Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

Rihlah Saidah, Eyang Kakung...

Eyang Kakung di rumahku, 2010 Ini dini hari di tiga April. Di mana segala cemas dan kecamuk itu seketika berubah mengelabu, berhujan, dan menggelap perlahan... © Rabu malam, pukul sebelas. Ayah baru saja tiba di rumah, sepulangnya beliau dari Malang untuk sebuah urusan bersama beberapa teman. Keletihan tergambar jelas di raut beliau. Baru saja beliau akan meraih handuk dan membawanya ke kamar mandi, ponsel lawas miliknya berdering. Ayah menjawab telepon itu, dan wajah lelah Ayah tergantikan dengan mimik cemas. Aku, Mama , dan Adik yang memperhatikannya juga jadi ikut khawatir dan penasaran, telepon dari siapakah gerangan? Beberapa menit kemudian, telepon berakhir. Rupanya tadi dari N enekku-istri baru Eyang Kakung tepatnya, setelah ditinggal Ti Ning* untuk selamanya pada 2000 silam. Nenek mengabarkan, bahwa kondisi Eyang Kakung kritis. Ya, Eyang Kakung memang sakit sejak tiga tahun terakhir. Mendengar itu, Ayah langsung mengontak pamanku   yang tinggal di daerah Wlingi, dan mereka pun