Langsung ke konten utama

Masa Sekolah (3) - Sekolah Dasar






Enam tahun Merah Putih saya jalani di sebuah sekolah bernama SDI Kardina Massa, di Jalan Kalimantan. Saya mulai masuk SD di usia 6,5 tahun, kalau tidak salah di 1998.

Kawan-kawan di masa SD inilah yang paling saya ingat. Sebab, kami sempat bertemu lagi di Lebaran tahun 2012. Beberapa dari mereka menyempatkan ke rumah saya. Setelah itu, ada beberapa kali lain kami bertemu, di sejumlah acara.




Selain itu, saya masih menyimpan sebuah diari berisi biodata mereka semua. Ada pula satu lembar yang memuat tanggal ulangtahun mereka semua. Dulu, menulis biodata adalah kegembiraan tersendiri. Selalu ada pulpen warna-warni dan aneka model tulisan. Pokoknya kami berlomba menuliskan biodata seindah mungkin, hahaha...

*

Bicara masa SD adalah salah satu masa yang penuh warna juga bagi saya. Ada bermacam reaksi dari teman-teman terkait kondisi kaki saya.

Ada yang selalu sabar menemani dan membantu saya, juga menunggui saya. Karena saat SD dulu saya lamban sekali dalam melakukan banyak hal yang dianggap sepele.




Misalnya, mulai dari hal-hal ringan, seperti memakai kaus kaki dan sepatu, berganti seragam setelah pelajaran Olahraga, memakai dan melipat mukena, hingga saat menuruni anak tangga dan berwudlu. Maka, teman-teman membantu saya agar bisa lebih cepat.

Tapi ada pula teman yang hobi meledek dan menirukan cara berjalan saya. Namanya Gilang Yulio Putra.

Dari semua siswa, hanya dia yang melakukan itu. Itulah yang membuat saya susah lupa padanya. Lucunya, meski suka meledek, Gilang sering meminjam ikat pinggang saya saat akan Upacara Bendera. Juga sering meminta minum saya setelah olahraga.

Saat bertemu lagi di tahun 2012, ia berulangkali minta maaf pada saya atas semua tingkahnya itu. Namun kini justru tak ada kesal, malah tertawa jika mengingat itu semua.

*

Dengan kondisi kaki dan berdiri yang tak stabil ini, awalnya, saya diperbolehkan ikut upacara dan olahraga semampu saya. Tapi kemudian saya hanya diijinkan menunggu di kelas saat upacara, dan duduk di teras saat semua teman olahraga. Tapi saya masih ikut senam pagi, lho. Meski dengan gerakan yang tak sempurna.




Pernah pula, saat pelajaran Olahraga, guru mengajak kami semua berjalan-jalan pagi lewat jalan setapak di dekat areal persawahan. Saya, yang tak kuat berjalan jauh, ternyata diajak juga. Guru meminta Heru, salah satu teman saya, untuk membawa sepeda onthel-nya dan membonceng saya. Hehehe, terimakasih Heru. Apakah kamu masih ingat saya?

*

Hampir semua guru di SDI saya ingat. Beberapa diantara mereka yakni Pak Khoirul Anam, guru Bahasa Inggris, Pak Chamim Afandi, yang dulu sempat menjadi Kepala Sekolah sekaligus guru Agama Islam.
Ada pula Pak Ari, guru IPA dan Olahraga, Pak Fuad, guru Olahraga, Pak Priyo, guru TIK, dan Pak Edi, guru Kesenian.

Tak lupa, ada Bu Susiati, guru IPS dan Wali Kelas saat saya kelas enam. Bu Uvik Zuraida, guru Matematika, Bu Mamik Sukatmi, guru Bahasa Daerah dan PKN, Bu Masfufah, guru Kesenian, Bu Musdzalifah, guru Praktik Ibadah dan Bahasa Jawa, Bu Siti Chalimah, guru Bahasa Arab, Bu Lilik guru Bahasa Indonesia, juga Bu Isti Indiyah, guru Bahasa Inggris.




Kala itu, SDI Kardina Massa memang belum lama berdiri. Saya dan kawan-kawan adalah angkatan ketiga saat itu. Jadi maklum saja, jika satu guru bisa mengajar dua mata pelajaran atau lebih.

Maafkan bagi yang belum tertulis di sini, karena untuk bagian ini, saya pun cukup sulit membuka memori. Semoga Bapak dan Ibu Guru sehat selalu.

*

Selain itu, di SD dulu saya juga sering diminta menyanyi di acara pentas seni sekolah. Saat saya akan tampil, di panggung selalu ada kursi yang tersedia. Saya akan menyanyi sambil duduk di sana. Kadang, saya berdiri sambil berpegangan pada kursi itu.

Ada cukup banyak lagu yang pernah saya nyanyikan. Misalnya, sejumlah lagu Islami anak-anak, tembang-tembangnya Sherina, bahkan lagu hits Westlife, I Have A Dream juga sempat saya nyanyikan.




Pernah, kala itu saya menyanyikan lagu berjudul Serumpun Padi. Tapi, memasuki tengah hingga akhir lagu, saya mendadak blank dan lupa lirik. Jadilah, sepanjang menit itu saya hanya berimprovisasi seadanya.




Begitu musik usai, saya lekas turun dari panggung, dan membenamkan wajah di pelukan Bu Mamik. Ya, saya menangis, karena merasa gagal dalam penampilan itu. Walaupun Bu Mamik telah menenangkan dan menghibur saya, rasa malu dan sesal itu tetap ada. Rasanya cukup menggelikan jika diingat kini.

*

Di perpisahan kelas enam edisi angkatan saya, saya menyumbang lagu juga. Saya membawakan lagu Auld Lang Syne dari Dougie MacLean. Lagu itu juga telah banyak dinyanyikan dan diaransemen ulang, misalnya oleh Mariah Carey. Musisi Kenny G pun membawakan versi instrumental lagu ini dengan saxophone-nya.

Tapi, saat itu saya menyanyikannya dengan pelafalan Bahasa Inggris yang cukup berantakan. Ah, sayang sekali.




Selain itu, di acara perpisahan kami juga ada penampilan seluruh siswa kelas A dan B dalam sebuah drama komedi. Ada juga penampilan beberapa siswi kelas A dan B yang membawakan modern dance. Saya ingat betul iringan lagunya. Yakni tembang Westlife yang berjudul What I Want is What I've Got.

Kemudian, perpisahan diakhiri dengan menyanyikan lagu Hymne Guru dan foto bersama seluruh guru SDI Kardina Massa.

*

Terimakasih SDI Kardina Massa, untuk semua warna, ilmu, kisah, dan kenangan. Terimakasih para guru, untuk kesabaran dan ketelatenan dalam mendidik kami semua, khususnya dalam menerima kondisi saya.




Dan, terimakasih teman-teman, untuk tetap mengingat saya hingga hari ini. Meski kini kita sudah jarang bertemu, saya selalu berdoa agar kalian semua sehat dan bahagia selalu.[]

29 Nopember 2019
Adinda RD Kinasih

Keterangan Foto:

1. Kunjungan teman-teman ke rumah saya - 2012. On Pict: Demmy, Fafan, Arif, Ulfa, Ade, Dea, Pipit, saya, Sinta, Geby, Donny, dan Fian.

2. Buku diari berisi biodata.

3. Kunjungan ke rumah saya, Desember 2013. On Pict: saya, Ajeng, Gilang, Geby, Ade, Santi, dan Rendik.

4. Dalam balutan seragam identitas SDI Kardina Massa. Awalnya, model bajunya memang seperti SD pada umumnya. On Pict: Pak Edi, Bu -saya lupa namanya-, Ajeng, Dea, saya, Ivo, dan Pipit.

5. Bersama Bu Susiati di pernikahan Edo. On Pict: Fian, Rendik, Helin dan putrinya, Pipit, Ade, Gilang, Bu Susiati, dan saya.

6. Kunjungan Lebaran ke rumah saya, lupa tahun berapa. On Pict: Fian, Rendik, Dimas, Ade, Ikra, Ulfa, Gilang, saya, dan Pipit.

7. Saya saat mengikuti lomba karaoke di MI Hidayatullah Blitar. Lupa saat itu kelas berapa. On Pict: saya, Dewi, dan sang ibu, Almh. Ibu Suhartin. Mereka menyempatkan diri nonton saya. Walau akhirnya saya kalah dalam lomba itu. Hehehe.

8. Perjalanan ke pernikahan Pipit. On Pict: Helin, Ade, saya, dan Dimas.

9. Kunjungan Lebaran ke rumah saya, lupa tahun berapa. On Pict: Ade, Fafan, saya, Ulfa, dan Niko.

Nb. Sebenarnya masih banyak foto lainnya, tapi tersimpan di album foto dan laptop.




loading...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama