Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2013

Serius, Mau "Move On" dari Afgan?

Untukmu aku akan bertahan, dalam gelap takkan kutinggalkan... Sebaris kalimat itu, ada dalam lirik lagunya, bertajuk Untukmu Aku Bertahan. Tembang ini, bagiku, adalah sebuah janji yang tersirat dari Afgan, bahwa ia takkan pernah meninggalkan orang-orang yang berarti untuk hidupnya. Termasuk kita. Afganisme. Aku cukup dibuat heran dengan fenomena yang terjadi akhir-akhir ini. Di mana makin banyak saja mereka yang mengaku Afganisme, tapi mereka malah tak lagi setia mendukung hal-hal yang Afgan lakukan. Kalau aku pribadi, sih, tetap pada prinsipku sejak 2009 lalu. Bahwa menamai diriku dengan "Afganisme", artinya selalu mendukung tiap hal positif yang dilakukan lelaki 24 tahun itu. Terutama dalam karirnya. Jika ia menoreh prestasi, sekecil apa pun, maka kebanggaan juga menguar dari hatiku. Tanpa terlalu mengurusi hal-hal pribadinya. Ya, kuakui, sekarang aku memang tidak sejalan dengan pilihannya, yang menjadikan aktris pemeran utama film Perahu Kertas itu sebagai pemilik hatinya.

Mengapa Kita Ada?

"Sadari, bahwa setiap kita istimewa..." Siang yang belum terlalu siang, pun pagi yang sudah tak bisa lagi disebut pagi. Seperti biasa, berkawan kesendirian, kulewati hari itu dengan beberapa dering pesan masuk. Melewati rentang jarak dengan kisah singkat yang tertuang dalam pesan itu, darinya, orang yang baru beberapa bulan ini menjadi bagian hidupku. Dia, yang sama sepertiku, prematur, tapi juga diberi hydrocephalus dan kegagalan operasi luar negeri yang membuat kakinya harus disangga tongkat hingga kini. Dia, yang butuh waktu belasan tahun, hingga bisa mencapai titik ini. Menjadi pemilik kios sembako, toko online kaos, dan juga pemilik beberapa akun motivasi di Twitter. Menjadi setitik cahaya yang bisa menaklukkan keraguannya, membuatnya sanggup bertahan sendirian di salah satu wilayah Ibukota yang keras. Menelisik kisahnya, yang ia tuturkan dalam bahasa santai tapi ngena, membuatku lebih sadar satu hal. Bahwa setiap manusia memiliki prosesnya masing-masing. Tuhan sudah me

Membuka Kembali Enam Tahun Merah Putih

"Thanks a lot, for keep remembering and save me in your heart..." Siang setengah sore. Aku masih dibuai lelap dalam lelah yang baru sesaat, ketika tiba-tiba ponselku berteriak memberitahuku bahwa ada telepon masuk untukku. Sebuah deret angka, tak bernama. "Halo...." sapaku dengan suara sedikit serak. "Halo, Dinda... Kamu di mana sekarang?" "Aku di rumah. Ini siapa?" "Ini aku Ade... Aku di depan rumahmu sekarang..." Lambat-lambat, otakku mencoba mencerna inti percakapan itu. Ade...Ade.. di depan rumah? Wah! Seketika memoriku seperti dikembalikan seutuhnya. Buru-buru kusahuti suara di telepon itu. "Oh..iya, iya...Sebentar ya!" Aku langsung melompat bangun, menukar pakaianku dengan rok panjang, kaos lengan panjang, dan jilbab oranye. Lalu buru-buru membuka pintu depan. *** Aku memandang tak percaya pada sosok yang pertama kali tertangkap di mataku saat aku membuka pintu. Gadis cantik bermata sipit yang kini berjilbab itu tersenyu