Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

Lebaran #2

26 Juni 2017. Inilah yang saya tunggu. Mudik! Hehehe. Ya, saya tak mau ketinggalan menjadi bagian dari momen langka ini. Meski sebutan lebih tepatnya bukan mudik; hanya silaturahmi dengan sejumlah kerabat di Malang. Saya lahir dan sempat menghabiskan sebagian masa kecil di Malang. Mungkin itu yang membuat saya begitu menyukai kota ini, bahkan merindukannya jika lama tak berkunjung. Entahlah, meski kini udaranya tak sesejuk dulu, kemacetan pun hampir selalu terjadi di tiap ruas jalanannya; tapi Malang masih teristimewa buat saya. *** Berangkat dari Blitar pukul lima tigapuluh, saya sampai di Malang sekitar jam sembilan. Perjalanan kali ini memang santai saja. Untunglah lalu lintas tak terlalu padat. Justru dari arah Malang menuju Blitar yang macet cukup panjang. Jam sembilan pagi. Dengan sedikit tak percaya, saya melihat sekeliling. Jalanan Malang lengang, warung-warung pun masih lelap. Ini wajah Malang yang tak biasa. Perut yang mulai keroncongan pun harus lebih bersabar lagi menunggu

Lebaran #1

Hari pertama Lebaran yang jatuh pada Ahad, 25 Juni ini dilalui dengan cukup sederhana. Selepas shalat Ied di masjid dekat rumah, saya bersama ayah, ibu, dan adik sarapan. Kemudian, seperti tradisi di tahun-tahun lalu, kami menuju rumah Eyang Putri. Setelah sungkeman, bagi-bagi angpau tak ketinggalan. Suasana makin ramai saat keluarga sepupu dari Pakunden datang. Menikmati es drop sambil nonton televisi, berhasil meriuhkan ruang tengah rumah Eyang yang lebih sering dihuni sepi. Hingga saya pulang di jam dua siang, tak ada tamu yang bertandang. Mungkin mereka masih menikmati kebersamaan dengan keluarga masing-masing. Usai Maghrib, tak lupa menonton yang selalu ditunggu. Kemenangan Valentino Rossi pada balapan di Assen hari ini menjadi hadiah Lebaran juga untuk saya.[] 25 Juni 20!7

Definisi Bahagia

Untuk Ayah dan Mama... Nasihat 'keras' Ayah semalam sungguh berhasil memukuli hati. Di depan, airmata ini berusaha keras kutahan, meski akhirnya tumpah tak tertahan di belakang. Maafkan. Kiranya menangis tak melulu menggambarkan kekanak-kanakan. Kita perlu menangis sejenak, untuk kemudian menyusun kekuatan baru lagi. Baiklah. Maafkan aku untuk telah mengakhiri setiap Minggu dengan pulang malam. Maafkan aku untuk telah memutus bincang penting Ayah demi menjemputku. Maafkan untuk aku yang belum se-mandiri itu. Masih selalu merepotkan, dan belum bisa membanggakan Ayah dan Mama hingga detik ini. *** Ayah pernah berkata, "Kalau memang sekiranya nulismu itu hanya jadi hobi, segera pikirkan alternatif lain." Ya. Menulis memang hobiku, dulu. Tapi sekarang aku mulai menyadari, menulis pun bisa 'kuperjuangkan' agar tak hanya jadi hobi. Maka, aku belum berhenti. Dan masih menulis di sela kegiatanku yang lain. Merangkai ide dan kata bukan pekerjaan mudah. Mungkin dari jau

Sedikit tentang Hidup

Malam melarut. Dan aku ingin berbagi sedikit tentang hidup. Kita dihadiahi kehidupan lewat rahim ibu. Selepas sembilan bulan, sesungguhnya kita hanya sendirian. Dan akan selalu sendirian. Mungkin ada beberapa mereka yang kita sebut teman, sahabat, keluarga, bahkan seseorang yang kita cintai dan anggap dapat melengkapi hidup kita. Tapi tidak, semua tak pernah semudah dan sesederhana itu. Karena, seiring berjalannya waktu, masing-masing kita akan mengenal sebuah kata bernama "prioritas". Bagaimana hidup kita, perjuangan kita, segala kebutuhan kita, semua dibayangi oleh prioritas. Tak ada kata "membantu" yang benar-benar bisa diwujudkan. Kata "tolong" seakan hanya angin lalu; kita seolah tak berhak mengucapkannya pada orang lain. Karena masing-masing punya prioritasnya sendiri. Mungkin sepintas terlihat kejam. Tapi inilah hidup. Inilah realita yang harus bisa kita akrabi, bagaimana pun juga. Karena sejatinya, hanya ada dua yang dapat kita andalkan sepanjang u