Langsung ke konten utama

Membuka Kembali Enam Tahun Merah Putih : Reuni Singkat dalam Pesta Resepsi

Dua minggu lalu, sebuah pesan dari Pipit mengejutkanku. Katanya ia ingin mampir ke rumah. Wah, ada apa gerangan? Apakah para Sahabat Merah Putih akan bertemu dan pergi bersama-sama ke suatu tempat?

Tapi rupanya khayalanku itu ketinggian, ^_^. Ada kabar yang lebih membahagiakan lagi. Rupanya kedatangan Pipit ke rumahku untuk mengirim undangan pernikahannya. Alhamdulillah...

Di ujung sore itu, kusambut Pipit bersama calon suaminya-Mas Bagus di teras rumah. Kami tak banyak mengobrol, karena sebentar lagi Maghrib tiba. Setelah undangan sampai di tanganku, mereka berdua segera mohon diri.

***

Hari ini. The Big Day datang lagi. Ya, seperti biasa, momen bertemu mereka selalu kunamakan The Big Day. Kali ini, tanggal 28 April yang jadi saksinya.

Aku baru pulang bekerja, saat adikku memberitahu bahwa sudah ada teman yang menjemputku. Wah! Segera aku bersiap-siap. Tapi, meski sudah cepat, ternyata tetap makan waktu setengah jam.

***

Di teras, sudah ada Ade dan Niko, yang seketika melebarkan senyum, sekaligus membuatku lekas memakai sepatu. Kelumit kata maaf ikut terlontar, karena mereka harus menunggu hingga setengah jam.

Seusainya, mobil membelah jalanan. Niko serius di balik kemudi, sedang Ade serius menjadi navigator. Destinasi selanjutnya adalah rumah Helin di sebuah perumahan timur RSIA Tanjungsari.

Sesampainya di sana, ternyata Helin sudah menunggu. Kali ini dia sendirian saja, tak bersama Angga atau Kayla.

***

Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang. Kali ini menuju Jalan Melati. Rupanya Niko akan menemui istri dan putri kecilnya, yang saat itu sedang ada di sebuah tempat spa bayi.

Dalam perjalanan, Ade serius menjawab telepon. Sesekali, Niko ikut menimpali percakapan Ade dengan bercanda, seolah dialah lawan bicara Ade di telepon. Tak ayal, tingkah Niko menggemakan tawaku sejenak. Ada-ada saja. Tapi inilah yang kurindukan. Canda tawa bersama mereka yang jarang sekali terjadi.

Kami berhenti di depan SMAN 4. Ternyata, minibus silver Ade juga sudah terparkir di sana. Niko segera turun, diikuti Ade dan Helin, yang berpindah ke mobil Ade. Aku juga ikut turun, untuk pindah ke jok depan di samping Niko.

***

Setelah urusan Niko selesai, perjalanan dilanjutkan lagi. Sekarang menuju rumah Dimas, di Perumahan GKR Sananwetan. Sepanjang jalan, awalnya aku hanya diam. Hanya alunan lagu dari stasiun radio favoritku yang terdengar.

Bincang mulai terangkai saat Niko menanyai tentang kegiatan sehari-hariku. Lalu berlanjut pada cerita seputar beberapa Sahabat Merah Putih yang telah melepas masa lajang. Tak terasa, waktu begitu cepat berlarian. Rasanya seperti baru kemarin aku lulus dari SDI.

Obrolan berlanjut saat mobil memasuki areal perumahan. Aku ingat, semasa SD dulu Niko sempat tinggal di sini. Lalu ia menambahkan, bahwa kemudian ia pindah ke Wlingi. Dan baru bertemu lagi dengan Ade pada masa kuliah di Malang. Mereka berdua memang satu universitas dan satu jurusan, hanya berbeda fakultas. Saat ini, Niko tinggal di Talun, bersama istri, mertua, dan putri kecilnya.

***

Kami menunggu sekitar limabelas menit di depan rumah Dimas yang asri. Kemudian, muncullah lelaki penggemar novel fantasi itu dalam busana batik coklatnya. Dia naik ke mobil Ade.

Kini saatnya menuju destinasi utama. Lokasi resepsi pernikahan Pipit di daerah Minggirsari. Kami harus sedikit memutar untuk menuju tempat parkir. Dan kemudian berjalan sedikit ke tempat acara. Di sana, Gilang sudah menunggu, bersama Fian dan Rendik. Sementara Arif dan Ikra naik motor.

***

Hingar-bingar musik menyambut kami saat sampai di sana. Setelah mengisi buku tamu, kami berjalan beriringan sambil bersalaman dengan para penerima tamu. Ada ibunda Pipit juga di sana.

Kulihat sekeliling, ada beberapa tamu undangan yang berseragam TNI. Tentu saja, karena ayah Pipit adalah seorang tentara berpangkat Kapten, sedangkan suami Pipit berpangkat Sertu.

***

Kami langsung menuju pelaminan tempat kedua mempelai, yang telah melaksanakan akad nikah sehari yang lalu itu. Setelah saling bersalaman dan memberi selamat, kami memasang gaya masing-masing. Dua fotografer di hadapan mulai bersiap dengan kameranya. Setelah dua kali jepretan, kami beranjak menikmati hidangan.

Aku duduk di kursi di sebelah panggung, menunggu Helin yang mengambilkan makanan untukku. Para lelaki  duduk bergerombol, agak jauh dari aku dan Helin.

Setelah sekitar satu jam berada di sana, kami pun pamit pulang.

***

Kali ini aku berada di mobil Ade, bersama Helin dan Dimas. Niko harus segera pulang untuk sebuah urusan. Ade duduk bersebelahan dengan Helin, sementara Dimas dan aku di belakang.

Selama perjalanan, kami menyempatkan diri berfoto bersama. Satu hal yang kusesali adalah, tak terpikirnya untuk berfoto bersama dengan sahabat yang lain tadi. Foto bersama pengantin pun tak terabadikan dalam ponselku.

***

Kami bertukar ucap terimakasih dan jabat tangan saat sampai di rumah Dimas. Itu pula yang terjadi saat tiba di depan rumahku. Ada setitik sedih saat minibus silver itu berlalu.

Mungkin inilah reuni tersingkatku bersama mereka. Rindu ini rasanya belum sepenuhnya terobati, belum seluruhnya terlunasi. Kini hanya tinggal harap yang tersisa, semoga lain waktu dapat bertemu kembali, dan lebih lama dari ini.

***

Terimakasih untuk kalian; Ade, Niko, Helin, Dimas, Gilang, Fian, Rendik, Arif, dan Ikra, yang turut mewarnai Hari Besar kali ini. Tak lupa, untuk Pipit dan Mas Bagus, selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia selalu. Aamiiin...

Setiap pisah akan menghadirkan rindu yang baru. Sedang, setiap temu akan menyisakan kenangan tak lekang waktu.[]

Dear my friend,
you're the joy in my life,
Your smile has brighten up my day,
Dear my friend,
you got me through the lonely times,
You're lighten up my way...

-HiVi, Dear Friend

28 April 2017
Adinda RD Kinasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama