Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Akhir Tahun dan Berita Pisah yang Tiba-Tiba (1)

Jelang pergantian tahun, biasanya sebagian besar orang akan mencatatkan segala harap dan rencana yang disebut resolusi. Namun, saya termasuk yang sangat jarang membuat resolusi. Bukan berarti tak punya target. Tapi terkadang tetap menjalani hidup dan menikmati setiap kejutannya bukan pilihan yang buruk juga. Kali ini, agak berbeda dengan yang sudah-sudah. Akhir tahun 2017 ini menyuguhkan sedikit kelabu bagi saya. Sejumlah berita pisah dan kepergian yang tiba-tiba memaksa saya untuk siap menerimanya. Maka, catatan akhir tahun kali ini adalah untuk mengabadikan kenangan dan melipur rindu. *** Mbak Ratna Haryani. Seperti yang pernah saya tuliskan di beberapa catatan yang lalu, pertama kali saya mengenal perempuan berkacamata ini di sebuah tempat sederhana nan hangat bernama Philokoffie. Mbak Na adalah salah satu pendiri dan konseptor kafe ini. Konsep uniknya adalah kafe buku. Ada beragam judul langka yang belum pernah saya baca. Tak ketinggalan, racikan minuman dan kudapan ringan yang ada

Philokoffie dan Segala Gurat Kenangan di Sudutnya

"Ini akhir cerita Kita harus berpisah Semua masih teringat Mencari semua Makna yang hilang Semenjak kau pergi Tinggalkanku di sini..." -The Overtunes, Let You Go Sejak semalam, lagu ini terngiang di telinga. Menambah sesak yang saya rasakan sejak menemukan wajah Rumah Kedua yang berbeda. Mungkin bagi sebagian orang, perginya Mbak Na dari sana menjadi hal biasa. Sementara saya, entah kenapa bisa sesedih ini. Entah mengapa bisa begitu menyukai tempat ini. Padahal sudah banyak warung kopi sejenis di kota ini, tapi Philokoffie seperti jadi tempat paling satu. *** Seperti yang pernah saya ulas di catatan sebelumnya, Philokoffie pertama kali dikenalkan oleh Alfa Anisa. Saya bertandang ke sana November tahun lalu bersama sejumlah teman dari FLP Blitar. Saat itu, di sana saya berkenalan dengan Harry Potter , hingga kini mengoleksi seluruh serinya. Saat itu pula saya baru tahu bahwa moccachino itu pahit. Saat itu saya bertemu Mbak Na dengan kesederhanaan dan sapa ramah, serta bincang

Philokoffie Kini : Masihkah Bisa Disebut Rumah Kedua?

"There's a million places I can go But without you it ain't home It ain't home..." -Westlife, Home Selepas acara peluncuran antologi puisi Mengakrabi Sunyi yang digelar di Aula Kantor Dinas Pendidikan Kota Blitar, saya menyempatkan diri ke Philokoffie. Rasanya rindu juga, mengingat beberapa minggu ini saya absen "pulang" ke sini. Jam empat sore ini di Philokoffie terasa sepi. Deretan meja kursi membisu. Tak ada alunan lagu yang biasa terdengar dari laptop di sudut ruangan. Saya membalas senyum dan sapa ramah Mas Kharis, sebelum mengambil tempat di teras. Saya dan Fahri sempat bertukar cerita dengan Mas Kharis. Sekaligus juga memecahkan rasa penasaran akan ke mana perginya Mbak Ratna. Saya menduga, ia tengah berada di Surabaya, berkunjung ke sejumlah kafe di sana. *** Faktanya, justru lebih mengejutkan. Mbak Na sudah tak berada di kafe ini lagi sejak dua hari lalu. Alasannya, karena perbedaan prinsip. Jawaban bernada santai itu sontak memukul batin saya.