Langsung ke konten utama

CERPEN : Orasi Kaki - Part 2-habis




Dari dalam becak yang ia tumpangi, senyum lebarnya terbit seketika. Tentu saja, sebab Malioboro sudah dibuka kembali. Kontras dengan cemas yang kami rasakan sejak awal perjalanan.

Sejak becak motor ini melaju, mata Rara sibuk menyapu sekeliling. Ada deretan pertokoan, mulai dari yang legendaris hingga yang baru-baru ini berdiri. Sebagian besar masih tutup. Juga deretan penjual cinderamata, kaos, dan angkringan, dan deretan kursi kayu dan bangku bulat dari marmer. Lalu-lalang para pejalan kaki dan pesepeda juga telah memadati sepanjang jalan ini.

Becak motor pun terhenti beberapa saat kemudian. Untunglah, aku dan Nan bisa menuruni kendaraan ini tanpa kendala berarti.

*

Dengan segera, Rara melangkah penuh semangat mendekati sang ibu yang telah menunggu kedatangan mereka. Nyeri yang kami rasakan tadi ternyata masih tersisa, hingga membuat Rara langsung duduk di samping ibunya.

"Ri, kamu masih sakit?" bisik Nan pelan. Rara masih asyik memandangi keramaian, sembari menanggapi cerita ibunya.

Aku menghela napas. "Ya, lumayanlah. Tapi aku harus bisa! Sebentar lagi Rara pasti diajak berjalan menyusuri trotoar mahapanjang ini."

Nan mengiyakan. Benar saja, sesaat kemudian, kami bergerak lagi. Eh, rupanya hanya tiga langkah saja. Rara memasang gaya di dekat plang nama jalan Malioboro yang ikonik itu. Aku dan Nan tersenyum geli. Ra, kami tahu, kamu begitu merindukan tempat ini.

*

Hari belum terlalu siang, saat kami mulai menyusuri panjangnya trotoar Malioboro. Nan dengan langkah tertatihnya, sedangkan aku yang harus punya tenaga ekstra untuk menopangnya.

"Ayo, Nan! Lebih kuat lagi! Toko itu dekat kok! Ayo, sebentar lagi sampai!"

Aku berseru penuh semangat, saat melihat gerakan Nan yang makin melambat. Napas Rara terengah. Deretan bangku di dua sisi turut menggodanya. Mereka seakan berkata, "Ayo sini, duduki aku dulu!"

Tapi Rara mencoba tidak menggubris. Dipaksanya kami untuk terus bergerak. Kulihat jelas usaha Nan untuk memperkuat tubuhnya. Tapi aku tahu, dia lebih lemah dariku. Dia tetap perlu aku untuk jadi lebih kuat, dan mencegah Rara terjatuh. Itu yang penting.

*

Kurasakan tubuh yang kian melemah. Si paha hingga pergelangan dan telapak serempak mengeluh padaku. "Ayolah, suruh Rara duduk dulu. Kami sakit sekali!" begitu kata mereka.

Akhirnya, Rara pun duduk. Napasnya tersengal. Sang ibu dan Kinan yang berada di sampingnya otomatis ikut berhenti. Ada sekitar lima kali Rara berhenti demi redakan lelah kami. Untunglah, tepat di belakang bangku yang ia duduki, ada gerobak penjual es jeruk. Ibu Rara langsung memesan segelas.

Aah, segarnya! Minuman ini pun tandas dalam waktu singkat. Semoga setelah ini, tak hanya semangat, tapi energi kami juga kembali.

*

Namun, rupanya minuman itu tak sanggup mengembalikan tenaga kami. Terbukti, bukan hanya Nan, tapi aku pun merasa seluruh tubuhku sakit semua. Dari paha, pergelangan, punggung, hingga telapak dan jemari, semua nyeri.

Nan memandangku dengan sedih. "Ri... apakah ini benar? Ternyata kita sudah jadi selemah ini..."

"Tidak, Nan! Kita pasti bisa! Sekarang tugas kita cuma harus bertahan agar Rara tidak jatuh!" aku mencoba menampik kata-kata Nan. Aku yakin, kami bisa. Kasihan Rara kalau dia sampai jatuh. Pasti akan jadi pusat perhatian.

*

Mobil merah itu melaju pelan, membelah jalanan Jogja yang masih padat. Aku dan Nan harus banyak berterimakasih pada ibunda Rara yang telah memutuskan ini. Memesan taksi online untuk menuju sebuah pusat perbelanjaan di Jalan Malioboro--yang sebenarnya cukup dekat.

Sesampainya di sana, kondisi kami sudah agak membaik. Meski Rara masih melangkah dengan napas terengah, tapi tak separah tadi.

Rara tersenyum lebar saat papan nama konter minuman favoritnya itu terbaca dari kejauhan. Melihat senyum manisnya, aku dan Nan kompak bergerak dengan lebih semangat. Tak peduli pada nyeri yang makin terasa.

Rara menghabiskan sekitar duapuluh menit duduk di sana. Sementara, Kinan dan ibunya berkeliling. Gerai minuman ternama itu sepi. Hanya ada beberapa driver ojek online yang menunggu pesanan, kemudian pergi.

*

Kami kembali ke hotel dikawani sinar mentari yang tertutup awan kelabu. Rara duduk di lobi, menanti orangtua dan adiknya yang mengambil barang di lantai atas. Ya, siang ini kami akan melanjutkan perjalanan lagi. Acara menginap di sini pun harus disudahi.

Beberapa saat kemudian, mobil putih ini melaju keluar dari parkiran hotel. Ayah Rara duduk di balik kemudi, membelah padatnya kawasan Malioboro. Mata Rara tak lepas dari jendela kanan, memandangi panorama kota bersama senyum lebarnya.

"Harusnya tadi kita jalan-jalan di situ yaa, Ri." Nan berbisik padaku tiba-tiba. Ah, rupanya mobil sedang melewati plang bertuliskan YogyaKarta itu. Ya, tadi aku juga ingin ke sana sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi...

*

Mata Rara mengerjap, seiring kami yang juga ikut terjaga. Mobil berhenti di depan sebuah pintu masuk... pusat perbelanjaan lagi? Ya Tuhan...

Aku dan Nan saling pandang sebelum kami bergerak turun dari mobil. Aku sempat melihat sekilas wajah Rara yang masih menyiratkan lelah. Tapi, aku mengerti kenapa ia tetap memutuskan ikut. Ya, daripada kepanasan di basement.

Sejak awal memasuki bangunan ini, Nan sudah mengeluh. "Tempat ini luas sekali, Ri. Kita belum sepenuhnya pulih."

Kuhela napas panjang. "Sudahlah, Nan. Kita pasrah saja ya. Yang penting kita bantu Rara agar tidak jatuh. Aku yakin Rara tahu apa yang harus dilakukan kalau dia kelelahan nanti."

*

"Hihii, Rara sudah pasti tak betah berada di tempat yang tadi."

Akhirnya kudengar Nan bersuara lagi. Sejak tadi kami sibuk saling menguatkan satu sama lain, menjaga langkah Rara agar tak limbung, juga agar tak tersandung sesuatu.

Baru saja, kami berjalan keluar dari toko pakaian. Dengan masker yang tetap terpasang, tentunya cukup sulit bagi Rara untuk berdiri berlama-lama dan memilih-milih pakaian aneka model itu. Apalagi dia tak terlalu paham dengan dunia busana.

*

Beruntunglah kami, di kota besar seperti ini, ada beberapa tempat duduk yang tersedia di sejumlah sudut mal. Rara segera menduduki celah yang cukup longgar dari sebuah bangku berbentuk kubus. Sebelumnya, ada sekitar lima orang yang mendudukinya. Kini hanya tinggal tiga orang saja.

Dari tempatnya duduk, mata Rara mengarah pada Kinan dan ibunya yang keluar dari toko pakaian tadi. Menuju sisi kiri, mereka mengajak Rara ikut serta. Tentu saja gadis itu menggeleng. Ah, terimakasih ya, Ra. Kamu pasti memikirkan keadaan Nan dan aku.

*

"Mbak, sini lho, ayo! Dipanggil Mama!"

Panggilan itu mengejutkan Rara. Mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. Rupanya Kinan. Rara hanya sedikit membelalak sambil mengangkat sepasang alisnya, seperti bertanya 'ada apa'.

Tanpa bicara lagi, Kinan menarik tangan Rara agar berdiri. Kami pun melangkah mengikuti Kinan. Tak lama kemudian, Kinan berhenti. Rara juga. Aku berbisik pelan pada Nan.

"Wah, ngapain kita ke sini ya?"

Tak kusangka, Rara pun mengajukan pertanyaan serupa. Ia bertanya heran pada Kinan, kenapa mereka ada di gerai sepatu ternama ini. Ibunya tersenyum, sembari menyodorkan sebelah sepatu berwarna biru.

Meski enggan, Rara memakaikannya padaku.
Wah Ra, ini keren sekali! Sungguh! Apakah kamu akan membelinya buat kami? Kami janji akan....

"Nggak usah, Ma. Mahal banget ini."

Hatiku mencelos mendengar ucapan itu. Rara...Rara. Kamu ini memang mengesalkan ya! Lihat sepatu kets abu-abumu itu! Ujungnya sudah bolong! Itulah yang membuat kami makin tak enak saat melangkah! Tolong, mengertilah kami, Ra! Kasihan Nan!

Tapi, seakan tak bisa mendengarku, Rara tetap menggeleng. Ia bergeming di tempat duduknya, malah sibuk bicara pada Kinan yang juga sedang memilih-milih sepatu. Nan tersedu. Aku pasrah menunggu.

*

Mobil putih itu melaju keluar dari basement. Mengarah kembali ke Solo. Ya, mereka akan pulang petang ini. Raut wajah Rara terlihat letih. Sepasang matanya siap terpejam.

Nan masih terisak-isak. Segala kataku untuk meredakan tangisnya serasa angin lalu. Rara urung terlelap. Ia menunduk sejenak, memandangi kami seraya tersenyum.

Aku membalas senyumnya, walau tentu tak terlihat oleh mata Rara. Maafkan atas orasi kami yang tak henti-henti, Ra. Terimakasih, ya.

Semoga nantinya kami bisa lebih kuat lagi melangkah ke mana pun. Bersamamu dan sepatu biru ini; yang kamu dapatkan dengan tabunganmu sendiri. Kami akan selalu menjagamu. Kami: kaki Kanan dan Kiri-mu.[]

Inspired by a true story.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama