Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2015

Sepercik Lega untuk Olga

Hancur hancur hancur hatiku… hatiku hancur… Ya, kini hati saya sedang hancur. Lebur bersama duka yang membaur. Meski saya akui, ada setitik rasa syukur. # Bagi saya, hidup layaknya sebuah undian. Setiap kita yang lahir, pasti akan menghembuskan napas terakhir. Tuhanlah yang memegang setiap kartu, menetapkan kapan giliran yang tak terbantahkan. Satu hal penting, adalah, “Bagaimana nanti kita dikenang setelah meninggal, semua tergantung pada segala laku kita semasa hidup di dunia.” # Yoga Syahputra. Lelaki itulah yang akan saya toreh kenangannya di sini, kali ini. Kenangan? Kenang apa gerangan? Apa saya kenal dekat dengannya? Pernah berjumpa? Tidak! Saya belum pernah sekali pun bersua raga, apalagi mengaku bahwa saya dekat dengannya. Namun, saya hampir selalu bertemu dengannya setiap hari, di hampir semua stasiun TV. Pagi, ia ada dalam sebuah acara musik. Siang, sore, malam, ia ada di bermacam program komedi. Apalagi jika Ramadhan tiba, coba nyalakan televisi. Ia pasti sudah ada di sala

Dia Telah Pulang

Ini ujung petang yang hawanya menusuki tulang. Ini sepucuk malam yang menyedihkan. Entah apa tanggapanmu, tapi sekarang wajahku sedang ingin muram. Ya, rasanya aku ingin menangis mulai detik ini, Bersama Yiruma yang masih setia membunyikan tuts-tuts pianonya di telingaku. Instrumennya seolah ingin mengiringi luncuran deras airmata, ingin turut merasakan sesak dada yang tak kunjung reda. Juga ingin menemaniku membuka kembali tiap lembar kenangan lawas itu. Aku sendiri tak mengerti, tak bisa menerka, mengapa serangkum lara ini tiba tanpa rencana. Ia datang tetiba, seiring dengan separagraf cerita duka yang mengetuki ponselku, siang itu. Ada kejut yang menyengat jantung, ada mata yang siap meluruhkan hujan. Benarkah ia sudah pulang? Hari ini? Mengapa harus secepat ini? Segera kuseret langkah menuju rak, meneliti satu-satu buku yang tertata di situ. Dan akhirnya kutemukan. Sebentuk sedang majalah sekolah bersampul hijau. Lekas kubuka tiap halamannya yang buram. Menatap tiap judul di sana