Langsung ke konten utama

Rutinan FLP Blitar : Dari Esai, Musikalisasi Puisi, hingga Kunjungi BTD Hari Terakhir*

Suasana diskusi

Musikalisasi puisi







Saya dan Nezli



Ahad (9 April 2017) ini, rutinan FLP kembali agak berbeda. Kami tidak berkumpul di Perpustakaan Bung Karno, namun di rumah Irsyad yang berlokasi di Jalan Tidar.

Agenda kali ini adalah esai. Saya datang cukup (sangat) terlambat-jam dua siang, di tengah suara Kak Fahri yang menjelaskan jenis-jenis esai dan lainnya yang serius mendengarkan. Pak Budi pun banyak menambahkan ilmu seputar topik ini. Beberapa orang ikut menceritakan cuplikan isi esainya masing-masing pula.

***

Ketika bahasan esai selesai, kami rehat sejenak sambil menikmati bakso. Di sela-sela menandaskan bakso, saya lihat Irsyad yang memangku gitar dan mulai memainkannya. Inilah agenda selanjutnya, Musikalisasi Puisi.

Saya lupa urutan gilirannya, tapi yang kebagian unjuk kebolehan baca puisi adalah Pak Budiyono, Ryan Adin, Nur, Siti Mutmainah, Hendra Burhanudin, Kak Fahri, Alfa Anisa, Fitriara, Ana Salamah, Binti Nurrohmah, Nezli, Irsyad, dan saya. Sayangnya Rosy tak bisa ikut karena harus segera pulang. Mbak Lilik dan Oma Titiek malah buru-buru mohon diri sebelum tiba giliran.

Diiringi petikan gitar yang merdu, kami mulai membaca puisi pilihan masing-masing. Ada yang membacakan beberapa puisi milik Aan Mansyur dan Brian Krishna, juga Pak Budi yang membacakan puisi karya Taufik Ismail. Tak ketinggalan, Kak Fahri yang membawakan puisi karya penyair favoritnya, Zaka Khairiz Zaman.

Alfa membacakan salah satu karya Fitriara, sedangkan Hendra membacakan karyanya sendiri dengan lantang dan penuh semangat. Ana juga membacakan puisi karyanya sendiri. Sementara saya, memilih membaca puisi karya Alfa yang ditujukan untuk saya, berjudul Upacara 24.

Musikalisasi puisi ditutup dengan lagu Peterpan, Menghapus Jejakmu, yang kami senandungkan bersama sambil bertukar tawa.

***

Kini tibalah di agenda terbesar sore ini. Ya, terbesar bagi saya, sekaligus menjadi yang pertama kali (lagi). Yaitu main ke BTD (Blitar Tempo Doeloe) di Alun-Alun kota Blitar. Oh ya, ada Rere yang datang kemudian. Rupanya ia tak ingin ketinggalan menikmati BTD bersama kami.

Saya ikut saja. Sudah lama sekali saya tak menyambangi bazaar yang rutin diadakan dalam rangka hari jadi Kota Blitar, yang tahun ini berusia 111 tahun.

Namun, saya agak kaget dan ragu saat akan berangkat. Kita jalan kaki? Begitu pikir saya. Bagaimana ini? Saya sudah lama tak berjalan jauh. Tapi akhirnya, baiklah. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Lagipula ini sekalian tes kekuatan untuk kaki saya. Ayo kita jalan kaki!

Tapi, niat saya harus rela sedikit tertunda, karena adanya tawaran Fitria yang hendak membonceng saya naik motor. Awalnya saya menolak, dan ingin tetap berjalan kaki saja. Tapi, beberapa teman mendorong saya menerima tawaran itu dengan mengatakan bahwa jarak rumah Irsyad ke Alun-Alun cukup jauh. Akhirnya, saya pun mengiyakan tawaran itu.

***

Sore itu, kawasan Alun-Alun dan sekitarnya cukup padat. Maklum saja, ini adalah hari terakhir pagelaran BTD.
Fitria memarkirkan motor di halaman Masjid Agung, untuk kemudian sedikit menyeberang, dan memasuki Alun-Alun. Di gerbang, saya disambut Nezli dan Alfa. Yang lain pun sudah berkumpul di sana.

Kami mulai berkeliling. Ada banyak stan dari berbagai instansi dan UKM di Blitar, dengan beragam barang dagangan. Mulai dari makanan, dari yang tradisional hingga modern, minuman, pakaian dan aksesoris. Ada pula yang menjual lukisan, foto Bung Karno, hingga hiasan rumah.

Setelah menyempatkan diri berfoto bersama, kami berpencar. Saya berdua saja bersama Nezli. Saya sedikit kewalahan mengatur langkah, karena harus berbagi jalan dengan pengunjung yang lain. Sepanjang jalan, saya hanya memohon satu hal. Semoga saya tidak sampai jatuh dan semakin merepotkan Nezli.

Beberapa kali kami duduk melepas lelah, sambil meneguk yoghurt stroberi yang sempat kami beli dari salah satu stan tadi. Sebenarnya saya kasihan pada Nezli. Karena menemani saya, dia jadi tak bisa leluasa berkeliling. Maafkan ya, Dik.

***

Kami pun kembali melintasi tanah berumput itu sambil melihat-lihat stan. Mata saya berbinar saat menemukan stan milik MTsN Karangsari. Segera, saya dan Nezli-yang juga alumni sekolah itu, menghentikan langkah di depan stan. Ada Bu Esti, (seingat saya) guru Kimia, dan Bu Puspitorini, dahulu mengajar Tata Boga, yang menyambut kami. Bu Esti langsung mengenali saya, mungkin karena cara berjalan saya ini.

Kami pun menyempatkan masuk untuk menemui Bu Hariyani, guru Bahasa Indonesia. Ada senyum yang tersungging di wajah lelah beliau yang tampak menua. Saya tertegun sejenak. Waktu sungguh lekas berlari. Tak terasa, sebelas tahun sudah saya lulus dari MTs.

Ada pula beberapa guru laki-laki yang ikut menjaga stan. Sayang, saya sudah lupa namanya. Semoga Bapak dan Ibu Guru sehat selalu. Aamiiin...

***

Menjelang Maghrib, saya dan Nezli akhirnya 'menemukan' teman-teman yang lain di dekat gerbang masuk. Tapi, saya tak menemukan Fitriara, Binti, dan Ana di sana. Ternyata ketiga gadis itu sudah pulang lebih dulu karena ada suatu urusan.

Jadi? Tak ada yang membawa motor kali ini. Baiklah. It's your time, Legs. Show your power! Begitu kira-kira ucap saya pada diri saya sendiri. Hehehe.

Perjalanan dimulai dari menyeberang jalan raya, untuk kemudian melintasi jalur samping Masjid Agung. Suasana tentu saja sepi, karena sudah masuk waktu Maghrib. Hanya ada satu-dua orang warga yang hendak menuju masjid. Selain sejumlah rumah warga, ada sebuah areal pemakaman di sisi kiri gang.

Saya tak tahu persis berapa panjang gang tersebut, yang jelas cukup membuat kaki saya pegal. Tapi perjuangan belum berakhir. Masih ada jalan raya yang harus kami seberangi, juga belasan langkah kaki lagi untuk mencapai rumah Irsyad.

Keringat mulai membasahi wajah saya sekarang. Kaki saya? Wah, jangan ditanya. Kanan-kiri kompak pegal kuadrat. Tapi tak ada pilihan lain selain terus berjalan. Sekarang belum waktunya untuk menyerah!

Ini mengingatkan saya pada kenangan tahun 2012 lalu, saat saya ada di Malang untuk mengunjungi salah seorang teman di kontrakannya. Hari itu, kami berdua janjian dengan Kak Fahri untuk ngobrol bareng di Taman Merjosari. Untuk menuju Taman Merjosari, saya juga harus berjalan melintasi gang dan menyeberangi jalan raya. Saat itu, jaraknya bahkan lebih dekat dari ini, tapi saya sudah sangat kelelahan sampai tak kuat berjalan, sampai harus dibonceng motor oleh salah satu pengguna jalan.

***

Akhirnya. Pagar abu-abu itu sudah terlihat. Saya mempercepat langkah dan segera memasuki halaman. Hembus napas lega langsung terdengar saat saya menduduki tangga teras untuk melepas sepatu. Alhamdulillaah, kaki saya bisa berjuang sejauh 370 meter hari ini.

Di ruang tamu, sudah ada Nezli, Alfa, Nur, Imut, dan Nunung yang duduk melepas lelah. Di meja pun sudah disediakan gelas dan sebotol air dingin. Saya langsung mengambil segelas, demi meredakan dahaga.

Irsyad, Ryan, Hendra, dan Kak Fahri muncul di ambang pintu, sekembalinya dari mushala dekat rumah Irsyad. Obrolan kembali dirangkai hingga satu setengah jam.

Lalu, satu persatu pamit, termasuk Alfa yang pulang bersama Nezli. Namun, saya, Nunung, dan Kak Fahri menuju ke destinasi favorit saya, yakni Philokoffie. Hari yang melelahkan (tapi menggembirakan) ini pun ditutup dengan secangkir kopi tubruk Jawa Liberika dan sepiring siomay ayam.

***

Terimakasih yang luarbiasa besar buat kalian, Sahabat, yang telah 'membiarkan' saya sendirian, karena dengan begitu, sekali lagi saya percaya bahwa ternyata saya bisa.

Dan buat Nezli, terimakasih ya Dik, sudah menemani sepanjang sore ini. Sekali lagi maaf sudah merepotkan. Kini biar tikus rajut imutmu yang menemani saya di rumah, hehehe.

Tapi jika ada kesempatan 'penaklukkan diri' lagi lain waktu, saya harap kalian tidak kapok mengajak saya.
Because of you all, I'll keep learning to be stronger.[]

Blitar, 10 April 2017


(*) Sengaja saya posting ke blog pribadi saya, karena ini bukan hanya laporan rutinan biasa, tapi ini juga catatan perjalanan saya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama