Langsung ke konten utama

Untuk Apa Buku Dibeli?




Minggu lalu, sebuah unggahan Instagram milik Winna Efendi menarik minat saya. Winna adalah salah satu penulis favorit saya. Dia telah menghasilkan belasan novel dan ada pula buku tips menulis. Beberapa diantara novelnya pun telah difilmkan.

Bukan. Postingan ibu satu anak ini bukan tentang buku barunya. Tapi Winna memajang sejumlah foto buku koleksinya. Disertai sedikit keterangan seputar judul buku dan harga.

Seketika, mata saya terbelalak. Wah, jadi ada garage-sale buku lagi nih?

*

Ya. Kadang, Winna memang menjual sejumlah buku koleksinya, dengan alasan rak buku yang kian memadat dan tak lagi muat. Saya termasuk salah satu yang antusias jika sudah ada info ini.






Sebab, buku-buku koleksinya terbilang langka. Mayoritas novel berbahasa asing, ada pula komik, bahkan buku resep. Novel berbahasa Melayu dan Indonesia, serta kumpulan puisi menjadi pelengkapnya. Harganya beragam, mulai dari 25 hingga 100 ribu. Mungkin dilihat dari jenis bukunya.

*

Sebenarnya, book garage-sale ini pernah Winna buat pada 2019 lalu. Kala itu, kumpulan puisi bertajuk Perempuan yang Dihapus Namanya karya Avianty Armand yang menarik minat saya. Saya pun membelinya seharga 25 ribu rupiah saja.




Saat buku itu tiba dua hari kemudian, saya sedikit takjub. Buku ini memang second, tapi masih terawat dengan baik. Meski tak disampul, tapi dari sampul depan hingga halaman belakangnya masih rapi dan tak ada lipatan sama sekali. Benar-benar seperti buku baru.

*

Kembali ke unggahan Instagram Winna minggu lalu. Dia kembali membuka book garage-sale. Ada beragam buku dengan sejumlah genre yang ditawarkan. Kebanyakan adalah novel berbahasa Inggris, juga buku cerita anak.

Mata saya masih lapar, rupanya. Apalagi saat menemukan buku kumpulan puisi milik Aan Mansyur, Tidak Ada New York Hari Ini. Juga sebuah novel bertitel Jingga dalam Elegi milik Esti Kinasih.




Harganya masih sama, 25 ribu rupiah. Memang agak berat di ongkos kirim, tapi tak apalah. Demi penghuni baru untuk rak buku. Meski saya tahu, bahwa rak dan lemari buku di kamar saya sudah penuh. Entahlah, sepertinya hasrat membeli buku masih belum pudar dari benak saya.

*

Tapi, kemudian muncul sebuah pertanyaan. Jadi, untuk apa buku dibeli, jika akhirnya akan diberikan pada orang lain?

Konteksnya di sini bukan para pedagang buku. Tapi mereka, yang memang membeli buku karena ingin dibaca dan dikoleksi.




Bagaimana mungkin, buku yang telah berhasil dibeli, bahkan mungkin hingga ke toko loak dan luar negeri, lalu diberikan pada orang lain secara cuma-cuma atau harga miring?

Sebagai penyuka buku sejak kecil, saya pribadi justru tak rela jika harus melakukan itu. Hehe, agak egois memang. Tapi itu rasanya serupa perjuangan yang sia-sia.

*

Tapi, hal berbeda justru saya temukan dalam sebuah statement milik seorang kawan. Dia adalah seorang kolektor buku, juga pemilik sebuah kedai kopi. Dulu, ia sempat punya program rutin mingguan, melapak buku di Kebon Rojo.




Kini, di kedai kopi mungilnya, masih ada buku-buku koleksinya yang menemani. Buku-buku itu boleh dipinjam gratis. Dia bahkan tak mencatat saat ada yang meminjam bukunya. Buku-buku bebas dipinjam tanpa batas waktu, dan tak ada denda jika terlambat memulangkan.

*

Saya pernah bertanya, bagaimana jika ada yang tak mengembalikan buku pinjaman. Akankah teman saya itu menagih ke rumah si peminjam. Atau, adakah kompensasi untuk buku yang tak kembali?

Teman saya itu malah tertawa. Dan kemudian melontarkan sebuah jawab sederhana.
"Nggak apa-apa kalau bukuku nggak balik. Berarti buku itu bermanfaat buat yang pinjam."

Saya melongo.




Begitu pula saat saya menemukan sebuah buku cerita anak di kedainya. Setahu saya, buku itu ada dua jilid. Tapi saya hanya menemukan satu. Saat saya sarankan padanya untuk membeli di sebuah toko online, jawabannya membuat saya terpana.

"Buku yang satunya sudah kukasihkan temanku. Lha dia pengin buku itu, ya udah."

*

Saya sungguh tak habis pikir. Tapi kemudian, saya teringat seorang kawan lama yang juga memberikan dua buku serial Harry Potter-nya dengan cuma-cuma pada saya.

Tiga hal itu; termasuk book garage-sale-nya Winna tadi, sedikit mengubah mindset saya.




Bahwa bahagianya berbagi itu terkadang bisa jauh lebih besar daripada rasa gembira saat pertama kali memperoleh benda itu sendiri. Apapun itu, tak hanya terbatas pada buku. Ada rasa bahagia yang berbeda ketika melihat senyum orang lain karena pemberian kita.

*

Meski begitu, saya akui masih cukup egois pada koleksi buku-buku saya. Koleksi saya tak hanya didapat dari membeli secara pribadi, namun banyak juga yang diberi oleh orangtua dan beberapa teman.




Masih ada rasa sayang dan berat hati jika ada yang memintanya begitu saja. Apalagi jika buku yang diminta itu berasal dari pemberian orang lain. Bagi saya, cara menghargai pemberian adalah dengan menjaga, menyimpan, dan merawatnya baik-baik.

Tapi, jika sekadar dipinjam untuk beberapa hari--maksimal dua minggu saja, tak apalah. Syukur-syukur jika diberi sampul sekalian, hehehe.

*

Jadi, untuk apa buku dibeli? Untuk dikoleksi sendiri, dipinjamkan, atau bahkan diberikan pada orang lain, semuanya kembali pada pilihan masing-masing. Sebab, berbagi adalah bahagia, apapun dan bagaimana pun caranya.




Terimakasih Winna Efendi untuk book garage-sale-nya, juga Mbak Ratna Haryani, yang telah memperluas pola pikir saya.[]

Maret 2020
Adinda RD Kinasih

Sumber Gambar: 
Tangkap layar Instagram @winnaefendi dan dok. pribadi.



loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama