Langsung ke konten utama

Akhir Tahun dan Berita Pisah yang Tiba-Tiba (3)

Saya melanjutkan catatan ini di hari ketiga bulan Januari, sambil mendengarkan permainan pianonya yang tak kalah apik dari pianis ternama.

Kira-kira dua tahun lalu, tiba-tiba file lagu ini masuk ke Whatsapp saya. Betapa terkejutnya saat ia bilang itu adalah hasil aransemennya. Saat saya tanya apa judulnya, dia menjawab itu gita tak berjudul. Maka, kemudian saya masukkan lagu itu ke dalam playlist musik. Saya bubuhkan namanya sebagai judul.

***

Irsyad. Begitu ia mengenalkan namanya. Kadang, ada beberapa orang yang salah memanggilnya Isa. Kadang pula ia mengenalkan diri sebagai Alex, yang disampaikan bercanda dengan raut wajah serius, hingga membuat lawan bicaranya percaya.

Padahal, nama lengkapnya Irsyadul Ibad. Saya pertama kali menemukannya di Perpustakaan Bung Karno, di Ahad siang pertengahan Januari 2016.

Awalnya, saya memanggilnya Irsyad, lalu bertransformasi menjadi Ibad, agar lidah lebih mudah melafalkannya. Kadang, saya juga memanggilnya Besar, seperti Alfa Anisa yang saya panggil Kecil.

***

Irsyad adalah seorang pendiam yang berpenampilan apa-adanya. Begitu kesan pertama saya saat melihatnya.

Tapi, ternyata ia sama-sekali tak pendiam. Kesan itu yang saya tangkap setelah banyak mengobrol. Irsyad adalah sosok humoris dan memiliki pola pikir berbeda dengan kebanyakan orang.

***

Dia menyelesaikan S1-nya di salah satu universitas di Malang, jurusan Desain. Selain itu, ternyata ia pun sudah bekerja di salah satu perusahaan desain interior. Dia juga penyuka fotografi, dan penikmat puisi.

Satu lagi yang istimewa, lelaki kelahiran Januari ini piawai memainkan sejumlah alat musik. Diantaranya piano, gitar, dan biola.

***

Hari Rabu lalu, lelaki berkacamata ini mampir ke rumah, untuk mengantar kue pesanan saya. Entahlah, tumben sekali saya ingin mencoba kue Makuta milik Laudya Chintya Bella. Biarlah, sesekali, hehehe.

Saya berkesempatan menuntaskan rasa penasaran akan beberapa hal kala itu. Termasuk menanyakan selentingan yang saya dengar minggu lalu, tentang rencana kepindahannya ke Bandung.

Dan ia mengiyakan. Untuk beberapa saat, saya terdiam. Rasanya sulit dipercaya. Berita pisah saya terima lagi malam itu.

Dia berkata pula bahwa sudah lama ingin pindah ke Bandung, karena lingkungan kerja di sana lebih cocok. Irsyad bahkan rela cuti dari kuliah S2-nya di ITS demi bekerja di Bandung.

***

Akhir 2017 kemarin menjadi saat Irsyad untuk pamit kepada rekan-rekan di FLP Blitar. Dia memberikan sejumlah saran untuk FLP Blitar, salah satunya mengadakan diklat untuk pengurus secara berkala.

Irsyad mohon diri sebelum forum usai. Inilah saat saya kehilangan satu lagi sahabat saya.

***

Ibad, terimakasih banyak untuk telah turut mewarnai hidup saya. Dan maaf jika saya sering merepotkanmu dalam beberapa hal.

Kamu membuat saya iri, karena bisa pergi ke kota yang telah lama ingin saya datangi. Sampai bertemu lagi. Oh ya, jangan lupa. Kamu tetap menjadi desainer cover buku saya nanti, ya. Hahaha...

Satu hal yang saya kagumi darimu. Kamu adalah seorang multitalenta yang tetap terlihat biasa dan apa-adanya.[]

...bersambung...

3 Januari 2018
Adinda RD Kinasih

Behind the Pict : Diabadikan oleh salah satu teman, ini adalah momen saya berkolaborasi dengan Ibad dalam sebuah acara Sastra di Unisba. Saat itu, saya membawakan lagu Sempurna milik Andra & The Backbone, dengan waktu latihan hanya semalam saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama