Langsung ke konten utama

Cinta 24 Jam : Sebuah Kisah Cinta Kilat yang Mencengangkan

Identitas Buku

Judul                  :Cinta 24 Jam
Pengarang        :Andrei Aksana
Penerbit            :Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku        :179 halaman
Cetakan Kedua:September 2005

Lagi. Saya menemukan buku bersampul cukup “berani” ini di tempat favorit saya yang punya beberapa ciri khas.

Lima set bangku kayu dengan kursi drum bekas berbusa hitam di teras; dua set bangku dan kursi yang sama di dalam; satu ruang lesehan bertabur buku; satu ruang menyerupai ruang tamu; rangkaian quotes dari sejumlah pengarang ternama yang ditulis di permukaan kaca; tepi jendela tempat beberapa buku berbaris rapi; tiga kursi tinggi; meja panjang; lagu-lagu yang diputar dari laptop di sudut ruangan; gaung sirene peringatan yang disusul deru kereta dari luar; dan satu lagi yang tak boleh lupa disebut, aroma beragam jenis kopi dan beberapa kudapan ringan.

Itulah Philokoffie, sebuah kafe mungil di kota Blitar. Rumah ketiga saya setelah Perpustakaan Bung Karno. Hehehe...

#

Nama Andrei Aksana dan wajahnya seperti tak asing bagi saya. Selain judulnya, itulah yang membuat saya tertarik mengambil novel ini dari tepi jendela dan membawanya pulang sementara. Tadinya, saya kira ia adalah model iklan, artis, pemain sinetron, atau penyanyi (karena ternyata novel ini dilengkapi CD yang berisi beberapa lagu yang ia cipta dan nyanyikan), tapi rupanya saya salah. Dia, serupa kisah karyanya—mencengangkan.

Andrei adalah cucu dari Sanusi Pane dan Armijn Pane, sastrawan angkatan Pujangga Baru. Tak hanya itu, sang ibu juga seorang novelis. Novel pertama Andrei adalah Mimpi Terlalu Pagi yang dirilis tahun 1992. Selanjutnya, ada 11 novel lain yang ditulis di tahun 2003 hingga 2015. Selain itu, ia juga merilis dua buku kumpulan puisi, yakni Mencintaimu Pagi, Siang, Malam pada tahun 2011, dan Senyawa : Karenamu Aku Menjadi Puisi di tahun 2015.

Salah satu novelnya yang bertajuk Abadilah Cinta menjadi novel pertama di dunia yang memiliki soundtrack dan dinyanyikan oleh Andrei sendiri. Dalam novel-novel selanjutnya, Andrei tetap mengusung konsep itu, hingga ia dijuluki The Singing Author. Lelaki ini juga sempat didapuk menjadi salah satu juri Festival Sinema Prancis di tahun 2003, juga mendapat penghargaan Penulis Sastra Kontemporer oleh majalah Bisnis Indonesia, berkat salah satu novelnya, Lelaki Terindah.

#

Kini, mari kita membincang Cinta 24 Jam. Seorang aktris cantik bernama Giana-lah yang menjadi tokoh utama novel ini. Hidup Giana terbilang sukses; aktris berhonor termahal, semua filmnya meledak di pasaran, wajah cantik, tubuh proporsional. Singkatnya, semua yang terlihat dari diri Giana membuat iri semua orang.

Namun, di balik segala kegemilangannya, Giana menyimpan kerinduan akan hadirnya lelaki yang dapat mengisi kekosongan di hatinya. Selepas perceraiannya yang ketiga, ia memang tak terlihat dekat dengan lelaki mana pun.

Hampir semua orang tahu, bahwa ia mengawali karir sebagai seorang penjaga kost-kostan di Jakarta, yang kemudian bergabung dengan agensi model dan dilirik produser untuk diorbitkan menjadi bintang ternama.

Namun, tak banyak orang tahu, bahwa untuk mendapatkan semua itu, ia rela menggadaikan kesuciannya. Satu hal lagi, misteri tentang kedua orangtuanya yang tak pernah dibahas, membuat publik penasaran dan mulai berspekulasi macam-macam tentang asal-usul Giana.

#

Hingga suatu sore, ia mendapat sebuah telepon misterius dari seorang lelaki. Awalnya Giana kesal dan mengacuhkannya, namun kemudian ia mulai penasaran akan sosok penelepon itu. Terlebih, saat di jalan ia tak sengaja hampir bertabrakan dengan seseorang yang menggetarkan hatinya.

Tanpa disangka, Giana bertemu lagi dengan lelaki yang hampir ditabraknya itu di sebuah kafe. Awalnya, ia acuh. Tapi kemudian mendekat juga, karena tak tahan dengan gangguan para pengunjung laki-laki lain yang terpesona olehnya. Giana pun segera terlibat obrolan seru dengan Drigo—nama lelaki itu. Dan itulah yang semakin membuatnya kagum, sekaligus menjatuhkan hatinya di hadapan Drigo.

#

Tiba-tiba, cerita berbalik ke tahun 1975, bersama seorang gadis desa bernama Minar yang mengadu nasib ke Sidoarjo dengan berjualan jamu. Paras ayu dan tubuh indah Minar membuatnya sering mendapatkan dua hal : rayuan dari para lelaki pelanggan jamunya, dan makian dari para istri lelaki itu. Hal itu diterimanya berulangkali, dan membuat Minar jengah.

Hanya satu keluarga yang tak memperlakukannya seperti itu, yakni keluarga Arkan. Minar biasa datang ke rumah Arkan untuk mengantar jamu, karena Arkan dan istrinya menggemari jamu racikannya. Setiap kali Minar datang ke sana, istri Arkan-lah yang selalu menyambutnya. Tapi, rupanya ada satu rahasia di hati Minar. Ia mengagumi, jatuh cinta pada Arkan dalam diam.

Hingga kemudian pada sebuah pagi di jam yang sama, Minar tiba di rumah Arkan untuk mengantar jamu. Namun, berbeda dengan hari-hari biasa, hari itu Arkan yang menyambutnya. Hari itu, Minar dibuat heran karena rumah Arkan sepi. Tak ada istri atau anaknya. Setelah meletakkan botol-botol jamu di tempat biasa, Minar bermaksud mohon diri. Tapi, keluhan Arkan tentang badannya yang pegal-pegal menyurutkan niat Minar untuk pulang. Ia pun mengiyakan ajakan Arkan yang memintanya ke kamar. Seperti yang sudah bisa diterka, Arkan meminta lebih dari pijat.

Dan, bukannya menyesal, Minar justru bersyukur karena telah ada keturunan Arkan di dalam rahimnya. Meski akhirnya Arkan pindah ke kota lain dan hanya menyisakan seamplop uang, Minar tetap tak menyesali jalan hidupnya. Ia pun pindah ke luar kota dan membesarkan anaknya di sana.

#

Cerita dikembalikan lagi pada Giana dan Drigo yang tengah dimabuk cinta. Sepanjang malam mereka lewati di sebuah kamar hotel. Saat itu, Giana merasa hidupnya sempurna. Sebuah cinta yang telah lama dinantikan, kini hadir, dan membuatnya rela memberikan segalanya.

Giana terbangun saat pagi menunjuk angka enam tepat, dan tak menemukan Drigo di sampingnya. Ketakutan mendera batinnya. Dengan panik ia mencari info tentang Drigo dari resepsionis hotel, yang berakhir sia-sia. Drigo tak meninggalkan identitas atau sebaris alamat pun. Giana jatuh kecewa, tak menyangka kisah cintanya hanya berlangsung 24 jam saja.

#

Di pagi yang sama, seorang ayah tengah menyambut anak lelakinya yang tak pulang semalaman. Sang anak muncul dengan rasa kecewa yang dalam. Tanpa banyak kata, sang ayah tahu bahwa anaknya telah menemukan seorang lain yang dapat melengkapi bagian hatinya yang hilang. Namun, dengan bijak, sang ayah menyematkan nasihat; jangan mencoba memiliki, jika untuk itu kau harus mengalami kehilangan yang lebih besar.

Nasihat itu membuat si anak tersadar dengan hidup yang sedang dilaluinya. Kini ia adalah seorang yang sukses, dengan seorang istri dan tiga anak.
Dan mengapa nasihat itu yang diberikan sang ayah, juga bukan tanpa alasan. Karena ia pernah mengalami hal yang sama, dulu, ketika seorang tukang jamu berhasil takluk di hadapannya.

Si anak itu Drigo. Dan sang ayah adalah Arkan.

#

Seperti yang saya tulis di atas, novel ini mencengangkan. Bukan saja karena latar belakang sang penulis, tapi juga alur kisah dan kejutan-kejutan yang muncul di dalamnya berhasil membuat saya tak berhenti membalik halaman demi halaman novel ini hingga usai. Gaya bahasa Andrei pun begitu puitis. Tak heran, karena dia cucu seorang sastrawan.

Cinta 24 Jam membuat saya penasaran akan karya-karya Andrei Aksana yang lainnya.[]

3 Maret 2017
Adinda RD Kinasih

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama