Langsung ke konten utama

Membuka Kembali Enam Tahun Merah Putih (Membincang Cerita dalam Pesta)


Pada sebuah pagi menjelang siang yang terik, aku duduk dengan bermandi peluh dan jenuh. Ternyata benar yang dikatakan sebagian orang, bahwa menunggu adalah kegiatan paling menyebalkan.

Hari ini lumrah disebut Sabtu, akhir pekan, malam minggu, atau weekend. Tapi bagiku, Sabtu kali ini bernama The Big Day. Ada beberapa momen berkesan yang kunamai serupa, dan salah satunya adalah Sabtu ini.

Seminggu lalu, kudapati Ade duduk di teras rumahku dengan senyum lebar. Ini mengejutkan, karena kami memang sudah cukup lama tak bertemu. Dan yang lebih mengagetkan—sekaligus menggembirakannya adalah sebentuk undangan yang disodorkan padaku. Wah, ternyata undangan ini untuk hari istimewa Niko, yang akan segera melepas masa lajangnya.
Aku tersenyum. Tak sabar rasanya menunggu waktu seminggu lagi. Akankah setumpuk kenangan, riuh canda, dan gulungan cerita baru berpadu lagi, nanti?


Kembali ke siang ini, yang rupanya makin panas saja. Berusaha kuhalau jenuhku dengan menonton TV. Tapi gundah mulai merecokiku. Kulongok ponsel berkali-kali, barangkali ada pesan baru yang masuk ke sana. Tapi ponsel itu masih membisu.
Ah, ayolah, sabar… Tunggu sebentar lagi.

Benar saja, tepat jam setengah satu siang, sebuah minibus merah menepi di depan rumah. Aku, yang sudah beralih menunggu di teras pun tersenyum lega, saat Ulfa melangkah masuk.
     “Dinda, udah lama ya nunggunya?” pertanyaan itu yang pertama terlontar. Aku nyengir.
     “Lumayaan,” jawabku jenaka. Ulfa beberapa kali meminta maaf, dan aku hanya tertawa menanggapinya. Tak apa-apa, yang penting sekarang jadi, kan?
Kami pun berjalan menuju mobil. Begitu Ulfa membuka pintu depan mobil, kutemukan satu kejutan di sana! Ada dia, seorang Sahabat Merah Putih yang terakhir kutemui pada pertengahan 2014 lalu. Donny!
Dia pun tersenyum lebar sambil menyalamiku. Ternyata di jok belakang sudah ada Fian dan Dimas. Aku pun menyalami mereka berdua, masih dengan senyum yang sama.

Setelah Ulfa mengambil tempat di jok tengah, mobil melaju. Sebelum menuju rumah Ade di kawasan Garum, kami menjemput Sinta dulu. Seperti biasa, di sela perjalanan, ada obrolan sarat gurauan yang mewarnainya.
Sampai di rumah Ade, kami memutuskan langsung berangkat ke lokasi pernikahan Niko, bersaman dengan Edo dan Ikra yang baru datang.
Namun sebelumnya, kami menuju rumah Gilang yang tak jauh dari rumah Ade. Ternyata saat kami sampai di sana, Gilang masih mandi. Hmm, sepertinya kadar sabar harus ditambah lagi, nih…hehehe.
 

Akhirnya tiga mobil berangkat menuju Wlingi. Aku berada di mobil Ulfa, bersama Donny, Dimas, dan Sinta. Di depan kami, mobil Gilang melaju bersama Edo, Ikra, dan Fian. Sementara, mobil Fafan berada paling depan, bersama Ade, Pipit, dan Yogi.
 

Masih sama, perjalanan ini terasa makin seru, diwarnai cerita dan canda. Aku tak terlalu banyak bicara, hanya sesekali menimpali pembicaraan mereka. Senyumku enggan memudar dari wajah. Rasanya aku ingin waktu berhenti di sini saja, agar bisa lebih lama berkumpul bersama para sahabatku ini. 

Satu jam kemudian, sampailah kami di rumah Niko. Suasana di sana masih sangat ramai. Aku dan yang lain pun harus sabar mengantre untuk bersalaman dengan kedua mempelai. Ada rona bahagia bercampur gurat lelah di wajah Niko dan Malinda. Mereka berdua tersenyum lebar menyambut kedatangan kami. Setelah bersalaman, kami pun berfoto bersama.
Tak lupa, kami menyantap hidangan yang tersedia, tentunya masih disertai rangkaian cerita. Di sela-sela makan, terdengar lantunan All of Me-nya John Legend. Rupanya ada Donny dan Pipit yang bergabung dengan home band di sudut panggung, berduet membawakan lagu itu. Bahkan kemudian, mereka juga menyenandungkan A Thousand Years.


Setelah sekitar satu setengah jam menikmati acara, kami pun mohon diri dari sana. Kali ini, kami menuju rumah Ade. Kehadiran kami langsung mengubah situasi lengang di sana menjadi riuh. Sayangnya, Yogi tak bisa bergabung dengan kami, karena dia langsung pulang.

Tak berapa lama, ibunda Ade juga menemui kami. Kami pun menyalaminya bergantian. Suasana berubah hening. Kami kehilangan kata-kata, tak tahu harus bagaimana mengawali percakapan dengan beliau. Hanya Donny yang menjawab satu-dua pertanyaan yang beliau ungkapkan. Ada setitik sedih di hatiku saat melihat kondisi beliau.
Semoga cepat pulih ya, Bu...

Kami masih enggan mengusaikan perjalanan ini. Tapi, kami pun juga masih bingung menentukan destinasi selanjutnya. Beberapa saran terlontar, mulai dari ke kafe, ngobrol di alun-alun, hingga karaokean bersama. Namun, beberapa dari kami agak ragu dengan usul itu, karena waktu yang ada sudah makin sempit.

Hingga kemudian, pilihan jatuh pada sebuah tempat makan di daerah Jalan Ciliwung. Beberapa menu dipesan, mulai dari ikan bakar, bakmi goreng, sampai salad buah. Aku hanya mengorder jus alpukat, karena masih kenyang.
Semua masih sama. Lesehan yang kami tempati, mungkin jadi yang paling ramai diantara lainnya. Tentu saja karena riuhnya suara kami yang gantian berkisah, dipadu dengan gurauan. Di sela-sela obrolan mereka, aku bertukar cerita tentang Jogja dengan Sinta, yang juga sedang menempuh S2 Hukum di UGM. Membincangkan Jogjakarta dengannya berhasil mengembalikan rindu dan inginku untuk kembali ke sana.



Dan akhirnya, inilah yang harus terjadi. Ada temu, juga pasti ada pisah. Begitu pula dengan segala kisah yang tertuang hari ini, semua harus rela dihentikan waktu. Di halaman restoran, aku berpamitan dengan Ade, Gilang, Edo, Ikra, Fian, dan Pipit. Mereka akan kembali ke rumah Ade untuk mengambil motor masing-masing. Sementara aku, tetap berada di mobil Ulfa bersama Donny, Dimas, dan Sinta.

Setelah mengantar Sinta hingga ke depan gang rumahnya, mobil mengarah ke rumahku. Ya, kini giliranku pulang.
Dalam perjalanan, ada sepercik sedih menyergap hatiku. Ah, rasanya ini terlalu singkat. Sangat sebentar. Semestinya reuni ini bisa berlangsung lebih lama. Seharusnya The Big Day ini bisa menjadi lebih panjang. Rasanya rindu ini masih menggunung.

Entah kenapa, perjalanan ke rumahku malam ini terasa sangat cepat. Donny memarkirkan mobil di seberang jalan, kemudian kami berempat melangkah ke rumahku. Ketiga sahabatku itu hanya menyalami ayahku sebentar, dan kemudian mohon diri. Sungguh, aku jadi sedih. Aku masih merindukan kalian!
Tapi aku mengerti, malam sudah makin merambat. Aku yakin, kelelahan yang sama juga mendera kalian. Apalagi esok kalian juga akan melakukan berbagai agenda.

Maka, tulisan ini juga harus kuusaikan. Tak ada kata lain yang bisa kuucap selain terimakasih.

Untuk kalian; Ulfa, Donny, Dimas, Sinta, Fian, Ade, Pipit, Fafan, Gilang, Edo, Ikra, dan Yogi. Terimakasih telah menjadi bagian dari The Big Day-ku kali ini. Terimakasih telah mewarnai separuh hariku dengan tumpukan kenangan, cerita, dan canda yang kalian bawa.
Maafkan aku karena sudah merepotkan kalian, ya… Semoga kalian tidak kapok untuk mengajakku reunian lagi, hehehe…
Sukses selalu, untuk apa pun yang sedang kalian perjuangkan saat ini. Doaku selalu bersama kalian.

Dan untuk Niko dan Malinda, selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia selalu. Terimakasih untuk undangan istimewa yang sekaligus menjadi ajang reuni ini. Terimakasih untuk meriahnya rangkaian pesta, karena di sanalah kita bisa kembali bertemu dan membincang cerita.


Thanks a lot, Guys. All of you are my remarkable friends! See you soon!
 

“Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini…”
—Project Pop, Ingatlah Hari Ini

 
Sabtu, 16 Januari 2016
Adinda R.D Kinasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama