Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Untuk Apa Buku Dibeli?

Minggu lalu, sebuah unggahan Instagram milik Winna Efendi menarik minat saya. Winna adalah salah satu penulis favorit saya. Dia telah menghasilkan belasan novel dan ada pula buku tips menulis. Beberapa diantara novelnya pun telah difilmkan. Bukan. Postingan ibu satu anak ini bukan tentang buku barunya. Tapi Winna memajang sejumlah foto buku koleksinya. Disertai sedikit keterangan seputar judul buku dan harga. Seketika, mata saya terbelalak. Wah, jadi ada garage-sale buku lagi nih? * Ya. Kadang, Winna memang menjual sejumlah buku koleksinya, dengan alasan rak buku yang kian memadat dan tak lagi muat. Saya termasuk salah satu yang antusias jika sudah ada info ini. Sebab, buku-buku koleksinya terbilang langka. Mayoritas novel berbahasa asing, ada pula komik, bahkan buku resep. Novel berbahasa Melayu dan Indonesia, serta kumpulan puisi menjadi pelengkapnya. Harganya beragam, mulai dari 25 hingga 100 ribu. Mungkin dilihat dari jenis bukunya. * Sebenarnya, book garage-sale

Cerita Kedai Kopi (3) : Anonym Book and Coffee

Ada binar di mata saya saat temukan sebuah akun baru di Instagram. Gambar profilnya berlatar kuning cerah dengan tulisan 'Anonym book and coffee' dengan huruf latin berwarna putih. Apakah tempat yang sudah lama saya rindukan kembali lagi? Benar saja. Seminggu kemudian, sekitar pertengahan Januari, ada pengumuman buka perdana dari tempat ini. Sayangnya saat itu saya belum sempat ke sana. * Pebruari - Maret 2020 Akhirnya saya sampai di sini juga. Mata kembali berbinar, seiring senyum yang melebar. Senang dan lega, sebab tahu bahwa Mbak Na, perempuan bergaya busana kasual dan berkacamata itu sehat-sehat saja. Lebih gembira lagi karena ia masih bersemangat menularkan minat baca untuk sebagian warga kota ini.  Anonym bertempat di Pasar Pusat Kuliner, Jalan Ahmad Yani Blitar. Diantara deretan kios yang nampak sama dengan etalase makanan atau seperangkat alat masaknya, Anonym terlihat berbeda sendiri. Meski tempat itu lebih kecil, namun desain minimalisnya tetap membuat

Ruang, Waktu, dan Kesendirian

 Sejak hadir ke dunia, kawan kita hanya diri sendiri. Lalu, Dia yang Mahabaik meminjami kita sosok mereka yang tak ternilai. Keluarga, saudara, sahabat, idola, juga segala hal yang jadi kegemaran kita. Kita dibekali-Nya pula dengan bakat, potensi, hobi, dan cita-cita yang seringkali jadi alasan 'tuk berjuang dan diperjuangkan. Dia pula yang kenalkan kita pada rasa istimewa yang disebut cinta . Ada ruang khusus pada setiap hati untuk rasa ini. Ada seseorang spesial pula yang mendapatkannya. * Namun, kita tak bisa pungkiri. Perubahan adalah pasti. Setiap orang berubah. Keadaan berubah. Waktu melaju sangat cepat, bahkan tanpa kita sadari. Mereka yang kita sebut keluarga, teman, kawan, sahabat, dan pasangan , akan pergi suatu hari nanti. Entah karena ia disita pekerjaan atau ragam kesibukan, pun disekat jarak dan rasa yang tak lagi sama. Adakalanya, jarak itu tak kasat mata dan tak dapat diukur dengan angka. Tiba-tiba jauh begitu saja. Terkejut kita. Merasa tak siap dengan pe

Result and Reunion Show Indonesian Idol 2020 : Penentuan Diva Indonesia Masa Depan

Gelaran pamungkas Indonesian Idol begitu meriah malam tadi. Kejutan demi kejutan dihadirkan, semua penampilan terbaik disuguhkan. Dua grand-finalis , Lyodra dan Tiara kembali bertemu dengan ke-13 sahabat mereka. Beberapa bintang tamu pun didapuk berkolaborasi dengan mereka berdua. Sebut saja Noah, Nella Kharisma, Saykoji, Lea Simanjuntak, juga J-Flow. * Diawali duet menyentuh dari Lyodra dan Tiara dalam lagu milik Andy Grammar, Don't Give Up on Me . Saat bernyanyi, mereka sempat pula berinteraksi dengan orangtua masing-masing. Noah menjadi penampil berikutnya. Membawakan tembang Jalani Mimpi bersama Lyodra dan Tiara. Teriakan kaum hawa tak henti terdengar saat menyaksikan interaksi Ariel dengan dua gadis cantik ini. Tiara berkolaborasi dengan Nella Kharisma dan Saykoji, membawakan salah satu hits milik Didi Kempot, Pamer Bojo . Sementara itu, Lyodra yang berasal dari Medan menyanyikan dua lagu Batak, yakni Biring Manggis dan Sik Sik Batumanikam . Ada pula Rizky Febian

Jogja; Simpan Ragam Rasa Istimewa

"Dengar lagu lama ini katanya Ijinkan aku pulang ke kotamu Ku percaya selalu ada Sesuatu di Jogja..." -Adhitia Sofyan, Sesuatu di Jogja Baru saja, saya menonton penampilan Adhitia Sofyan menyenandungkan lagu ini di acara Tonight Show NET TV. Rasanya sedikit takjub, sebab jarang sekali Mas Adhit tampil di televisi. Kalau saya tak salah, satu-satunya stasiun TV yang pernah mengundangnya hanya NET saja. Saya pun mengenal Adhitia Sofyan pertama kali lewat tembang ini, dua tahun lalu. Aransemen dan vokalnya yang sederhana, dipadu lirik penuh makna membius indera dengar saya seketika. Di YouTube, video-audio Sesuatu di Jogja telah ditonton 11 juta orang. * Hmm... lagi-lagi Jogja. Bicara kota ini rasanya tak pernah kenal ujung. Segala hal dari kota ini bisa jadi bahasan. Mulai dari panorama, aneka wahana wisata, makanan khas, hingga sudut-sudut kotanya yang konon simpan banyak kenangan. Terutama ketika musim hujan tiba. Hingga, banyak lagu dan buku yang tercipta denga