Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Akhir Tahun dan Berita Pisah yang Tiba-Tiba (4-habis)

"Segala sesuatu ada waktunya. Tidak semua pemikiran harus dikeluarkan saat ini juga. Tidak semua perasaan harus diutarakan sekarang juga.'' —fiersa besari *** Tak menyangka. Itu yang pertama terbesit di kepala saya saat membaca balasan pesannya. Sore ini saya memang mengirim pesan untuk menanyakan salah satu kutipan Fiersa Besari favoritnya. Dan saya tak menyangka, karena kutipan di atas punya sedikit korelasi dengan catatan ini. *** Gadis ini biasa saya panggil Ara. Gabungan dari huruf terakhir di nama depan, dan dua huruf awal nama belakangnya. Lidah saya lebih suka dengan Ara, hampir senada dengan nama saya, Dara. Awal perkenalan kami disaksikan sebatang cokelat milik saya yang jatuh padanya atas kehendak semesta, dalam acara peluncuran Jejak-Jejak Kota Kecil 2016 lalu. Bertemu lagi dan bertukar sapa pertama kali dua minggu kemudian di koridor Perpustakaan Bung Karno, menandai hadirnya gadis pemalu ini dalam hidup saya. *** Sejak saat itu, nama Ara ada dalam chat histor

Akhir Tahun dan Berita Pisah yang Tiba-Tiba (3)

Saya melanjutkan catatan ini di hari ketiga bulan Januari, sambil mendengarkan permainan pianonya yang tak kalah apik dari pianis ternama. Kira-kira dua tahun lalu, tiba-tiba file lagu ini masuk ke Whatsapp saya. Betapa terkejutnya saat ia bilang itu adalah hasil aransemennya. Saat saya tanya apa judulnya, dia menjawab itu gita tak berjudul. Maka, kemudian saya masukkan lagu itu ke dalam playlist musik. Saya bubuhkan namanya sebagai judul. *** Irsyad. Begitu ia mengenalkan namanya. Kadang, ada beberapa orang yang salah memanggilnya Isa. Kadang pula ia mengenalkan diri sebagai Alex, yang disampaikan bercanda dengan raut wajah serius, hingga membuat lawan bicaranya percaya. Padahal, nama lengkapnya Irsyadul Ibad. Saya pertama kali menemukannya di Perpustakaan Bung Karno, di Ahad siang pertengahan Januari 2016. Awalnya, saya memanggilnya Irsyad, lalu bertransformasi menjadi Ibad, agar lidah lebih mudah melafalkannya. Kadang, saya juga memanggilnya Besar, seperti Alfa Anisa yang saya pan

Akhir Tahun dan Berita Pisah yang Tiba-Tiba (2)

Jika ada yang bertanya, untuk apa saya tuliskan ini? Apa artinya? Kenapa harus sampai se-lebai ini? Alasannya tiga. Pertama, kabar-kabar pisah dan kepergian ini datang terlalu mendadak, hingga cukup menggelisahkan saya hingga kini. Kedua, mereka yang akan pergi ini pernah menggoreskan cerita beragam warna dalam kehidupan ini. Dan ketiga, catatan ini harus saya tulis, dalam rangka mengabadikan kenangan dan merawat ingatan. Maka, inilah dia. Catatan akhir tahun berwarna abu-abu itu masih berlanjut. *** Alfa Anisa. Saya pertama kali bertemu dengannya tahun 2015, pada acara Silaturahmi Sastra di rumah Fahri. Saat itu, saya menjadi terasing di sana, sebab hanya Fahri saja yang saya kenal. Percakapan pertama saya dengan Alfa adalah untuk meminjam pulpen yang lupa tak terbawa. Entah kapan tepatnya saya mulai banyak bertukar cerita dengan gadis penyair ini. Yang pasti, keluarga saya di FLP bertambah lagi. Alfa beberapa kali mengunjungi rumah saya, pun sebaliknya. Kami juga saling meminjamkan k