Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2013

Sepiring Nasi Goreng di Tengah Malam

Bahkan, kau pun menjadikan tengah malam sebagai kawan, pemandu langkahmu, demi secuil rejeki... Tengah malam di Malang. Hawa dingin yang menusuk gigilkan belulang. Aku, kami, masih terjaga di jalanannya yang dipadati beragam kendaraan, demi mencari penawar lapar yang sejak tadi menyerang. Sejauh mobil mengukur aspalan, warung makan belum juga kami temukan. Ah, mengapa pula sepi sekali jalan ini? Aku yakin, di belahan Malang yang lain masih banyak para penyedia menu yang buka. Ah, sudahlah, apa saja! Aku sudah enggan lontarkan khayalku akan sajian yang ingin kunikmati malam ini. Apa sajalah! Karena kakiku sendiri juga tak henti berorasi, meracau akan pegal dan lelah yang menderanya sejak tadi. Mobil berbelok. Satapak jalanan yang tak begitu padat menyapa kami. Mataku tertumbuk pada parkiran sebuah minimarket yang cukup luas. Kemudian, mobil memasuki pelataran paving block itu, dan berhenti. Aku yang hampir dibuai lelap, seketika menatap heran pada sebuah gerobak lawas di pinggir parkira

Usai

Kau Masa lalu yang telah menghitam Menjauh pergi tanpa pesan Memaksaku buramkan segala kenangan Dan muram... Kau Sebait puisi yang telah lama Enggan bergema di ruang jiwa Meski aku, di sini setia Tunggu ia kembali meski tak terbalut nyata Kau Hanya pengoyak angin Pembeku embun Pencair mendung... Kau Pembakar syair rindu jadi abu Cinta jadi luka Harap jadi duka Kau koyakkan hati Dengan tajamnya Nyata bertubi-tubi Lalu apa lagi? Kini, hanya tinggal kini Bukan dulu, apalagi nanti... Usai...

Sendiri

Terbangun sendirian Sinar mentari terasa merejam Terbalut angan Terduduk diam Lintasi siang masih bersama sendiri Garangnya matahari seolah menertawai Aku hanya bisa memejam bisu Berdiri kaku Sore menjelang, sendiri pun masih datang Mungkin enggan pulang, meski hari telah petang Dia tersenyum, tersenyum padaku yang mengerang Berharap sendiri itu lekas pulang Kembalikan keramaian itu Sapa itu Gema tawa itu Yang kurasakan tak lebih dari seberkas bayang Enyahkan sepi Musnahkan lukis kegalauan Terbangkan kesunyian... Kuharap sendiri tak lagi panjang Lekas pulang Karena mulai bosan berdiam dalam senyap ruang...

Cobaan atau Peringatan?

Kenapa cobaan itu datang? * Belakangan ini, televisi dipenuhi berita kecelakaan beruntun di tol Jagorawi, yang terjadi Minggu dini hari kemarin. Sebenarnya, kecelakaan sudah sangat sering terjadi dan menghiasi berita-berita televisi. Namun, kecelakaan kali ini, yang melibatkan tiga kendaraan, sedan Lancer, Grand Max, dan Avanza itu juga melibatkan anak ketiga Ahmad Dhani, Abdul Qadir Jaelani, yang lebih dikenal dengan sapaan Dul. Ahmad Dhani. Siapa yang tak kenal? Motor band Dewa, yang kini menjadi leader band Triad, juga menaungi banyak artis, seperti Mahadewa, The Virgin, Mahadewi, dan Mulan Jameela. Dia juga dikenal sebagai pencipta lagu handal dan telah banyak menghasilkan lagu untuk banyak penyanyi ternama. Juga menjadi juri dan mentor dalam beberapa ajang pencarian bakat. Namun, dibalik segala kesuksesan dan kepiawaiannya, yang membuat ia banyak dikenal dan disuka, tak sedikit pula yang menganggap ayah empat anak ini sebagai orang yang arogan. Kearogansian Dhani mungkin sudah ban