, senyum lebarnya terbit seketika. Tentu saja, sebab Malioboro sudah dibuka kembali. Kontras dengan cemas yang kami rasakan sejak awal perjalanan. Ya, akhirnya hari ini kami benar-benar berada di Jogjakarta. Setelah menyusun rencana dan cukup lama berdiskusi, petang kemarin mereka berangkat ke sini.  Salah satu penghuni rumah ini; Rara, tentunya jadi yang paling bahagia karena liburan singkat ini akan benar-benar terjadi. * "Kamu harus bisa, ya, Nan. Bekerjasamalah denganku." ucapku pelan saat di perjalanan. Sebenarnya aku aga