Langsung ke konten utama

Bertemu Bandung (5)

Dan Bandung
Bagiku bukan cuma
Urusan wilayah belaka
Lebih jauh dari itu
Melibatkan perasaan
Yang bersamaku ketika sunyi

-The Panasdalam Bank feat. Danilla, Dan Bandung



Selasa, 21 Januari 2020

Pagi yang gerimis di Kota Bandung. Seisi apartemen dengan pendingin udaranya terasa makin menggigilkan tubuh. Selepas membersihkan diri, saya membuka pintu kaca menuju balkon. Di sana ada sepasang kursi rotan dengan sebuah meja di tengahnya.

Saya berdiri dengan berpegangan pada balkon, dan agak menunduk, melihat ke bawah. Tampak seorang gadis berseragam putih-biru berjalan keluar halaman apartemen, menyambut driver ojek online yang sudah menunggunya.

Saya tersenyum. Kalau saja dulu di masa saya sekolah sudah ada ojek online, pasti rutinitas pagi saya tak jauh berbeda dengan gadis itu.

Dari balkon lantai 10 ini, saya dapat melihat deretan rumah penduduk yang hanya terlihat atapnya, dan rel kereta api. Apartemen ini memang tak terlalu jauh dari stasiun Kota Bandung.

*

Sekitar jam 08.30, kami sudah berada di basement apartemen. Ya, kami sungguh akan pulang hari ini. Kereta kami akan berangkat satu jam lagi.

Sebelum menuju stasiun, Mas Daffa menghentikan mobil di depan pedagang kaki lima. Wah rupanya dua pedagang ini menjual nasi uduk dan bubur ayam. Kami bertujuh pun dipisahkan oleh menu. Mas Dito, Mas Hilmy, dan Levina memilih nasi uduk. Sedangkan Mbak Savira, Mas Daffa, Almira, dan saya memilih bubur ayam.




Bubur ayamnya tak jauh berbeda dengan di Blitar. Namun uniknya, di kota ini, saat orang memesan bubur ayam, sang penjual juga langsung menghidangkan teh tawar gratis, meski pembeli tak memesannya.

*

Stasiun Kota Bandung menyambut kami kemudian. Suasana riuh, padat, dan sibuk langsung terasa begitu kami masuk. Kontras dengan situasi stasiun Kiaracondong.

Saya langsung menempati kursi kosong di depan gerai Dunkin Donuts. Donat legendaris ini sempat begitu terkenal saat saya kecil. Sekarang, meski telah banyak merk donat lainnya, ternyata Dunkin masih bertahan.

Selain Dunkin Donuts, ada sejumlah gerai lainnya, seperti gerai oleh-oleh khas Bandung, baju batik, juga restoran cepat saji.

*

Mas Dito, Almira, dan Mbak Savira pun menuju tempat saya menunggu. Rupanya proses check in tiket telah beres. Segera kami bersiap menuju kereta.

Tak disangka, Mas Daffa tergopoh-gopoh menghampiri kami. Eh, ternyata dia masih di sini. Saya kira dia sudah pulang.





"Ya kan belum pamitan, belum salaman. Masa mau kutinggal pulang?" tukas Mas Daffa, membuat kami tergelak.

Kami pun menyalami Mas Daffa bergantian sebelum masuk ke peron. Terimakasih telah menemani kami dalam perjalanan ini ya, Mas Daffa. Semangat terus kuliahnya. Semoga kami bisa mengunjungi Bandung lagi lain kali.



loading...
*

Kami menumpang kereta api Eksekutif Argowilis untuk perjalanan pulang kali ini. Rupanya, gerbong kami terletak di bagian paling belakang. Jadilah, saya harus berjalan lebih jauh. Tapi, Mas Dito meminta saya naik dari pintu terdekat saja.

Saya pun naik bersama Levina. Rupanya, untuk bisa sampai ke gerbong kami, harus melewati satu gerbong penumpang dan satu gerbong restoran KA.

*

Sesampainya di gerbong kami, saya segera mengambil tempat di bangku paling belakang, di samping Mas Dito. Saya memilih posisi di samping jendela. Di kereta eksekutif ini, jarak antar-kursi lebih luas, terdapat bantal, juga meja lipat. Tetap dilengkapi charger ponsel juga, tentunya.





Beberapa saat kemudian, terdengar suara seorang pria dari pengeras suara. Dia memperkenalkan diri sebagai Anam, sang kondektur untuk perjalanan kali ini. Seisi hati dan pikiran saya mendadak sendu. Mata saya tak lepas pandangi jendela, yang suguhkan lengang di sebuah ruas jalan Kota Bandung.

Ah, Bandung, akhirnya saya harus beranjak dulu. Semoga kita dapat berjumpa lagi lain waktu.

*

Lambat-laun, saya mulai bisa menikmati perjalanan. Terlelap sebentar, terjaga, lalu menilik kisah berjudul Perikardia, mendengarkan lagu, mengobrol dengan Mas Dito dan yang lain, juga diam berkawan suara pikiran. Semuanya saya lakukan. Hingga kemudian lapar menyerang. Rupanya untuk yang ini, kami semua kompak.

   



Maka, kami pun memesan makanan di Reska (Restoran KA). Ada beberapa jenis makanan yang ditawarkan, yakni nasi goreng, ayam geprek, nasi gudeg, juga bakso, tempe mendoan, tahu sumedang, mie instan, bahkan pecel Madiun juga ada. 

Minumannya, ada kopi, cokelat hangat, teh hangat, juga air mineral dan teh kemasan botol.





Saya memilih nikmati menu Nasi Goreng Parahyangan. Dalam satu kotaknya, terdiri dari nasi goreng berbumbu kecap dan agak pedas, sepotong ayam goreng, telur mata sapi, dilengkapi timun dan kerupuk udang. Untuk minumnya, saya memilih cokelat hangat.

*

Perjalanan pulang kali ini terasa lebih cepat daripada berangkatnya. Tentu saja, jenis keretanya saja berbeda.




Sekitar pukul tujuh malam, saat kereta berhenti di Madiun, saya sempatkan ke toilet sebentar. Ternyata, toiletnya tak sesempit bayangan saya. Tapi kata Mas Dito, toilet di kereta ekonomi yang kami naiki saat berangkat, lebih sempit daripada yang ini.

*

Kami tiba di Kertosono sekitar pukul 21.20. Saya turun dari kereta dibantu Mas Hilmy dan Mas Dito. Kami pun melambaikan tangan pada Mas Hilmy dan Mbak Savira yang akan melanjutkan perjalanan hingga ke Surabaya.






Keluar dari peron, rupanya Pakpuh Eka dan Bude Elly sudah menunggu. Mereka adalah orangtua Mas Dito dan Mas Daffa, sekaligus kakak ibu saya. Si kecil Aufa, sepupu kami, juga ikut. Dia langsung gembira saat Levina menunjukkan sekotak mainan baru untuknya.

*

Perjalanan ke Bandung pun berakhir sudah. Esok saatnya kembali pada rutinitas. Terimakasih Bandung, khususnya Lembang dan Braga, untuk suguhan indahnya panorama, hawa sejuk, juga guratan kenangan baru.




Terimakasih Mas Dito, Mas Daffa, Mbak Savira, Mas Hilmy, Almira, dan Levina untuk telah menemani dan banyak membantu saya selama perjalanan ini. Maaf jika saya masih banyak merepotkan. Semoga kita bisa bervakansi bersama lagi lain waktu, ya. Bagaimana kalau ke Jogja? Hehehe.

Tapi, sebenarnya kunjungan ke Bandung pun saya rasa masih sangat kurang. Maka, Bandung, ku pasti kembali.* Semoga.[]

(*) Bagian akhir tembang Bandung oleh Fiersa Besari.

20 Pebruari 2020
Adinda RD Kinasih



loading...



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama