Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

Actually, Who Knows Who We Are, Exactly?

-Aku hanya bisa menyimpan kesal, saat ada mulut berkata, Maaf aku sibuk , sementara aku sedang sangat butuh dia saat itu. Padahal aku hampir tak pernah melontarkan kalimat itu tiap ada yang membutuhkanku ...- Ini malam. Segelas cokelat panas yang perlahan mendingin ada di sampingku. Syukurlah. Setidaknya ada yang masih sudi menjadi kawan di tengah sepi yang memuakkan ini. Sepi yang memuakkan. Aku sudah terbiasa sendirian, memang. Tapi tak bisa dibantah, aku jenuh hanya berteman sepi yang menertawaiku tak henti. Menertawai kejenuhanku, sedikit pun enggan merasai pahitnya airmata yang menderas dalam diam. Entah, mengapa sepi itu ada, dan perlahan menyiksa. Sepi itu hanya diam, namun kekejamannya terasa. Apalagi saat lara menyapaku, disertai kecamuk galau dan deraian hujan dari pelupuk mata. Selama ini aku tak terlalu peduli pada sepi. Tak terlalu pikirkan ponsel yang makin jarang saja berdering. Masih ada alunan lagu, masih ada dunia maya yang bisa kuselami. Lalu, tiba-tiba aku merasa r

Tentang Seberkas Cahaya

Dini hari menyambut, saat obrolan itu dimulai. Ada aku dan ayah yang duduk menyimak kisah yang terlontar dari bibir ibuku yang melepas lelah sepulang dari Malang. Dari rumah dokter langgananku saat kecil dulu. "Tadi lama di tempat Dokter Chandra, ngobrol tentang Aan. Itu lho, anaknya Dokter Chandra yang kayak kamu. Sekarang dia di Jakarta lho, punya ruko dan terima pesanan kaos." Aku tertegun, sesaat mencoba mengingat nama singkat itu. Aan...Aan...hmm..sepertinya nama itu pernah akrab di telingaku saat aku baru menginjak dunia balita. Tapi bagaimana wajahnya, keadaan kakinya, aku masih buta. Hanya bisa mengenalnya lewat rentetan kisah, yang kembali terlisankan di dini hari itu. Dan mengalirlah lanjutan kisah itu dari ibu, sosok Aan yang hidup mandiri di Jakarta, ke mana pun ditemani Busway atau Kopaja, padahal ia selalu ditemani tongkat penyangga ke mana pun melangkah. Wah, Busway? Kopaja? Terbayang di benakku betapa hiruk pikuk Ibukota itu. Dan seorang Aan sanggup menerjang