Langsung ke konten utama

Kali Ini Tentang Inspirasi...

Hei kau ekspresikanlah, dirimu seperti yang kau mau
-Bondan & Fade 2 Black-


Kali ini tentang inspirasi. Bicara inspirasi, ia bisa datang dari mana pun, dan didatangkan oleh siapa pun. Mungkin tak harus oleh orang sukses yang berdasi, yang menghuni gedung bertingkat-tingkat. Inspirasi bahkan bisa muncul di jalanan, dari seorang bocah kumal pemetik gitar kecil di lampu merah.

Hari ini, 23 November, menjadi hari penuh inspirasi buatku. Sebelum tanggal ini kulalui pun, sudah banyak sosok dan hal yang dahsyat menginspirasi bagi hidupku. Banyak sekali. Mayoritas dari sosok-sosok “istimewa” yang sanggup melawan kerasnya hidup, bahkan mencipta prestasi di tengah dunia yang penuh kesempurnaan semu.

Ada Hee Ah Lee, gadis asal Korea yang terlahir 27 tahun lalu. Ia mempunyai empat jari tangan, masing-masing dua pada setiap tangan. Dan dengan kaki yang hanya sebatas lutut! Tapi, di tengah kondisi fisiknya itu, dia mahir memainkan rangkaian nada lewat tuts-tuts piano. Dia menguasai hampir semua musik klasik karya musisi besar dunia!

Ada juga Miyuki Inoue, gadis Jepang yang terlahir prematur dengan berat 500 gram saja, lebih kecil dari berat badanku saat dilahirkan dulu, dan menderita kebutaan sejak kecil. Dia hidup bersama ibunya yang single parent, sejak ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan kerja. Dia bahkan bisa naik sepeda. Dia juga gemar menulis, dan akhirnya bisa menerbitkan buku memoarnya dalam usia 15 tahun!

Ada pula goresan kisah Gita Sesa Wanda Cantika, dalam Surat Kecil Untuk Tuhan. Dia mantan penyanyi cilik, seorang gadis dengan segudang prestasi cemerlang, yang gigih bertahan dalam perlawanan pada sakit kanker jaringan yang dideritanya. Meski akhirnya napas terakhirnya harus terhembus pada 2006 lalu, namun semangatnya untuk berprestasi di tengah deraan penyakit itu masih dan selalu membekas.

Dan tak ketinggalan, gadis sederhana asal kota tetangga, Kediri Jawa Timur. Dia sahabatku. Dipertemukan karena kesamaan sejarah lahir dan kondisi fisik yang kami punya. Dia menginspirasiku lewat sebuah rangkaian semangat, keberanian, dan MIMPI! Itulah yang membuatnya “bebas” berekspresi, kemana pun, menghadapi tantangan apa pun... Doakan agar aku segera “membebaskan” diriku juga, Sahabat...


Kembali di hari ini, 23 November. Sejak petang tadi, kusaksikan dan kudengarkan Dian Sastrowardoyo berkisah tentang perjuangannya hingga bisa menjadi seperti sekarang. Lalu berpindah ke stasiun TV lainnya, ada Rudy Hartono, seorang pebulutangkis legenda dunia, juara All England tahun 60-an.

Mendengar cerita hidup mereka, membuatku menciptakan sebuah ungkapan. Khususnya untuk diriku. Bahwa setiap kesuksesan, bagaimana pun bentuknya, dalam bidang apa pun, semua harus diawali dengan struggling. Perjuangan keras!

Malam datang, namun penemuan inspirasiku belum juga usai. Ada lagi, seorang jelita yang menderita tunarungu, Angkie Yudistia. Dia adalah model, bintang iklan, finalis Abang None Jakarta 2008, pembicara tingkat internasional, dan pendiri sebuah perusahaan! Dia juga menulis memoar hidupnya.
    Ada satu kalimat dari gadis yang lahir pada 1987 itu yang masih membekas di memori.
Jika kita memiliki kekurangan, maka cobalah untuk menjadikan kekurangan itu menjadi suatu kelebihan. Dan jika orang lain mengatakan bahwa kita “tidak bisa”, justru di situ kita harus tunjukkan bahwa kita BISA.

Hidup berawal dari mimpi, gantungkan yang tinggi agar semua terjadi...
-Bondan & Fade 2 Black-


Masih tentang inspirasi, bukan hanya mereka inspiratorku. Bukan hanya dari yang mempunyai keistimewaan fisik. Mereka yang normal pun juga banyak mencerahkan, menginspirasi, dan membangkitkan semangat.

Oki Setiana Dewi. Pemeran Anna Althafunnisa dalam Ketika Cinta Bertasbih itu salah satunya. Jika menelusuri lika-liku hidup dan perjuangannya dalam memoar Melukis Pelangi, maka bisa kuambil sebuah pepatah Arab yang juga sempat dituliskannya.
Man Jadda Wajada
Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil!


Lalu Noah Band, asal Bandung yang beranggotakan Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David itu. Dalam torehan Kisah Lainnya, perjuangan mereka untuk membangun kembali band yang sempat terpuruk menjadi cerita inspiratif yang begitu membekas pula di benakku.

Lalu, tak pernah lupa, Afgan. Salah satu solois favoritku saat ini. Dia mengawali karir dari hobi berkaraoke di beragam kafe, hingga akhirnya ada salah satu pemilik label rekaman yang menawarinya membuat album. Meski awalnya sempat diragukan, namun kini mimpi Afgan untuk menjadi penyanyi papan atas terwujud. Kini pun ia mencoba menciptakan beberapa tembang untuk album terbarunya yang akan launching pada 2013 nanti.
Dan sebuah ungkapan yang selalu Afgan lontarkan....
If you can dream it, you can realize it!
Kata-kata itu bagai magnet yang selalu membuatku ingin mencipta hal baru dan melakukan yang terbaik....

 Dan tentunya bukan hanya mereka yang tertulis di atas. Kedua orangtua, para sahabatku yang lain, para penulis favoritku, buku-buku yang telah terbaca, dan siapa pun yang telah mengisi hidupku selama ini, kalian semua adalah inspirasi luarbiasa untukku!
    Terima kasih atas inspirasi yang kalian beri untukku dan hidupku...
Jumat, 23 November ‘12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama