Langsung ke konten utama

Coretan Si Anak Magang (6)



29 September ini adalah hari pertama saya memasuki Layanan Nonbuku, tepatnya Museum Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Layanan yang buka sejak jam tujuh pagi ini, berisi beragam lukisan, foto, dan barang peninggalan Bung Karno. 

Saya berkenalan dengan tiga petugas di layanan ini, Bu Anna, Mas Friska, dan Mas Minoz. Saya juga beberapa kali bersalamsapa dengan Mas Yanuar dan Mas Aji, petugas di Layanan Koleksi Khusus Bung Karno. Layanan Koleksi Khusus ini memang berada tepat di atas Galeri.

Mas Minoz. Sejak awal mendengar nama lelaki berambut agak keriting ini, rasanya saya ingin tertawa. Namanya unik juga. Saya sempat berpikir, bahwa nama itu hanya sebuah julukan, tapi menurut Bu Anna, nama aslinya memang Mas Minoz, lengkapnya, Minoz Suprastyono.
#

Tugas utama dalam layanan ini adalah memberikan informasi dan memandu pengunjung yang ingin melihat-lihat koleksi di galeri ini, yang terdiri dari lukisan, foto, miniatur, barang-barang pribadi Bung Karno, seperti jas, peti, juga uang kertas seri Bung Karno tahun 60-an. Tak lupa, selalu mengingatkan mereka untuk mengisi buku tamu, karena beberapa orang memang enggan mengisinya. Kebanyakan dari mereka takut jika disuruh membayar, padahal masuk ke galeri ini tak dipungut biaya apa pun.

Pengunjung galeri ini berasal dari seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua, juga ada yang dari mancanegara. Tapi yang paling sering adalah pengunjung asal Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Kalimantan. Sebagian besar mereka penasaran dengan lukisan besar Bung Karno yang diletakkan di bagian depan galeri, yang konon dadanya terlihat bergerak jika dilihat dari arah tertentu. Seingat saya, fenomena lukisan karya IB. Said ini sudah lama diberitakan di media, namun hingga kini, masih saja banyak orang yang penasaran dengan lukisan ini.
#

Sejak awal masuk ke layanan ini, saya seperti berada dalam sebuah opera komedi. Hahaha, ya karena tiga orang di sini memang gemar bercanda. Selalu ada saja hal-hal yang diperbincangkan, yang lalu bisa menggemakan tawa banyak orang. Seperti Mas Friska Fauzi, misalnya, dia berkelakar dengan Pak Gunawan, salah seorang cleaning service.

“Eh, tahu nggak, namanya Mbak ini ada lagunya lho!” ujar Mas Friska, yang dijawab Pak Gunawan dengan mengerutkan keningnya. Sebentar kemudian, terdengarlah intro dan vokal dari tablet Mas Friska, yang sudah sangat saya kenal, tembang Dinda Dimana karya Kla Project. Tak ayal, saya pun tertawa, begitu pula Pak Gunawan.

Mas Friska melanjutkan guyonannya. “Coba nama kamu Gun, ada nggak lagunya?” Kemudian, ia menyanyikan sebait awal lagu Dinda Dimana, dengan begini, “Gunawaaan..di manakah kau berada... Wah, nggak pantes e Gun, namamu!”

Pak Gunawan, yang diledek seperti itu, hanya memasang muka datar. Tanpa komando, saya pun tertawa lagi, sedikit lebih nyaring. Ada-ada saja tingkah lelaki asal Magelang ini.
#

Selain mengingatkan pengunjung mengisi buku tamu, tugas lain saya hari ini adalah merekapitulasi jumlah pengunjung dari tanggal 17 hingga 21 September. Bu Anna sempat meminta maaf pada saya karena beliau harus bolak-balik pulang pada jam-jam tertentu untuk menyusui putranya yang berusia lima bulan. Saya tak keberatan, malah senang jika bisa membantu beliau.

Hari ini pula, seluruh petugas rapat selama lima jam. Dan seusai rapat, Bu Anna membawa sekotak kue dan menyerahkannya pada saya. Ah, apalagi ini? Ingin saya menolak, tapi segan. Terimakasih…
#

Selasa, hari kedua saya di “rumah kocak” ini, tugas saya tak jauh berbeda. Hanya saja, pagi ini Mas Minoz membeli camilan, martabak mini. Saya pun kebagian yang rasa keju. Hmm…langsung saja dilahap! Bu Anna, seperti hari-hari sebelumnya, masih bolak-balik pulang. Mas Friska juga keluar sebentar karena ada urusan. Jadilah saya hanya bersama Mas Minoz. Untung Bu Anna membolehkan saya menyelami dunia maya, untuk mengusir kejenuhan.
#

Kira-kira pukul satu siang, Galeri kedatangan tiga turis dari Italia dan Thailand. Saya sempat menanyakan pendapat mereka tentang Kota Blitar, yang dijawab salah satu turis dengan; “Ooh… Blitar is so nice. The people are so kind!”

Saya tersenyum. Senang sekali rasanya bisa berinteraksi dengan turis mancanegara. Selanjutnya, ketiga turis itu melihat-lihat koleksi Galeri, dipandu oleh Mas Friska.

Sesuai jadwal yang telah disepakati sebelumnya, semestinya hari ini hari terakhir saya menjalani PKP di Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Tapi, atas saran Bu Nurny, saya masih masuk hingga Jumat nanti, tapi sudah “bebas tugas”. Maka, saya pun minta ijin pada Bu Anna untuk menghabiskan sisa tiga hari saya dengan menetap di Layanan Galeri. Ya, bagi saya, dua hari di “rumah kocak” ini terasa kurang, hehehe… Beliau menyambut baik permintaan saya.
#

Ritme masih selaras pada Rabu di Galeri ini. Memandu pengunjung mengisi buku tamu, kadang juga memberi informasi sebisanya jika ada yang membutuhkan. Ramai sejenak, lalu senyap menyeruak. Saya sempat ngobrol dengan Bu Anna, tentang anak lelakinya yang lucu, bernama Attar. Sayang, dia masih berusia lima bulan, jadi belum bisa diajak main ke perpustakaan ini.

Begitu pun sehari setelahnya. Semua kegiatan senada. Ketika Bu Anna pulang ke rumah untuk menyusui Attar, saya ngobrol dengan Mas Friska. Pengagum Christiano Ronaldo ini juga menceritakan anak lelakinya yang berusia setahun, bernama Fahreza. Ia juga menunjukkan foto dan video kegiatan Fahreza di rumah. Saya tertawa saat menonton video aksi bocah atraktif itu.

Siang sedikit, Pak Hendri tiba di Galeri. Saya memang mencari beliau untuk sedikit bertanya masalah penyusunan laporan saya.
#

Inilah Jumat. Hari praktik terakhir saya di Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Sejak pagi, saya sudah sendiri di Galeri yang sepi. Bu Anna langsung pulang usai senam pagi, yang memang menjadi agenda rutin setiap Jumat. Kemudian, Mas Minoz datang, disusul Mas Friska yang hari ini terlihat berbeda dengan kaos lengan panjang hijaunya.

Pengunjung hari ini relatif sepi. Saya pun kembali memasuki dunia maya, menengok beberapa akun, juga mem-posting lanjutan coretan ke Blog.

Jam sebelas, Galeri ditutup sementara hingga pukul satu siang. Bu Anna dan Mas Friska pulang. Saya tetap di Galeri bersama Mas Minoz, juga internet. Saya tersenyum membaca komentar Mas Hanafi dan Mbak Ida tentang coretan saya yang saya bagikan ke Facebook. Begitulah, sebagai seseorang yang hobi menulis, seperti ada kegembiraan tersendiri jika ada orang lain yang mengapresiasi tulisan yang dibuat, meski hanya sekadar satu kalimat, satu kata, atau lambang ibu jari saja.
#

Tak terasa, sore mulai menyapa. Setengah tiga kini. Ah, mengapa waktu seperti berlari hari ini, tak berjalan lambat-lambat saja seperti hari-hari kemarin…

Dengan agak berat hati, saya ayunkan langkah menjajari Bu Anna yang keluar dari Galeri, setelah sebelumnya berpamitan pada Mas Friska dan Mas Minoz. Hati saya riuh berteriak. Melagukan rindu yang mulai menyeruak. Hampir sebulan di surga buku ini membuat seluruh elemennya begitu melekat dalam diri saya.
#

Tiada kata lain yang sanggup diucap, selain terimakasih. Terimakasih untuk Anda bertiga, Bu Anna, Mas Friska, dan Mas Minoz, untuk sepaket sapa ramah, canda renyah, gulungan kisah, juga pengalaman baru yang tumpah ruah. Galeri, bagi saya adalah rumah kedua, begitu pun Anda bertiga, juga menjadi sebuah keluarga baru yang saya temukan di sini.

Satu hal, saya pasti akan merindukan semuanya. Termasuk tembang Dinda Di Mana itu. Terimakasih ya, Mas Friska, lagu itu menjadi sebuah “lagu sambutan” untuk saya, hehehe… Bu Anna dan Mas Friska, sampaikan salam saya untuk dua jagoan kecilnya, Attar dan Fahreza. Oh ya, juga pada Pak Ahok, eh…maksudnya Mas Yanuar, dan putrinya yang lucu.

Ilmu, pengalaman, kenangan, dan rindu ini akan selalu tersimpan rapi di hati saya.

3 Oktober 2014
Adinda R.D Kinasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama