Langsung ke konten utama

Aku dan FLP Blitar (1)

Forum Lingkar Pena. Tiga kata ini sudah familiar bagiku sejak MTs. Karena pada masa itu aku punya beberapa buku novel dan kumpulan cerpen karya penulis-penulis FLP. Sebut saja Pipiet Senja, Asma Nadia, Fahri Asiza, Sinta Yudisia, juga Habiburrahman El-Shirazy.

Hingga kemudian, pada 2008, saat aku duduk di kelas sepuluh, Kak Fahri, sahabat sekaligus kakak kelasku, mengajakku datang ke acara Launching FLP Cabang Blitar yang diadakan di akhir Agustus dan bertempat di Aula Panti Sosial Bina Remaja. Ada beberapa tokoh yang hadir saat itu, dua diantaranya adalah Pak M. Irfan Hidayatullah yang saat itu menjabat sebagai ketua FLP Pusat, dan Bu Sinta Yudisia.

Aku mengikuti acara launching sekaligus talkshow kepenulisan bertajuk “Writing Tresno Jalaran Soko Kulino” itu, sekaligus mengumpulkan formulir keanggotaan yang telah kuisi beberapa hari sebelumnya.

Namun, keikutsertaanku di FLP rupanya hanya sampai di situ saja. Karena tak adanya info lebih lanjut yang kuterima tentang kegiatan FLP Blitar. Hanya selembar sertifikat bertandatangan Mbak Gesang Sari dan Bu Sinta Yudisia yang menjadi penanda bahwa aku pernah mengenal FLP.

#

Namun, kisahku bersama FLP ternyata belum usai. Semua berawal dari dua tahun lalu, tepatnya di awal Agustus 2015. Pada pagi menjelang siang itu, aku menuju rumah Kak Fahri, demi memenuhi undangan halal bihalal yang ia sampaikan lewat pesan singkat sehari sebelumnya. Aku merasa sedikit canggung saat sampai di rumah yang berada di kawasan Kademangan itu. Bagaimana tidak, diantara belasan orang yang hadir di sana, hanya Kak Fahri saja yang kukenal.

Lambat-laun, aku mulai bisa beradaptasi. Mencoba ngobrol dengan satu-dua orang. Hari itu, aku mengenal beberapa teman baru, seperti Alfa Anisa—yang piawai menulis puisi dan telah dimuat di sejumlah suratkabar, Rere Riand—yang gemar menulis cerita dan puisi cinta, Mbak Lilik Hana—seorang pengajar yang juga mahir menulis cerpen, juga Mas Saif Ahmad—yang beberapa karyanya pernah dimuat di media lokal dan merupakan ketua FLP Blitar.

#

Sejak saat itu, aku jadi punya agenda baru setiap Ahad siang, yakni rutinan FLP. Rutinan bertempat di Perpustakaan Bung Karno; kadang di koridor, ruang baca lantai satu, atau ruang koleksi Memorabilia di lantai dua. Tak hanya berdiskusi tentang kepenulisan, kami juga saling berbagi karya masing-masing, meminjam buku, juga berbagi lagu dan film.

Beberapa waktu berselang, FLP kedatangan satu anggota baru. Irsyadul Ibad, mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Malang, yang ternyata juga alumni MAN Kota Blitar. Lelaki yang juga piawai bermain biola, gitar, dan piano ini diam-diam telah mengajukan naskah novelnya ke GagasMedia.

Awalnya, ada Nurul Fitri Fauziyah dan Isma Fariska yang mengikuti rutinan juga. Tapi kemudian, keduanya tak pernah aktif lagi. Nurul harus pulang ke Kalimantan, dan Isma sepertinya punya banyak hal yang lebih diprioritaskan ketimbang FLP.

#

Sebulan kemudian, lokasi rutinan FLP berpindah ke asrama SMK Telkom Blitar, yang berada di Jalan Borobudur, tak jauh dari Perpus Bung Karno. Beberapa siswi SMK tersebut juga mengikuti forum diskusi FLP. Terkadang, rutinan juga dilakukan di Perpus Bung Karno, atau di rumah beberapa anggota, agar tidak bosan.

#

Sekitar pertengahan Pebruari 2016, ada satu lagi anggota baru FLP. Namanya Mbak Imro’atus Saadah, seorang ibu satu putri yang punya ketertarikan pada cerita bertema fantasi. Tak lama, bertambah satu anggota lagi, yakni Nezli Rohmatullaili, gadis mungil alumni MAN Tlogo. Tulisannya ternyata telah termuat dalam antologi Dear Mom and Dad, yang diterbitkan DAR! Mizan, pada 2014 lalu. Lalu, juga ada Mbak Rizkha Nurul Latifah, seorang guru yang juga punya ketertarikan dalam dunia kepenulisan.

Tak ketinggalan, ada pula Mbak Dewi Arifin, seorang ibu rumah tangga yang punya minat tinggi untuk menulis. Ia bahkan telah meluncurkan novel solo pertamanya, bertajuk My Virginity Was Gone.

#

Forum Lingkar Pena, bagiku adalah sebuah hadiah. Karena FLP-lah kudapatkan segala hal baru. Ilmu, pelajaran hidup, inspirasi—yang kuperoleh dari diskusi dan bincang ringan; meluasnya bahan bacaan; juga satu hal yang bagiku penting dan langka. Di FLP kutemukan sebuah keluarga.

#

Kisah ini masih akan berlanjut. Lain waktu, akan kuceritakan bagaimana Forum Lingkar Pena dan sederet sahabat luarbiasa di dalamnya turut andil mewujudkan banyak mimpi yang selama ini tak pernah terpikir akan jadi nyata.[]

Selamat milad ke-20, Forum Lingkar Pena. Terimakasih telah menjadi salah satu bagian penting dalam hidup.

Blitar, 28 Pebruari – 14 Maret 2017
Adinda RD Kinasih

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama