Langsung ke konten utama

Separuh Selasa bersama Asma Nadia

Selasa, saat pagi menjejak pukul tujuh lebih tigapuluh. Saya sambut Rosy dan Irsyad yang telah duduk di teras. Hari ini kami memang janjian berkumpul di sini, untuk kemudian menuju IAIN Tulungagung. Ada talkshow dan bedah film bersama Asma Nadia yang diselenggarakan di sana.

Asma Nadia. Jujur saja, saya bukan penikmat buku-bukunya. Hanya Assalamualaikum Beijing saja yang saya punya. Namun, untuk filmnya, saya cukup tahu. Ada Rumah Tanpa Jendela, Emak Ingin Naik Haji, Assalamualaikum Beijing, Surga yang Tak Dirindukan, juga Jilbab Traveler-yang akan dibedah hari ini.

***

Kami menunggu Kak Fahri sembari mengobrol. Seperti yang disepakati, kami akan berangkat pukul delapan. Tapi, Kak Fahri malah belum muncul juga. Belakangan, dia menghubungi saya. Rupanya, jam tujuh dia sudah ke rumah saya, tapi karena pintu tertutup, ia mengira kami sudah berangkat. Jadilah ia sekarang sudah  berada di Tulungagung.

Akhirnya, Rosy dan Irsyad yang hari itu berboncengan pun berangkat ke IAIN. Sementara saya akan berangkat bersama Mbak Nunung, Alfa, dan Fitriara sekitar jam sembilan atau sepuluh pagi. Huufft...baiklah.

***

Menunggu itu melelahkan. Ya, itu sangat saya rasakan, apalagi ketika jam sepuluh lebih mereka bertiga belum juga datang. Ini jadi atau tidak sih? Pikir saya gregetan.

Akhirnya, Mbak Nunung muncul, dengan masih mengenakan seragam. Ah ya, dia pulang mengajar. Saya hampir lupa bahwa ini Selasa, karena biasanya saya bertemu mereka di Minggu pukul satu. Di depan mushala, ada Alfa dan Fitriara juga yang telah menunggu.

***

Kami pun langsung berangkat. Jangan tanya bagaimana rutenya, karena saya paling sulit mengingat rute-rute. Hehehe. Sekitar duapuluh menit kemudian, motor mengarah ke salah satu tambangan di daerah Pakisrejo. Sebenarnya bisa lewat jalan raya, tapi jaraknya terlalu jauh dan akan makan waktu lebih lama.

Kami berempat naik perahu, bersama dua motor yang kami tumpangi. Saat itu yang ada di perahu hanya kami berempat, ditambah dua orang yang mengemudikan perahunya.

Saya pun tak tahu persis berapa lama kami nambang, mungkin sekitar sepuluh sampai limabelas menit. Setelahnya, motor kembali membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Sesekali melambat, karena harus berbagi jalan dengan sejumlah truk besar.

Menunggu lagi. Ya, saya menunggu kapan sampai di IAIN. Waktu sudah semakin siang. Semoga kami masih kebagian acara talkshow-nya.

***

Akhirnya, sampailah kami di IAIN Tulungagung. Kami berempat segera memarkirkan motor, lalu menuju Aula Syaifudin Zuhri, tempat digelarnya acara. Tapi Alfa tak ikut bersama kami, karena dia sudah ada janji bertemu dengan teman.

Setelah beberapa kali menanyakan letak aula pada sejumlah mahasiswa, sampailah kami di depan lift. Kami pun langsung menuju lantai enam.

Sekeluarnya kami dari lift, kami tak bisa langsung menuju kursi penonton. Panitia menanyakan bukti pembayaran milik kami. Saya dan Fitria kebingungan. Bukankah semuanya sudah dibayarkan oleh Rosy?

Rosy pun segera menemui bendahara. Kemudian, ada gema salam yang terdengar. Itu suara Asma Nadia. Namun, itu bukan salam pembuka rupanya, tapi salam penutup. Ya, acara talkshow sudah usai. Sayang sekali...

***

Tapi saya dan Fitria tetap mengikuti langkah Rosy ke kursi penonton. Saya mengambil tempat di samping Irsyad, sementara Rosy dan Fitria duduk di depan saya. Mbak Nunung kembali ke lantai satu, karena memang ia tak berniat ikut acara ini. Di sebelah Irsyad ada pula Ivan Aulia, dari FLP Surabaya.

Mata saya sempat melihat sekeliling, tapi tak menemukan sosok Kak Fahri di sana. Hmm...ternyata dia juga tak berminat ikut acara ini. Lalu, jika tak ingin ikut, kenapa membayar? Ada-ada saja.

***

Talkshow memang sudah usai, tapi Asma Nadia belum meninggalkan tempat acara. Saya masih duduk di tempat yang sama; sesekali ngobrol dengan Irsyad, Rosy, Fitria dan Ivan, mengamati Irsyad menggambar, juga memperhatikan panggung. Di sana, para gadis berjubel ingin minta tandatangan dan foto bersama Asma. Saya pun melongok ransel, dan mengeluarkan novel Assalamualaikum Beijing dari sana.

Fitria sempat mengajak saya menuju panggung, namun saya enggan, karena masih penuh orang. Maka, saya kembali bertukar cakap dengan mereka. Mau membuka media sosial pun percuma, karena di dalam aula sinyal cukup buruk.

Beberapa saat kemudian, saya dibuat heran saat memandang ke arah panggung. Asma Nadia sudah tak ada di sana. Ternyata beliau berpindah ke meja di sudut belakang, tempat kumpulan marchandise milik Asma diletakkan. Saya dan yang lain pun segera menghampiri beliau, yang saat itu juga dikerumuni beberapa orang. Saya sempat melihat-lihat marchandise-nya. Ada sajadah, tas, dompet, dan novel Jilbab Traveler. Rupanya itu semua dijual. Tadinya saya kira, itu akan dibagikan gratis untuk peserta talkshow. Hehehe...

***

Setelah menunggu agak lama, akhirnya saya, Rosy, dan Fitria berhasil mendapat tempat di samping Asma Nadia. Sedang Ivan mengambil posisi di belakang kami. Irsyad yang sudah siap dengan ponselnya, segera mengabadikan gaya kami dalam beberapa jepretan. Penulis bernama lengkap Asmarani Rosalba ini ternyata lebih cantik aslinya ketimbang fotonya, hehehe...

Tak lupa, beliau juga membubuhkan tandatangan pada halaman depan novel Assalamualaikum Beijing milik saya.

***

Setelah sesi foto bersama, rupanya Asma Nadia menyempatkan diri duduk di tengah beberapa orang yang melontarkan pertanyaan seputar dunia kepenulisan. Kami berlima menggabungkan diri juga.

Asma Nadia memberikan tips untuk menembus penerbit besar, seperti Kompas Gramedia atau Republika, yaitu dengan cara rajin mengirim karya ke koran-koran tersebut. Dengan begitu, maka nama kita akan dikenal, dan akan memudahkan kita jika ingin menerbitkan karya.

Selain itu, nonton film juga diperlukan. Agar kita dapat mengetahui cerita seperti apa yang menjadi selera pasar (penonton) saat ini.

Selain itu, beliau juga memberikan sejumlah tips menulis. Ada dua yang paling saya ingat.

Pertama, mau profesi apa pun itu, semua tetap bisa menjadi penulis. Apakah itu karyawan, pendidik, semua tetap bisa menulis. Yang penting ada kemauan dan semangat.

Yang kedua, ini terucap setelah Asma Nadia mengetahui bahwa kami dari FLP. Beliau mengatakan, tak masalah jika organisasi (seperti FLP) itu mati. Yang penting, semangat menulis kita harus terus hidup.

***

Acara benar-benar usai sekarang. Kami harus menunggu sedikit lebih lama di depan lift, karena masih banyak orang yang menggunakannya. Sementara lift yang satunya mati, atau memang sengaja dimatikan.

Akhirnya, kami berhasil sampai di lantai satu. Di situlah kami berpencar. Rosy menemui salah satu dosen IAIN yang awal bulan lalu menginfokan acara ini untuk FLP Blitar. Sementara Irsyad menemui temannya.

Berboncengan motor dengan Fitria, saya menuju tempat Mbak Nunung menunggu, di salah satu gazebo. Ternyata di sana juga ada Kak Fahri.

Kami semua segera ke masjid untuk menunaikan Dhuhur, sebelum menuju kantin. Tapi kami tak langsung pergi ke kantin, malah sejenak melarutkan bincang, sambil menjepret gaya masing-masing.

***

Tujuan berikutnya adalah kantin. Saya menjatuhkan pilihan pada nasi bali telur dan es jeruk. Ada yang memesan pecel, mie ayam, juga soto. Kami melahap makan siang sambil mengobrol lagi.

Langit mulai berubah kelabu. Kami segera beranjak, setelah membayar makanan masing-masing. Bersiap pulang, sekarang. Irsyad bersama Rosy, Alfa dengan Fitria, dan saya dengan Mbak Nunung. Sementara Kak Fahri mengantar Ivan ke terminal. Ia akan pulang ke Surabaya hari ini juga.

***

Perjalanan pulang kali ini masih lewat tambangan juga, diwarnai sedikit gerimis. Saya sempat menangkap raut lelah Mbak Nunung yang terpantul di kaca spion. Maaf ya, Mbak, sudah merepotkanmu setengah hari ini. Maaf juga kalau cara naik saya menyulitkanmu.

Kami berempat sampai di rumah saya pukul lima tepat. Alfa, Mbak Nunung, dan Fitria langsung berpamitan pada ayah dan saya, sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.

***

Terimakasih kalian semua; Mbak Nunung, Rosy, Fitriara, Alfa, Irsyad, Kak Fahri, dan Ivan yang turut mengisi separuh Selasa ini.

Kelumit ilmu dan gurat tandatangan Asma Nadia, bagi saya itu hanya bonus. Yang lebih mengasyikkan, tentu saja perjalanan yang saya lalui bersama kalian, juga untuk pengalaman nambang yang pertama kalinya untuk saya itu, hehehe.

Sekali lagi, terimakasih yang besar untuk kalian, yang tak pernah menganggap saya 'berbeda'. Saya harap kalian tidak kapok untuk mengajak saya "mbolang" lagi di lain waktu. Hehehe, maunya...

Because of you all, Guys, I keep learning to be stronger. I always feel thankful for that.[]

26 April 2017
Adinda RD Kinasih





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama