Serangkum Kagum Pada Manusia





Manusia
tengah mengenang segala momen manisnya sepanjang usia Tujuh Belas. Selepasnya, ia berKelana. Mencoba semangat kejar mimpi meski lalui Remedi berkali-kali.


Tak disangka, usaha itu justru membuahkan Interaksi; berujung bimbang, antara ingin jatuh cinta namun takut patah hati. Seusainya, ia jadi sepasang yang seakan Ingkar karena sulit berpindah hati meski sudah temukan yang lain.
Melalui perjalanan panjang, akhirnya ia sungguh Jatuh Suka pada yang dipilihnya.

Lambat laun, ia mengenal Nala, yang konon merasa sulit disuka sesiapa. Hingga akhirnya ia pun bertemu seseorang yang juga punya banyak sama, namun ternyata tak bisa bersama. Hati-Hati di Jalan, itu yang ia ucap 'tuk melepas pergi rasa itu, menyisakan rindu dan tanya, akankah ada lagi yang sepertimu.

Hingga akhirnya ia kembali pada yang setia sejak mula, Diri-nya sendiri. Ia sadar bahwa kecil, muda, tua, dan hidup hanya Satu Kali. Maka, di masa kinilah ia harus hidup.

*
Kutipan itulah yang otomatis terangkai dalam pikiran saya, saat akhirnya; mendengarkan keseluruhan album ini.

Nama Tulus tidak pernah absen dari daftar penyanyi favorit sejak tembang Sepatu pertama kali saya dengar. Satu hal yang jadi alasan Tulus istimewa dan berbeda, tentu karena kejeniusannya dalam menulis lirik. Pilihan kata-katanya selalu tak pernah disangka-sangka dan sangat "gue banget" bagi pendengarnya.

*

Maka itu, momen Tulus merilis karya baru adalah yang paling ditunggu. Tiga Maret lalu single Tujuh Belas resmi diluncurkan, video lirik sekaligus klipnya. Tapi, jujur saja saat itu saya belum tertarik mendengarkannya.

Hari berikutnya, sebuah video berlatar warna biru dengan titel Diri menarik perhatian saya. Video itu berasal dari kanal YouTube Tulus. Rasa penasaran langsung menyengat, seiring jemari yang membuka video itu cepat-cepat. Dan benar saja! Rangkai liriknya langsung buat saya takjub

Luka, luka hilanglah luka
Biarlah senyum jadi senjata
Kau terlalu berharga untuk luka
Katakan pada dirimu
Semua baik-baik saja


Selanjutnya, sebuah tembang berjudul Hati-Hati di Jalan tak kalah buat saya penasaran. Dan tak pernah saya sangka, ini sebuah lagu patah hati. Pilihan-pilihan kata dalam liriknya lugas, sederhana, namun terasa indah sekaligus menyesakkan.

Semoga rindu ini menghilang
Konon katanya waktu sembuhkan
Akan adakah lagi yang sepertimu?
Kukira kita akan bersama...

*




Dua lagu itulah yang kemudian membuat saya membuka aplikasi pemutar musik digital, mencari nama Tulus. Sebuah album dengan paduan warna biru putih berjudul Manusia tertera di daftar paling atas. Langsung saya buka dan putar lagunya secara berurutan dari nomor satu hingga sepuluh.

Dan benar, semua lagu dalam album ini memang menghadirkan banyak rasa bagi yang mendengarkan.

Tujuh Belas sarat nostalgia dan buat ingin tersenyum mengenang masa remaja. Kelana dan Remedi bikin mengangguk-angguk sendiri, merasa setuju dengan liriknya. Interaksi dan Ingkar sanggup terbangkan memori ke masa lalu. Lalu kembali dibuat senyum-senyum oleh manisnya lirik dalam Jatuh Suka.

Kemudian, bertemu Nala seperti berkaca, terlebih pada lirik: Nala figur sederhana. Tak ramai kelilingnya. Sembilan dua lahirnya.

Saya sedikit membelalak, kenapa Tulus bisa kepikiran lahirnya tahun 1992 ya? Hahaha.

Setelah itu, Hati-Hati di Jalan yang hadir, suguhkan indah nan menyesakkan dalam satu waktu. Dan pada dua nomor terakhir, Diri dan Satu Kali membawa saya pada perenungan panjang, berakhir dengan kalimat, "Benar juga, ya."

*

Itulah serangkum kagum saya atas kisah Manusia yang begitu tulus menyentuh tiap hati dan telinga. Lirik-lirikmu selalu membius. Tiada kata lain, hanya sanggup berkata: Terimakasih, Tulus.[]

7 Maret 2022

Picture: Screen Captured from Instagram @indomusikgram and Spotify.
Semua potongan lirik dikutip dari Album "Manusia" di YouTube Tulus.

Posting Komentar

0 Komentar