Langsung ke konten utama

Kahitna 30 Years Anniversary: Ternyata Rantai Nostalgia itu Belum Putus

“Biar cinta bergelora di dada
Biar cinta memadukan kita
Cerita cinta yang pertama kurasa
Jangan pernah berakhir cerita cinta kita…”
— Cerita Cinta


Ada hangat di hati saya saat mulai menuliskan ini lagi. Rasanya serupa dengan tumpukan rindu yang sekejap dapat terobati. Ya, berbicara tentang band ini berarti juga kembali merangkum rindu, kembali membincang kenangan.


Band ini terbentuk pada 24 Juni 1986, dengan nama Kahitna, yang dalam bahasa Filipina berarti meskipun demikian. Namun kemudian nama itu dipelesetkan ke Bahasa Sunda, sehingga kata Kahitna menjadi berarti yang paling hits.

 

Musik-musik Kahitna mulai mengakrabi masa kecil saya, karena pada 1992 hingga 1996 silam, ayah sempat menjadi penyiar di sebuah stasiun radio di Malang bernama TT 77. Ada beberapa program yang beliau bawakan saat itu. Dua diantaranya bertajuk Konci (Konsultasi Cinta) dan Tersuci (Terminal Surat Cinta). Banyak pendengar yang curhat tentang masalah asmara mereka, juga mengirim atensi untuk kemudian dibacakan oleh ayah. Tak hanya itu, mereka pun juga gemar me-request lagu-lagu yang hits pada masa itu. Salah satu yang banyak di-request adalah karya-karya band asal Bandung yang dimotori Yovie Widianto ini.

Ibu pun gemar mendengarkan siaran ayah dari rumah. Otomatis putri kecilnya—saya tentu saja, juga ikut mendengarkan. Hal ini lambat-laun menjadi kebiasaan, hingga akhirnya saya jadi rewel dan sulit tidur setiap kali belum mendengarkan siaran ayah, tepatnya lagu-lagu Kahitna. Karena seringnya mendengarkan lagu Kahitna, ketika guru Playgroup menanyakan lagu favorit saya, dengan polos saya menyanyikan sebait Cerita Cinta, hehehe…



Hingga bertahun-tahun kemudian, meski telah banyak artis baru yang bermunculan, namun saya masih menjadi penikmat lagu-lagu Kahitna. Entahlah, lagu-lagu mereka selalu membawa saya pada kenangan masa kecil. Bisa dikatakan, saya tumbuh besar bersama karya mereka.

Alangkah senangnya saya, ketika pada 2011 lalu Metro TV menayangkan Konser Perayaan 25 Tahun Kahitna. Setelahnya, pada awal 2012, saya mendapatkan buku kumpulan cerpen karya Kahitna dan para sahabatnya, yang bertitel Diantara Kebahagiaan, Cinta, dan Perselingkuhan: 25 Cerpen Kahitna. Semua cerpen dalam buku ini terinspirasi dan diberi judul sama dengan beberapa lagu Kahitna.



Dan akhirnya lima tahun kemudian—tepatnya tahun ini, 13 Pebruari lalu, Kahitna kembali menghelat konser bertajuk Kahitna Love Festival, yang sekaligus menjadi perayaan 30 tahun usia Kahitna di blantika musik Indonesia.

Metro TV menayangkan ulang konser ini pada 28 Pebruari kemarin, yang juga menghadirkan Isyana Sarasvati, Raisa, dan The Overtunes. Senyum saya tak lelah tersungging, seiring bibir yang tak henti bernyanyi sepanjang dua jam pertunjukan. Para personil Kahitna masih sangat enerjik, terutama tiga vokalisnya, Carlo Saba, Hedi Yunus, dan Mario Ginanjar. Ada sekitar duapuluh-an lagu yang dibawakan pada konser ini, diantaranya Andai Dia Tahu, Tak Sebebas Merpati, Katakan Saja, Cerita Cinta, Tentang Diriku, juga lagu terbaru mereka, Rahasia Cintaku. Tak ketinggalan, Raisa berkolaborasi dengan mereka menyenandungkan Soulmate dan Mantan Terindah. Juga Isyana dan The Overtunes yang meng-cover Cinta Sudah Lewat dan Bintang.
Dan ternyata semua masih sama. Lagu-lagu Kahitna masih nyaman di telinga dan berhasil membawa saya kembali menjelajah labirin kenangan. Ternyata rantai nostalgia itu belum putus.


Selamat menapaki 30 tahun Kahitna. Semoga panjang umur dan terus membuat lagu yang menjadi hits.
Takkan pernah bosan mendengar kidung-kidung kalian, juga selalu rindu menunggu konser-konser Kahitna berikutnya.

Terimakasih untuk puluhan lagu manis yang telah disenandungkan untuk menemani saya sejak kecil hingga sekarang—semoga juga hingga nanti.


Dari dulu sampai nanti, Kahitna takkan terganti…

“…Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti…”
—Takkan Terganti


29 Pebruari 2016
Adinda RD Kinasih

Komentar

  1. ane juga suka lagu lagu Kahitna Dinda .. ane nggak terlalu membatasi diri suka musik tertentu atau musisi tertentu. Suka ya suka .. Menikmati musik adalah pekerjaan hati .. suara Hedi Yunus sangat bening menurutku, kalau Carlo Saba .. lembut dan adem. Satu kesan ane pada lagu lagu Kahitna .. dia kayak air ngalir gitu ..asyik dengerinnya buat santai atau nemenin aktivitas yang nggak terlalu berat. Selamat 30 tahun Kahitna .. teruslah berkarya untuk musik Indonesia

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama