Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Membuka Kembali Enam Tahun Merah Putih : Reuni Singkat dalam Pesta Resepsi

Dua minggu lalu, sebuah pesan dari Pipit mengejutkanku. Katanya ia ingin mampir ke rumah. Wah, ada apa gerangan? Apakah para Sahabat Merah Putih akan bertemu dan pergi bersama-sama ke suatu tempat? Tapi rupanya khayalanku itu ketinggian, ^_^. Ada kabar yang lebih membahagiakan lagi. Rupanya kedatangan Pipit ke rumahku untuk mengirim undangan pernikahannya. Alhamdulillah... Di ujung sore itu, kusambut Pipit bersama calon suaminya-Mas Bagus di teras rumah. Kami tak banyak mengobrol, karena sebentar lagi Maghrib tiba. Setelah undangan sampai di tanganku, mereka berdua segera mohon diri. *** Hari ini. The Big Day datang lagi. Ya, seperti biasa, momen bertemu mereka selalu kunamakan The Big Day. Kali ini, tanggal 28 April yang jadi saksinya. Aku baru pulang bekerja, saat adikku memberitahu bahwa sudah ada teman yang menjemputku. Wah! Segera aku bersiap-siap. Tapi, meski sudah cepat, ternyata tetap makan waktu setengah jam. *** Di teras, sudah ada Ade dan Niko, yang seketika melebarkan senyu

Separuh Selasa bersama Asma Nadia

Selasa, saat pagi menjejak pukul tujuh lebih tigapuluh. Saya sambut Rosy dan Irsyad yang telah duduk di teras. Hari ini kami memang janjian berkumpul di sini, untuk kemudian menuju IAIN Tulungagung. Ada talkshow dan bedah film bersama Asma Nadia yang diselenggarakan di sana. Asma Nadia. Jujur saja, saya bukan penikmat buku-bukunya. Hanya Assalamualaikum Beijing saja yang saya punya. Namun, untuk filmnya, saya cukup tahu. Ada Rumah Tanpa Jendela, Emak Ingin Naik Haji, Assalamualaikum Beijing, Surga yang Tak Dirindukan, juga Jilbab Traveler -yang akan dibedah hari ini. *** Kami menunggu Kak Fahri sembari mengobrol. Seperti yang disepakati, kami akan berangkat pukul delapan. Tapi, Kak Fahri malah belum muncul juga. Belakangan, dia menghubungi saya. Rupanya, jam tujuh dia sudah ke rumah saya, tapi karena pintu tertutup, ia mengira kami sudah berangkat. Jadilah ia sekarang sudah  berada di Tulungagung. Akhirnya, Rosy dan Irsyad yang hari itu berboncengan pun berangkat ke IAIN. Sementara

Baper Kuadrat Bersama "Isa dalam Sebuah Sajak"

Identitas Buku Judul               : Isa dalam Sebuah Sajak Penulis            : Alfa Anisa Tebal Buku     : 116 halaman Tahun Terbit : 2017 Penerbit        : Pustaka Kata Jombang Saya tuliskan ulasan ini atas permintaan dari penulisnya sendiri. Saya pun merasa bahwa terlalu sayang jika buku istimewa ini tak dibuatkan ulasannya. Alfa Anisa. Saya pertama kali bertemu dengannya dalam acara halal bihalal di rumah sahabat saya dua tahun lalu. Dan saya tak menyangka, di balik sifatnya yang (tidak) pendiam, gadis ini begitu piawai merangkai kata dalam bait-bait puisi. Menerjemahkan segala yang dirasakannya ke dalam bahasa perasaan. *** Seakan belum puas dengan puisi-puisinya yang telah bertebaran di sejumlah media dan antologi, Alfa baru saja meluncurkan buku antologi puisinya—yang di- klaim sebagai sebuah kado yang terlambat. Bertitel Isa dalam Sebuah Sajak, sebagian besar antologi ini berisi segenap tawa, airmata, temu, pisah, rindu, dan kenangan yang khusus dituliskan Alfa buat seseoran

Rutinan FLP Blitar : Dari Esai, Musikalisasi Puisi, hingga Kunjungi BTD Hari Terakhir*

Suasana diskusi Musikalisasi puisi Saya dan Nezli Ahad (9 April 2017) ini, rutinan FLP kembali agak berbeda. Kami tidak berkumpul di Perpustakaan Bung Karno, namun di rumah Irsyad yang berlokasi di Jalan Tidar. Agenda kali ini adalah esai. Saya datang cukup (sangat) terlambat-jam dua siang, di tengah suara Kak Fahri yang menjelaskan jenis-jenis esai dan lainnya yang serius mendengarkan. Pak Budi pun banyak menambahkan ilmu seputar topik ini. Beberapa orang ikut menceritakan cuplikan isi esainya masing-masing pula. *** Ketika bahasan esai selesai, kami rehat sejenak sambil menikmati bakso. Di sela-sela menandaskan bakso, saya lihat Irsyad yang memangku gitar dan mulai memainkannya. Inilah agenda selanjutnya, Musikalisasi Puisi. Saya lupa urutan gilirannya, tapi yang kebagian unjuk kebolehan baca puisi adalah Pak Budiyono, Ryan Adin, Nur, Siti Mutmainah, Hendra Burhanudin, Kak Fahri, Alfa Anisa, Fitriara, Ana Salamah, Binti Nurrohmah, Nezli, Irsyad, dan saya. Sayangnya Rosy tak bisa ikut