Membuka Kembali Enam Tahun Merah Putih

"Thanks a lot, for keep remembering and save me in your heart..."

Siang setengah sore. Aku masih dibuai lelap dalam lelah yang baru sesaat, ketika tiba-tiba ponselku berteriak memberitahuku bahwa ada telepon masuk untukku. Sebuah deret angka, tak bernama.

"Halo...." sapaku dengan suara sedikit serak.

"Halo, Dinda... Kamu di mana sekarang?"

"Aku di rumah. Ini siapa?"

"Ini aku Ade... Aku di depan rumahmu sekarang..."

Lambat-lambat, otakku mencoba mencerna inti percakapan itu. Ade...Ade.. di depan rumah? Wah! Seketika memoriku seperti dikembalikan seutuhnya. Buru-buru kusahuti suara di telepon itu.

"Oh..iya, iya...Sebentar ya!"

Aku langsung melompat bangun, menukar pakaianku dengan rok panjang, kaos lengan panjang, dan jilbab oranye. Lalu buru-buru membuka pintu depan.
***
Aku memandang tak percaya pada sosok yang pertama kali tertangkap di mataku saat aku membuka pintu. Gadis cantik bermata sipit yang kini berjilbab itu tersenyum lebar padaku. Kemudian menjabat tanganku, diiringi sapa. Aku mendadak heboh menyambutnya. Terlebih saat kulihat sosok-sosok lain di belakang gadis itu.
Wajah-wajah itu!

Aku kehilangan kata-kata. Seperti menjadi orang bingung. Alhasil, hanya bisa berucap pendek-pendek. Kuakui, aku tidak siap menerima kejutan besar ini.
Satu persatu mereka menyalamiku sambil melengkungkan senyum. Diiringi tanya bernada kocak. "Aku siapa, Din? Masih ingat nggak sama aku?"
Dalam keterkejutanku, aku masih mampu menyebut dengan benar nama mereka. Hanya ada dua orang yang salah, itu pun karena aku benar-benar lupa.

Sejenak kemudian, suara-suara mulai riuh terdengar, menguarkan kembali kisah yang tertuang dalam enam tahun merah putih, bertahun lalu.  Para lelaki terpaksa bergerombol di teras, karena ruang tamuku terlalu sempit untuk menampung keseluruhan mereka. Sementara, aku dan empat gadis manis berjilbab itu mengobrol di ruang tamu.
Berkisah apa saja! Kejadian lucu di masa itu, sahabat-sahabat lainnya, dan juga para guru yang tetap menjadi kebanggaan sampai kapan pun.

Aku yang kelimpungan, hilir mudik membawa toples warna-warni, beserta baki berisi bergelas-gelas minuman ringan ke ruang tamu. Keempat gadis itu kompak menyuruhku duduk, tak ingin melihatku terlalu repot. Tapi, aku sama sekali tak merasa repot, apalagi untuk kunjungan luarbiasa ini.

Sesaat kemudian, salah satu lelaki ikut bergabung bersama kami di ruang tamu, dia menyeret kursi panjang sebagai teman duduk, tepat di tengah pintu. Dia, lelaki yang paling kuingat dari beberapa yang berkunjung sore itu. Bukan apa-apa. Itu karena dulu, di masa enam tahun merah putih, dia yang paling badung! Hehehe...
Beberapa kali aku meledeknya, sementara dia menimpali dengan permintaan maaf berkali-kali. Hahaha... aku sudah memaafkannya, tapi tetap saja segala kenakalannya itu menempel di memori, hehehe...

Kira-kira, sejam kemudian, teman-teman lamaku itu bersiap mohon pamit. Mereka akan melanjutkan perjalanan ke rumah beberapa guru yang menjadi pengajar kami dulu. Sayang sekali, aku tak bisa ikut.

Sebelum mereka pamit, aku mengajak mereka foto bareng. Ya, untuk memorial, dan bagiku sebagai wujud rasa syukur, karena Allah masih berkenan mempertemukanku dengan mereka, setelah tujuh tahun berlalu.

My biggest thanks to you all, Gilang, Donny, Pagan, Demmy, Fafan, Fian, Arif, Geby, Ade, Sinta, Ulfa, Pipit, dan Claudia...
So happy could meet you again, Guys... All of you are remarkable friends for me... Hope we'll meet again, as soon as possible, dengan pasukan yang lebih banyak lagi! :)



Posting Komentar

1 Komentar