Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2016

Benda Mungil Pengobat Rindu

Suatu siang, saya dikejutkan dengan kedatangan lelaki berjaket oranye. “Dari Pos, Mbak…” ucapnya. Sejenak saya keheranan. Ada kiriman apa, dan dari siapa? Seingat saya, modul kuliah baru dipesan kemarin, dan tak mungkin sampai secepat ini. Saya tersadar saat lelaki itu menyodorkan sebuah amplop sedang berwarna putih. Dan saya merasa surprise saat membaca nama pengirim dan alamatnya. Ini dari Lulu Arbi, salah satu teman sesama Afganisme yang tinggal di Klaten. Jadi, ternyata dia benar-benar mengirimnya ke sini? Sungguh, saya tak menyangka. Sepeninggal Pak Pos, saya buru-buru membuka amplop itu. Hanya ada sebuah benda mungil hitam yang terbungkus plastik di dalamnya. Ya, sebuah flashdisk. Jadilah saya makin penasaran. Begitu flashdisk itu terbuka, senyum saya melebar tanpa bisa dicegah. Saya terperanjat saat menemukan belasan folder yang berisi mungkin ratusan video—mulai dari film, videoklip, iklan, acara-acara talkshow, berita-berita tentang Afgan, juga berbagai penampilan Afgan dal

Membuka Kembali Enam Tahun Merah Putih (Membincang Cerita dalam Pesta)

Pada sebuah pagi menjelang siang yang terik, aku duduk dengan bermandi peluh dan jenuh. Ternyata benar yang dikatakan sebagian orang, bahwa menunggu adalah kegiatan paling menyebalkan. Hari ini lumrah disebut Sabtu, akhir pekan, malam minggu, atau weekend. Tapi bagiku, Sabtu kali ini bernama The Big Day. Ada beberapa momen berkesan yang kunamai serupa, dan salah satunya adalah Sabtu ini. ♯ Seminggu lalu, kudapati Ade duduk di teras rumahku dengan senyum lebar. Ini mengejutkan, karena kami memang sudah cukup lama tak bertemu. Dan yang lebih mengagetkan—sekaligus menggembirakannya adalah sebentuk undangan yang disodorkan padaku. Wah, ternyata undangan ini untuk hari istimewa Niko, yang akan segera melepas masa lajangnya. Aku tersenyum. Tak sabar rasanya menunggu waktu seminggu lagi. Akankah setumpuk kenangan, riuh canda, dan gulungan cerita baru berpadu lagi, nanti? ♯ Kembali ke siang ini, yang rupanya makin panas saja. Berusaha kuhalau jenuhku dengan menonton TV. Tapi gundah mulai merec

Berada di Titik Jenuh

Selepas lulus SMA, saya berkuliah di sebuah universitas dengan sistem belajar jarak jauh, Universitas Terbuka. Itu adalah saran orangtua, dengan harapan saya bisa tetap intens berlatih untuk membuat kondisi kaki saya lebih baik, sambil kuliah di rumah. Awalnya, saya mengambil jurusan Sastra Inggris Penerjemahan. Kemudian, saat masuk semester dua, saya mengambil satu jurusan lagi, yakni Perpustakaan. Menjalani kuliah dengan dua jurusan memang tidak mudah. Awalnya saya merasa sangat berat, dan sempat menyesal karena telah mengambil dua jurusan. Saya sempat berada di titik jenuh. Saat itu, saya berusaha mengatasinya dengan menulis, membaca, mendengarkan musik, nonton film, bahkan nge- game. Kadang juga bertukar kabar dengan kawan-kawan lama. Namun, lambat laun saya mulai bisa menikmatinya; kegiatan belajar yang hanya tiga bulan, hanya ada sekali ujian akhir, juga tak adanya teman dan dosen untuk mengatasi kesulitan. Apalagi setelah pada 2014, saya bisa menjalani PKP (Praktik Kerja Perpus