Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Masih Tentang Rumah Kedua

Sejak mengenal Philokoffie yang beralamatkan Jalan Dr. Sutomo nomor 2 itu, ujung pekan saya jadi makin berwarna. Jika sebelumnya sepanjang Ahad sore hanya dihabiskan di Perpustakaan Bung Karno; atau kadang pergi ke warung kaki lima dan cepat saji, kini Philokoffie jadi seperti destinasi wajib yang tak boleh alpa disinggahi tiap usai rutinan di Perpustakaan. Meski tak ada buku yang harus dikembalikan atau ingin dipinjam, selalu ada banyak hal yang dapat dilakukan di tempat ini. Mulai berdiskusi tentang buku dan musik, berfoto, menuangkan ide, hingga menggali inspirasi. Disertai mencicipi aneka varian kopi, tentunya. *** Entahlah, mengapa saya begitu menyukai tempat ini, bahkan sampai menyebutnya Rumah Kedua. Saya menyukai segala kesederhanaan yang ada di dalamnya : sambutan ramah, obrolan ringan, canda tawa, daftar lagu yang boleh diganti sesuka hati, buku yang boleh dipinjam hingga kapan pun (eh...enggak juga sih, hehehe), sinyal WiFi yang super lancar, dan segala racikan kopinya, tent

Teruslah Menulis!

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengeluhkan kurangnya minat menulis remaja seusianya di lingkungannya. Padahal, ia sangat ingin bergabung dalam sebuah komunitas menulis. Kemudian saya memberi saran. Buat saja akun Wattpad atau Blog, dan menulis sendiri tanpa harus bergabung dalam komunitas. Tapi, dia mengeluh lagi, khawatir. Bagaimana jika nanti tak ada yang membaca tulisannya itu? Saya--yang mulai kehabisan saran, hanya menanggapi sekenanya, bahwa setiap tulisan pasti punya pembaca. *** Saya mulai mengenal dunia kepenulisan sejak bergabung di ekstrakurikuler Jurnalistik sekolah pada 2007. Saat itu, saya menulis cerita di buku tulis. Karena masih sangat jarang yang menggunakan perangkat komputer, apalagi ponsel kala itu. Jadilah, membeli buku tulis dan pulpen baru menjadi sering dilakukan. Setelah cerita yang ditulis selesai, biasanya ada beberapa teman yang meminjamnya untuk sekadar dibaca, atau diberikan kritik dan saran. Salah satu (mungkin boleh disebut) novelet saya yang berjud

Dua Nama Berbeda

Masing-masing kita mungkin memiliki dua nama berbeda yang disematkan oleh orang-orang terdekat. Seringkali, mereka memanggil kita dengan nama yang bukan bagian dari nama lengkap kita. Begitu pula saya. Di masa kecil, saya tidak dipanggil Adinda atau Dinda, tapi disapa Angger. Entahlah siapa yang menggagas nama itu sebagai sapaan saya. Seluruh keluarga, mulai dari Kakek hingga sepupu, bahkan para teman dan kenalan Ayah dan Ibu memanggil saya Angger. Baru-baru ini, Ibu malah berkata bahwa awalnya, nama saya memang Angger. Namun kemudian diganti Adinda, karena nama Angger terdengar seperti nama anak laki-laki. *** Awalnya, saya biasa saja dengan panggilan itu. Tetapi saat mulai masuk SD, saya mengajukan 'protes' pada mereka yang masih tetap memanggil Angger, khususnya seluruh keluarga dari pihak Ayah di Malang. "Namaku Adinda, bukan Angger." Begitu kata saya pada mereka, yang justru dibalas tawa. Sebagian besar kemudian langsung bisa mengubah kebiasaan itu, dan memanggi