Langsung ke konten utama

A Tribute and Review Note - Glenn Fredly 20 : Ramuan Kisah Cinta dari Belasan Tembang Romantis






Judul : Glenn Fredly 20
Penulis : Moammar Emka, Bernard Batubara, Gita Romadhona, Anggun Prameswari, dkk.
Penerbit: EnterMedia, Jakarta
Tebal Buku: 220 halaman
Tahun Terbit: 2015


"Saat anak-anakku menjelma karya sastra..."
-Glenn Fredly, 2015. Dari kutipan dalam buku "Glenn Fredly 20"

Saya mendapatkan buku ini kemarin pagi. Di tengah tumpukan pekerjaan dan semangat yang hampir luruh, datangnya buku ini menjadi penambah energi yang ampuh.

Awalnya, saya pikir buku berusia lima tahun ini adalah sebuah biografi. Ya, bukan tak mungkin, jika musisi sekaliber Glenn membuat biografi dirinya dengan menggandeng seorang penulis ternama.

Tapi rupanya saya salah. Buku ini berisi 13 cerpen melankolis nan romantis karya 12 penulis.
Judul-judul cerpen ini tentunya diambil dari sejumlah judul lagu hits Glenn yang terserak dalam-setidaknya lima albumnya, yakni Kembali (2000), Selamat Pagi Dunia (2004), OST. Cinta Silver (2005), Lovevolution (2010), dan Luka, Cinta & Merdeka (2012).

Lalu, mengapa buku ini diberi judul Glenn Fredly 20? Sebab, tahun 2015 adalah genap duapuluh tahunnya Glenn berkarya di industri musik Indonesia.

*

"Setiap lagu yang saya tulis, setelah dinikmati orang banyak, itu bukan milik saya lagi. Jadi, lagu itu akan menentukan pendengarnya sendiri."
-Glenn Fredly, 2019


Ya, saya akui sangat terlambat memiliki buku ini. Sebab, semua tentang Glenn Fredly di dalam kepala saya hanya tentang deretan tembang hitsnya. Sama sekali tak terpikir jika seorang Glenn akan membuat buku.

Bicara soal lagu-lagu, ada cukup banyak karya pria yang biasa disapa Bung ini yang saya kenal. Sebut saja Januari, Terpesona, Cukup Sudah, Kasih Putih, Akhir Cerita Cinta, Sedih Tak Berujung, dan Sekali Ini Saja. Tentunya lagu-lagu ini juga sudah banyak diketahui orang.

Berbekal rasa suka pada tembang-tembang tersebut, saya pun ingin mengoleksi album Glenn Fredly. Rasanya lemari kaset saya belum lengkap jika album Glenn tak ikut jadi penghuninya.
Kalau tidak salah, saat itu tahun 2004. Album Glenn yang baru dirilis kala itu bertajuk Selamat Pagi Dunia! dan di dalamnya ada deretan lagu kesukaan saya tadi.

Namun, Ayah melarang saya membelinya. Ayah memang tak terlalu suka pada warna suara dan cara bernyanyi Glenn. Saya sempat kecewa, tapi bisa apa? Mayoritas kaset koleksi saya saat itu memang dibelikan orangtua.

*

Jadilah, saya hanya tahu lagu-lagu Glenn berikutnya sepintas saja, lewat radio dan dunia maya. Itu pun tidak banyak. Ada Terserah, Hikayat Cinta, Kisah Romantis, Pada Satu Cinta, juga Cinta dan Rahasia yang dibawakannya bersama Yura.
Kemudian, tembang Nyali Terakhir dan Sabda Rindu menarik minat indera dengar saya sejak nonton film Surat dari Praha tahun 2016.




Belakangan, tembang milik Dee Lestari, Malaikat Juga Tahu dinyanyikan kembali oleh Glenn. Selanjutnya, terjadilah sebuah kolaborasi tak terduga antara Glenn, Yovie Widianto, dan Tulus dalam lagu Adu Rayu. Terakhir, ia sempat merilis sejumlah single dan album bertajuk Romansa ke Masa Depan setahun lalu.

*

Berita wafatnya Glenn beberapa hari lalu sungguh mengejutkan banyak pihak, termasuk saya. Banyak yang tak menyangka, ia sudah berjuang melawan radang selaput otak sejak sebulan terakhir.

Ada secuil sesal di benak saya. Mengapa dulu tak sempat membeli kasetnya satu pun. Sejak pria Ambon ini tiada, kumpulan lagunya tak absen menemani hari-hari saya di rumah. Sejumlah video wawancaranya dengan sejumlah pihak di tahun-tahun lalu pun saya tonton. Terimakasih kepada aplikasi pemutar lagu digital dan YouTube, tentunya.






Dari rangkaian interviu itulah saya tahu bahwa Glenn sempat membuat buku di tahun 2015. Bertepatan dengan 20 tahun berkaryanya di dunia musik.

Saya langsung mencoba peruntungan, meminta tolong pada sahabat saya untuk mencarikan buku ini di toko online. Setelah melalui proses dan waktu tunggu yang tak terlalu lama, sampailah buku ini di genggaman.

*

Kini saya sedikit lega. Setidaknya ada satu karya (yang berhubungan dengan) Glenn yang saya punya, dan itu bisa dibilang langka.

 


Buku Glenn Fredly 20 ini mirip seperti Rectoverso milik Dee, juga buku kumpulan cerpen Kahitna, Diantara Kebahagiaan, Cinta, dan Perselingkuhan. Dua buku ini juga menggunakan judul-judul lagu mereka dan dikembangkan menjadi cerpen.

*

Akhirnya, Selamat Jalan, Kak Glenn Fredly. Terimakasih untuk lagu-lagumu yang masih menemani hingga kini. Ketahuilah, kau akan tetap hidup lewat lagu-lagu itu. Terimakasih untuk banyak inspirasi yang kau curahkan bagi Indonesia.




Saya tahu, 2020 ini harusnya jadi perayaan 25 tahunmu berkarya di dunia musik. Tapi, kini kau sedang merayakannya juga, bahkan dengan lebih bahagia di sisi-Nya. Di tempat yang lebih baik. Semoga.

Rest in peace, love, rhythm, melodies, music, and symphony. You'll always be missed.[]

"...karena pada akhirnya yang kita tinggalkan bukan sekadar nama baik. Lebih penting jika kamu meninggalkan jejak pada sebuah generasi dengan karya."
-Glenn Fredly, 2015


14 April 2020
Adinda RD Kinasih


Keterangan Foto:

1. Buku Glenn 20.
2. Tangkap layar playlist lagu Glenn Fredly di Spotify.
3. Buku Rectoverso karya Dee Lestari.
4. Buku Diantara Kebahagiaan, Cinta, dan Perselingkuhan karya Kahitna.
5. Glenn Fredly (from Pinterest)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama