Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Kepada Lelaki yang Mencintaiku Pertama Kali

Kusadari, aku terlalu sombong Hingga anggap segala yang telah kuperbuat cukup untuk membalas semua yang telah kau korbankan Ku (tak) sadari, bahwa ternyata aku bisa sekejam ini Memasang wajah masam sebagai jawaban setiap pintamu, Perdengarkan gerutuan untuk menimpali nasihatmu Mata dan hatiku tertutup kesal, selama ini Hingga lupa pada siapa yang selalu mengantarku ke mana pun Hingga enggan mengingat siapa yang hampir selalu kumintai tolong; bahkan untuk hal se-sederhana menggambar pemandangan, mencipta prakarya, bahkan membungkus kado sekali pun, Melupa setiap piring nasi goreng, tahu goreng bersambal kecap, segelas kopi, juga apel dan pir yang telah bersih kulitnya untuk langsung kulahap Juga melupa setiap derai tawa yang hampir selalu dibagi ketika larut malam, Aku berpura tak kenal sejarah, Bahwa bertahun lalu, kau bekerja dari pagi hingga bertemu pagi lagi, demi cukupnya kaleng-kaleng susuku Bahkan hingga kini, tak jarang kau tanggalkan lelah, abaikan kantuk, itu juga untuk penuhi

Kenangan yang Dibawa Kelinci Kuning

Baru saja, kututup buku kumpulan puisi karya sahabatku. Tiap huruf, kata, kalimat, alinea, juga paragraf yang ada di sana mengandung satu hal : Kenangan . Kenangan yang tercipta dari sebentuk temu, pisah, rindu, tawa, dan airmata. Mari berbincang perihal kenangan. Satu kata ini seakan punya daya magis yang kuat. Ajaib. Luarbiasa. Ia bisa dibawa oleh apa saja, siapa saja, kapan saja, di mana saja, pada suasana hati yang bagaimana pun juga. Seperti kali ini. Tulisan ini ada, karena sebuah benda yang berasal dari masa lalu. Masa kecil. Jadi, usia benda ini kurang lebih 23 tahunan. Sebuah benda yang disukai sebagian besar anak perempuan. # Seharusnya, tulisan ini tak se-puitis ini. Ini bukan puisi atau cerpen; hanya sebuah catatan yang dibuat sebagai sarana perawat kenangan. Tulisan yang kubuat untuk seseorang dari masa kecil—mungkin boleh disebut teman, meski sebenarnya kami hanya sebatas dikenalkan oleh sekolah dan kelas yang sama, saat usia masih sama-sama di bawah lima tahun. # Sebenar

Aku dan FLP Blitar (1)

Forum Lingkar Pena. Tiga kata ini sudah familiar bagiku sejak MTs. Karena pada masa itu aku punya beberapa buku novel dan kumpulan cerpen karya penulis-penulis FLP. Sebut saja Pipiet Senja, Asma Nadia, Fahri Asiza, Sinta Yudisia, juga Habiburrahman El-Shirazy. Hingga kemudian, pada 2008, saat aku duduk di kelas sepuluh, Kak Fahri, sahabat sekaligus kakak kelasku, mengajakku datang ke acara Launching FLP Cabang Blitar yang diadakan di akhir Agustus dan bertempat di Aula Panti Sosial Bina Remaja. Ada beberapa tokoh yang hadir saat itu, dua diantaranya adalah Pak M. Irfan Hidayatullah yang saat itu menjabat sebagai ketua FLP Pusat, dan Bu Sinta Yudisia. Aku mengikuti acara launching sekaligus talkshow kepenulisan bertajuk “Writing Tresno Jalaran Soko Kulino” itu, sekaligus mengumpulkan formulir keanggotaan yang telah kuisi beberapa hari sebelumnya. Namun, keikutsertaanku di FLP rupanya hanya sampai di situ saja. Karena tak adanya info lebih lanjut yang kuterima tentang kegiatan FLP Blitar

Cinta 24 Jam : Sebuah Kisah Cinta Kilat yang Mencengangkan

Identitas Buku Judul                   :Cinta 24 Jam Pengarang         :Andrei Aksana Penerbit             :Gramedia Pustaka Utama Tebal Buku         :179 halaman Cetakan Kedua :September 2005 Lagi. Saya menemukan buku bersampul cukup “berani” ini di tempat favorit saya yang punya beberapa ciri khas. Lima set bangku kayu dengan kursi drum bekas berbusa hitam di teras; dua set bangku dan kursi yang sama di dalam; satu ruang lesehan bertabur buku; satu ruang menyerupai ruang tamu; rangkaian quotes dari sejumlah pengarang ternama yang ditulis di permukaan kaca; tepi jendela tempat beberapa buku berbaris rapi; tiga kursi tinggi; meja panjang; lagu-lagu yang diputar dari laptop di sudut ruangan; gaung sirene peringatan yang disusul deru kereta dari luar; dan satu lagi yang tak boleh lupa disebut, aroma beragam jenis kopi dan beberapa kudapan ringan. Itulah Philokoffie, sebuah kafe mungil di kota Blitar. Rumah ketiga saya setelah Perpustakaan Bung Karno. Hehehe... # Nama Andrei Aksana dan w