Langsung ke konten utama

Terimakasih, Cecep Reza




Siapa tak kenal bocah lelaki gendut usil yang kerap punya akal untuk mengganggu saudara tirinya ini? Ah, ya mungkin kalian lupa. Biar saya tulis dulu namanya. Bombom. Dan saudara tirinya bernama Lala.

Bagaimana? Sekarang sudah ingat?

Nama aslinya Muhammad Syariful Zanna. Tapi ia lebih dikenal dengan sebutan Cecep Reza. Akting apiknya sebagai Bombom di sebuah sinetron tahun 2000-an lalu sempat melambungkan namanya. Selain itu, ia pun sempat bermain dalam sinetron Pesantren & Rock 'n Roll season 3, di tahun 2013.

Setelah itu, ia jarang sekali muncul di televisi. Mungkin hanya ada sejumlah interview dari program infotainment, yang menanyakan kabar dan kesibukannya kini. Rupanya, ia kini menjadi fotografer, sudah menikah, dan punya seorang putri berusia empat tahun.

*

Sekitar seminggu yang lalu, sebuah berita yang berasal dari sejumlah media online mengejutkan saya. Mereka menuliskan, Cecep Reza telah wafat. Kabarnya karena serangan jantung. Awalnya, saya tak percaya, tentu saja. Bagaimana mungkin? Ia masih sangat muda, 31 tahun.

Tapi kemudian, ucap-ucap duka dan sesal banyak menghiasi linimasa Instagram saya. Ada yang mengungkap rasa tak percaya akan kepergiannya yang begitu tiba-tiba. Ada yang mengenang pertemuan terakhir dengannya di malam sebelumnya. Bayangkan. Semalam sebelumnya, ternyata ia masih sempat menerima job photoshoot. Ada pula yang mengungkap penyesalan, sebab tak bisa penuhi pintanya untuk saling bertemu.

*

Beberapa hari setelah kepergiannya, Marshanda mengunggah video berisi puisinya untuk Cecep Reza, disertai cuplikan-cuplikan interaksi mereka berdua. Rupanya, beberapa waktu lalu, mereka sempat bertemu dan melakukan pemotretan.

Dalam video itu, aktris ini menyatakan kesedihan yang teramat dalam. Ia sempat menyesalkan, mengapa Cecep Reza harus dipanggil secepat ini. Tapi kemudian, di akhir puisinya Marshanda berkata ia akan berusaha ikhlas dan berharap Cecep ditempatkan di surga-Nya.

*

Lalu, mengapa saya ucapkan terimakasih untuk Cecep Reza?

Sebab, perginya memberi pelajaran. Bahwa kematian sungguh tak kenal usia dan tak terduga datangnya.

Teringat lagi beberapa ungkapan penyesalan dari sahabat-sahabat Cecep yang tak sempat bertemu dengannya. Teringat sejumlah cerita tentang kebersamaan yang rasanya terlalu sebentar. Teringat sekelumit kenangan tentang Cecep yang dibagikan istrinya di linimasa.

*

Maka, lewat coretan sederhana ini, saya hanya ingin menyampaikan. Luangkanlah waktumu untuk orang-orang yang menyayangimu. Sisihkan waktu membalas pesan, menjawab panggilan telepon, atau bahkan bertemu langsung. Hargai setiap detik yang kamu lewati bersama mereka. Bagikan apapun yang bisa kamu bagi. Lara, tawa, canda, cerita, keluh, semangat, harapan, apapun itu. Jangan tunda untuk meminta maaf jika kamu merasa punya salah terhadap mereka.

Karena sungguh, kita takkan pernah tahu sampai kapan raga ini bernyawa.

Juga, maafkan saya untuk segala luka yang tersebab lisan dan laku yang menyakitkan. Maafkan untuk setiap waktu yang belum sempat saya sisihkan.

Untuk segala hal menyedihkan yang terjadi belakangan ini, saya harap semua bisa kembali baik-baik saja. Alasannya sederhana. Karena saya hanya ingin menjaga baik-baik titipan Tuhan. Ialah kalian, yang saya namakan sahabat, keluarga, saudara, dan orang lain yang sempat beri arti pula.

Terimakasih kalian, untuk banyak warna yang telah ditorehkan.
Dan terimakasih, Cecep Reza. Semoga Allaah menempatkanmu pada tempat paling mulia di sisi-Nya. Aamiin...[]

26 Nopember 2019
Adinda RD Kinasih


Sumber gambar : Instagram @cecepreza_

loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama