Langsung ke konten utama

Kepada Lelaki yang Mencintaiku Pertama Kali

Kusadari, aku terlalu sombong
Hingga anggap segala yang telah kuperbuat cukup untuk membalas semua yang telah kau korbankan

Ku (tak) sadari, bahwa ternyata aku bisa sekejam ini
Memasang wajah masam sebagai jawaban setiap pintamu,
Perdengarkan gerutuan untuk menimpali nasihatmu

Mata dan hatiku tertutup kesal, selama ini

Hingga lupa pada siapa yang selalu mengantarku ke mana pun
Hingga enggan mengingat siapa yang hampir selalu kumintai tolong; bahkan untuk hal se-sederhana menggambar pemandangan, mencipta prakarya, bahkan membungkus kado sekali pun,

Melupa setiap piring nasi goreng, tahu goreng bersambal kecap, segelas kopi, juga apel dan pir yang telah bersih kulitnya untuk langsung kulahap
Juga melupa setiap derai tawa yang hampir selalu dibagi ketika larut malam,

Aku berpura tak kenal sejarah,

Bahwa bertahun lalu, kau bekerja dari pagi hingga bertemu pagi lagi, demi cukupnya kaleng-kaleng susuku
Bahkan hingga kini, tak jarang kau tanggalkan lelah, abaikan kantuk, itu juga untuk penuhi kebutuhanku

Aku tak pernah mau berkaca,
Bahwa mungkin tanpamu, anak seperti aku takkan bisa punya hidup sebaik ini.

Aku selalu terlambat menyadari, bahwa ada yang tersimpan di balik amarah dan nasihatmu,
Bahwa itu semua untuk kebaikanku.

Teruntuk lelaki yang mencintaiku pertama kali,

Semestinya aku tahu, bahwa segala yang kuperbuat tak pernah cukup untuk menandingi semua yang telah kau perjuangkan.
Bahkan mungkin, untaian kata-kata ini pun tak sanggup mengobati lara hatimu atas tingkah lakuku

Tapi, sungguh.
Maafkan aku.
Untuk semua kelupaanku akan engkau, dan segala yang telah kau lakukan demiku

31 Maret 2017,
Untuk Ayah,
Yang mencintaiku pertama kali, selalu, selamanya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama