Langsung ke konten utama

Teruslah Menulis!

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengeluhkan kurangnya minat menulis remaja seusianya di lingkungannya. Padahal, ia sangat ingin bergabung dalam sebuah komunitas menulis.

Kemudian saya memberi saran. Buat saja akun Wattpad atau Blog, dan menulis sendiri tanpa harus bergabung dalam komunitas.

Tapi, dia mengeluh lagi, khawatir. Bagaimana jika nanti tak ada yang membaca tulisannya itu?
Saya--yang mulai kehabisan saran, hanya menanggapi sekenanya, bahwa setiap tulisan pasti punya pembaca.

***

Saya mulai mengenal dunia kepenulisan sejak bergabung di ekstrakurikuler Jurnalistik sekolah pada 2007. Saat itu, saya menulis cerita di buku tulis. Karena masih sangat jarang yang menggunakan perangkat komputer, apalagi ponsel kala itu.

Jadilah, membeli buku tulis dan pulpen baru menjadi sering dilakukan. Setelah cerita yang ditulis selesai, biasanya ada beberapa teman yang meminjamnya untuk sekadar dibaca, atau diberikan kritik dan saran.

Salah satu (mungkin boleh disebut) novelet saya yang berjudul Hujan Cinta di Langit Jogja dimasukkan majalah sekolah sebagai cerita bersambung oleh sejumlah anggota Jurnalistik. Kemudian, di tahun 2011, novelet itu saya remake untuk dimasukkan dalam antologi cerpen Gadis dalam Mimpi Radit.

***

Saya membuat akun Facebook pada akhir 2009, dan membuat Blog pertama setahun berikutnya. Blog itu saya beri nama The Land of Words, dan tak banyak tulisan yang terposting di sana.

Beberapa waktu kemudian, sayangnya saya lupa kata sandi, sehingga harus membuat Blog baru. Kali ini namanya Words' World. Isinya seputar cerita keseharian yang ditulis dengan gaya bahasa yang masih amburadul, hehehe.

***

Sejak bergabung lagi di FLP pada 2015, saya mulai agak giat nge-blog. Apalagi setelah FLP Blitar punya website.

Untuk Blog pribadi, kebanyakan berisi catatan pertemuan saya dengan teman-teman SD dalam berbagai kesempatan. Selebihnya, ada sejumlah review dan ringkasan buku yang pernah saya baca. Juga catatan tentang beberapa orang yang telah lama tak bertemu.

***

Untuk yang terakhir ini, rutin saya tuliskan di hari ulangtahun mereka masing-masing. Kebanyakan berbentuk esai pribadi, ada pula beberapa yang berbentuk puisi.

Isinya, seputar pendapat pribadi saya tentang orang tersebut, juga momen-momen tak terlupakan yang saya lalui bersama mereka. Kemudian, catatan itu akan saya berikan tepat di hari ulangtahun mereka.

Alasannya? Sederhana saja. Saya ingin memberi kado dalam bentuk yang berbeda.

***

Salah satu catatan ulangtahun itu saya tuliskan untuk Dokter masa kecil saya saat masih di Malang dulu. Namanya Dokter Chandra Kusuma. Ulangtahun beliau jatuh pada bulan Juli. Entahlah, tiba-tiba terbersit begitu saja untuk menuliskannya.

Meski Dokter sendiri mungkin belum membacanya, karena kesibukan yang padat, namun anaknya sudah membacanya dan memberikan beberapa saran.

***

Dua bulan setelah catatan itu ditulis, ada yang mengirim pesan ke Messenger Facebook saya. Beliau adalah seorang ibu rumah tangga, yang rupanya sedang mencari informasi tentang Dokter Chandra. Dari Google, ia menemukan catatan saya dan menanyakan syarat pendaftaran.

Saya jawab langsung datang saja, meski sebenarnya lupa-lupa ingat dengan prosedurnya. Sayangnya, saya tak punya nomor kontak Dokter. Nomor yang tertera di Google pun sudah tak bisa dihubungi.

Esoknya, dari kediamannya di Pasuruan, ia menuju Malang pagi-pagi demi bisa bertemu Dokter Chandra. Saat tiba di sana, Dokter akan pergi ke suatu tempat, namun kemudian memeriksa putra ibu itu terlebih dulu. Dan kini putranya sudah sehat.

***

Ya, sesederhana itu. Tapi, ada rasa tak tergantikan di sini. Lega dan bahagia, karena catatan sederhana saya yang sangat kurang referensi itu dapat berguna bagi orang lain, bahkan yang tak pernah saya kenal sebelumnya.

Sejak saat itu, saya percaya, bahwa setiap tulisan pasti punya pembaca; bagaimana pun bentuknya tulisan itu.

***

Maka, kunci satu-satunya adalah terus menulis. Tak perlu berpikir siapakah yang mau membaca; bagaimana jika tak ada yang membaca; bagaimana jika hasilnya jelek; atau hal-hal semacam itu.

Karena setiap tulisan pasti punya pembacanya sendiri-sendiri, dan akan bermanfaat bagi orang lain. Keep writing! []

5 Oktober 2017
Adinda RD Kinasih

Sumber gambar : http://www.mrsaokaworkinprogress.com/wp-content/uploads/2014/11/Just-Keep-Writing-.jpg

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama