Akrabi Kata Sekali Lagi: Sebuah Pesan untuk Diri Sendiri

Gadis itu melangkah masuk ke kamarnya dengan menggendong sebotol besar air putih dingin.
Rasa gerah mendera tubuhnya, ditandai dengan bulir keringat dan pengap yang mulai terasa.
Segera dinyalakannya kipas angin mini putih dengan ornamen telinga kucing mungil di sudut atas kanan kiri.

Ia kembali memakainya sejak kipas angin besar yang menempel di dinding itu berhenti berfungsi tiba-tiba. 
Entahlah, mungkin benda itu terlalu lelah, sebab diputar pagi hingga malam saban hari. Baling-balingnya juga sudah tebal berdebu.
Sudahlah, biarkan saja dulu.

Sejenak ia terdiam. Pandangannya terpaku pada sebuah buku kumpulan cerpen yang tergeletak di atas tikar.
Pikirannya melayang pada sebuah pertemuan di suatu kedai, awal bulan ini.

***




"Sebulan bisa habis berapa buku, Mbak?"

Sebaris pertanyaan sederhana yang menohok hati seketika. Saya mengulas senyum malu pada lelaki gondrong yang rambutnya dicepol itu.

Siang itu, di DeClasse Gelato, saya duduk sendirian bersama seporsi es krim matcha dan kisah The Architecture of Love karya Ika Natassa.
Lelaki itu yang lebih dulu menghampiri, lalu duduk di hadapan. Berlanjut dengan menukar sapa dan kelumit obrolan.

Lelaki itu biasa disapa Mas Coy. Entah siapa nama lengkapnya. Saya mengenalnya dari seorang kawan.
Dulu, Mas Coy sempat giat melapak buku di area Kebon Rojo atau Alun-Alun.

Menurut penuturannya, kini ia lebih sibuk mengembangkan bisnis hand craft, di samping pekerjaan tetap sebagai barista di kedai ini.

Kembali pada pertanyaan Mas Coy tadi. Saya merenung cukup lama setelah ia mohon diri dan kembali bekerja.
Ya. Berapa buku yang sudah habis saya baca sebulan ini?

Harus diakui, adanya gadget dibarengi akses internet yang makin mudah justru makin menggerus keintiman dengan buku.

Pikiran saya terlalu mudah terdistraksi dengan beragam video di YouTube, yang didominasi kasus kriminal, kisah horor, dan beberapa podcast.

Belum lagi jika saat itu saya sedang berlangganan platform penyedia film. Sudah pasti perhatian teralih pada satu hingga dua judul yang bisa habis ditonton dalam semalam.

Padahal, dahulu dalam sehari saya sanggup menghabiskan setidaknya satu hingga dua buku. Ada semangat tinggi untuk menambah koleksi buku baru, lalu lekas membacanya hingga tuntas.

Namun, kini semangat itu memudar dan mulai hilang perlahan. Entah ada berapa buku baru yang belum sempat ditelisik hingga hari ini.




Tak hanya membaca buku, semangat menulis pun hampir musnah sekarang. Entahlah.
Meski ide sudah menumpuk di kepala, rasanya malah mati kata. Hilang rasa. Tak tahu harus merangkainya mulai dari mana.

Ternyata, menulis perlu terbiasa dan diasah terus agar dapat diakrabi dengan sungguh.
Sebab, mau berapa lama pun mengenal dunia tulisan, semua akan menguap begitu saja jika tak dibiasakan.

Jika rangkaian katamu masih buntu, buka kembali buku-buku itu. Tak hanya dibaca, coba resapi sedalam mungkin.
Lalu, coba selami pikiranmu, temukan kata-kata itu, dan rangkailah sebisamu dulu.

Kamu harus bisa, karena kamu memang bisa![]

Malang, 16 Maret 2024
Nb. Terima kasih Mas Coy, untuk pertanyaan sederhana yang bisa membuka lebih luas ruang kepala.

Posting Komentar

0 Komentar