Langsung ke konten utama

Cerita Kedai Kopi (5) - Split Espresso





Sejak berlokasi di Jalan Veteran, kedai kopi satu ini telah membuat saya penasaran. Namun, menurut kabar-kabar yang saya dengar, kedai ini libur menyeduh di Hari Minggu. Ah, sayang sekali. Baiklah, akhirnya rasa penasaran saya terpaksa dibekukan dahulu.

Namun, jika tak keliru, di Januari 2021, saya mendapat sebuah berita gembira. Split Espresso telah pindah lokasi di Jalan Mawar, Kota Blitar. Tepatnya, di depan apotek Kimia Farma. Yeay, lebih dekat dari rumah! Di akhir Januari lalu, saya diajak Fitriara ke sana.
*

Benar saja, suasana dan menu kedai membuat saya betah seketika. Kala itu, saya memesan sepotong banana bread dan segelas chocolate iced by Korte, kalau saya tak salah. Aneka kudapan di sini diletakkan dalam etalase roti lawas, dan dihangatkan dulu sebelum dihidangkan. 






Pemilik kafe ini adalah sepasang suami istri, Mas Ardi dan Mbak Kiki. Rupanya, minat mereka pada dunia kopi dimulai sejak berkuliah di Malang. Mbak Kiki sendiri juga gemar membuat kue. Semua kudapan di kedai ini adalah buatannya sendiri.
*

Kali kedua, saya bertandang ke Split Espresso di Sabtu sore, sehari menjelang 14 Pebruari. Sendiri saja, tak bersama sesiapa. Di bangku rotan, menghadap jendela yang suguhkan panorama langit jelang senja. Sebelumnya, saya sudah memesan dua menu untuk mengawani sore itu. Segelas matcha iced dan seporsi Mac 'n Cheese Schotel. Akhirnya, setelah lama simpan penasaran, hari itu saya mencoba macaroni schotel ala Split Espresso. Porsinya pas, dan rasanya lezat, tentu saja.



*

Kali ketiga, kunjungan saya ke Split adalah dalam rangka bertemu teman lama. Hari itu, tanggal 21 Pebruari, saya bertemu Laila Afif, teman semasa MTs.  Wah, akhirnya saya kembali bertemu dengannya. Terakhir kami bertemu, tentunya saat kelulusan MTs di tahun 2007 silam. Wow! 




Saya berdiri di depan etalase kue. Di hadapan, mata Mbak Kiki menyipit, pertanda sedang sunggingkan senyum di balik maskernya. Ia mengucap beberapa kalimat, yang tak terlalu jelas saya dengar. Saya iya-iyakan saja. Setelah menyerahkan sejumlah uang, saya kembali ke bangku dan mengobrol dengan Afif. 




Tak lama kemudian, Mbak Kiki muncul sambil membawa seporsi makanan dan segelas minuman. Dengan dahi berkerut, saya bertanya menu apa itu, pada Mbak Kiki. Sembari tersenyum, ia menjawab, makanan itu adalah Beef Mentai Rice.
Seketika, saya membelalak. Ini favorit saya! Afif pun memesan menu yang sama, hanya saja minumnya matcha iced.

Saat saya mencoba minuman berwarna krem itu, ada rasa creamy berpadu pahit, yang langsung bersahabat di lidah. Saya suka ini!

Rupanya, saat di depan kasir tadi, Mbak Kiki berkata, "Hari ini ada beef mentai rice, lho. Mbak Dinda mau coba? Sama ada menu signature dari kita, namanya shaken espresso."
Hehehe, untunglah saya menjawab iya-iya. Ternyata kedua menu ini pun jadi favorit saya. Terimakasih ya, Mbak Kiki.
*

Di minggu kedua bulan ketiga ini, Split kembali buka di hari Minggu. Tentu saja, saya tak ingin melewatkan berkunjung ke sana. Apalagi hari ini ada kolaborasi bersama Tbrk Rumah Kopi (Tepi Barat Rumah Kopi), sebuah kedai kopi di Surabaya.

Ada yang menarik mata saya saat sampai di hadapan etalase kudapan. Ada sebentuk pai dengan topping krim kekuningan dan potongan stroberi yang menggugah selera.  Langsung saja saya memesannya. Ternyata namanya  Strawberry Danish. Tak cukup satu, saya pun memesan Matcha Mille. Hehehe... 




Selanjutnya, Mbak Kiki menyodorkan beberapa varian beans yang tersedia hari ini. Saya menjatuhkan pilihan pada Kopi Flores Manggarai, NTT. Diracik dengan metode manual brew dan disajikan dingin, kopi ini memiliki rasa dominan pahit, namun tetap menyegarkan.
*

Itulah sekilas cerita tentang Split Espresso, kedai mungil nan hangat berkat sapa ramah dan menu-menu lezat.  Terimakasih Mas Ardi dan Mbak Kiki, untuk telah menghadirkan Split Espresso lebih dekat dari rumah. Terimakasih untuk ragam kudapan lezat dan minuman segar, juga kopi yang nikmat, tentunya. Tetap semangat, ya. Saya akan sebisa mungkin berkunjung ke sini, jika buka di hari Minggu. Bagi saya, sebuah kedai kopi dapat menjadi favorit, tak hanya dari konsep tempatnya saja. Kelezatan menu dan sapa ramah pemiliknya, itu lebih penting.[]

Let these pictures tell you:

1. Me, on the corner of Split Espresso. Photo by Fitriara.
2. Banana bread & Chocolate Iced.  Photo by Fitriara.
3. Mac 'n Cheese & Matcha Iced. Photo by me.
4. Afif and Me. Photo by Afif.
5. Beef Mentai Rice & Shaken Espresso, perpaduan espresso dan heavy cream. Photo by me.
6. Strawberry Danish, Matcha Mille, & manual brew Flores Manggarai NTT. Photo by me.

Komentar

  1. Mac 'n Cheese Schotel emang enak sih. Setju banget semua menu di sana hampir cocok di lidah :) aku yg belum keturutan adalah me time di sana, selalu sama temen rame-rame hihi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya