Langsung ke konten utama

"Sabar, Ini Ujian" : Melepas itu Butuh Ikhlas

Judul          : Sabar, Ini Ujian
Aktor         : Vino G. Bastian, Estelle Linden, Luna Maya, Anya Geraldine, Ananda Omesh, Mike Ethan, Rigen, Arif Brata, Dwi Sasono, Widyawati, Adi Kurdi, dll.
Skenario : Anggy Umbara, Erwin Arnada, dan Gianlugi Christoikov
Sutradara : Anggy Umbara
Produksi    : MD Pictures & Umbara Brothers Film

Saya tidak pernah mengulik informasi seputar film ini sebelumnya; baik sejak proses syuting, promo, hingga premiere-nya. Platform Disney+ Hotstar Indonesia-lah yang mengabarkan rilis film ini pertama kali, di tanggal 5 September lalu.



Ya, pandemi ini membawa hikmah juga buat saya. Setelah Netflix, saya pun mengenal Disney+ Hotstar. Platform ini, seperti namanya, menyediakan akses nonton semua film produksi Disney dan beberapa film box office lainnya. Ada pula film Indonesia. Yang terbaru adalah film karya Anggy Umbara ini.

Film ini mengusung banyak tema di dalamnya. Ada hubungan keluarga, persahabatan, juga perjuangan cinta.

*

Sabar, seorang pekerja kantoran, harus menghadapi sebuah tanggal mencekam dalam hidupnya. 11 April, hari Sabtu. Mencekam baginya, namun membahagiakan buat Astrid, wanita yang dulu sempat ingin ia nikahi namun gagal.

Sabar dibangunkan dering ponselnya. Suara ibunya terdengar dari seberang, mengingatkan ia akan hari itu. Ibunya berkata, ia harus datang ke pernikahan Astrid. Hal senada disampaikan Billy, sahabat masa kecilnya. Dia bilang, Sabar harus datang, karena Astrid yang memintanya.

Dengan lunglai, Sabar bangun dan duduk di tepi ranjang. Iseng, dinyalakannya televisi, yang kebetulan menyiarkan berita bunuh diri oleh seorang pemuda yang patah hati. Sabar bergidik, layar TV pun gelap. Dalam hati, jelas ia tak ingin seperti pemuda itu.

Di depan kaca, wajah kusut Sabar jelas terbaca. Sikat gigi di dalam mulutnya sibuk bertugas. Kurang hati-hati, sebelah tangannya menyenggol wadah alat mandi. Wadah itu pecah, isinya tumpah.

Sabar menghela napas sekali lagi. Baiklah, apapun yang terjadi, dia akan datang ke sana.

Maka, datanglah Sabar ke acara itu. Setelan jas lengkap membalut tubuhnya. Dia pun keluar kamar dengan buru-buru, hingga mengabaikan tetangga kost-nya yang kesulitan membawa banyak barang.

Sesampainya di parkiran, celaka! Sedan kuning antiknya mogok. Akinya terkuras habis karena lampu mobil yang lupa dipadamkan. Dengan segera, Sabar menghubungi Billy. Menyatakan ketidaksanggupannya hadir di sana. Namun Billy memintanya tidak menyerah.

Sabar pun pergi ke minimarket untuk mengambil uang di ATM. Dompetnya kosong. Dia membutuhkan uang tunai untuk naik taksi online. Rupanya, selain antrean panjang, ada drama kecil di minimarket itu. Seorang pramuniaga terjatuh. Sabar tak peduli.

Di dalam taksi, Sabar tambah tak sabar dengan sang sopir. Menyetirnya cukup lamban, karena ia sibuk menelepon istrinya. Menyebut sejumlah merk internasional ternama dengan pelafalan yang salah, membuat Sabar gemas sendiri.

Sambutan dan ledekan dua teman lainnya yang dijumpai Sabar sesampainya di tempat acara. Apalagi saat tahu ia salah kostum. Ternyata, tema busananya adalah batik. Sabar tersenyum kecut, sedangkan Billy tersenyum maklum.

Pandangan Sabar nanar ke arah samping, saat Astrid yang bergaun putih melewatinya dengan senyuman. Lalu, adegan selanjutnya bisa ditebak, akad nikah berjalan lancar, dan Sabar tetap di sana hingga gelaran resepsi. Kini, Sabar harus mencoba merelakan Astrid, meski nyatanya belum sanggup.

*

Esoknya, pagi Sabar masih dikejutkan dengan dering ponsel dari penelepon yang sama. Sang ibu masih mengingatkan hal serupa, menghadiri acara pernikahan Astrid. Sabar terbelalak, matanya langsung mengarah pada kalender.

Mustahil! Kalender itu masih menunjukkan waktu yang sama. Sabtu, 11 April. Esoknya, hal serupa terjadi lagi. Ada kejadian-kejadian berbeda yang menyertainya. Terjadi lagi. Lagi, dan lagi. Seakan waktu terhenti di hari dan tanggal itu. Hingga akhirnya, Sabar menyadari, apa yang membuatnya begitu sulit melepaskan Astrid.

Apa yang sesungguhnya sedang terjadi dalam hidup Sabar? Apa yang berhasil menyadarkannya?






*

Kalimat pertama yang bisa saya tuliskan tentang film ini adalah melelahkan. Sungguh, saya lelah menyaksikan adegan yang sama berulangkali, selama dua setengah jam. Namun, rasa bosan itu perlahan terkikis dengan sejumlah jalan cerita yang mengejutkan. Sepertinya, judul Sabar, Ini Ujian juga berlaku bagi penonton, karena harus "sabar" menyaksikan "ujian" adegan-adegan sama yang diulang. Hehehe...

Bagi saya, mungkin inilah film Indonesia pertama yang punya tema dan alur cerita seperti ini. Peran Sabar yang dilakoni Vino G. Bastian pun menurut saya agak kurang menantang, tidak seperti peran-peran Vino di sejumlah film terdahulu. Seperti di Warkop DKI Reborn, Wiro Sableng, Serigala Terakhir, Toba Dreams, juga Tampan Tailor.
Meski begitu, akting Vino tetap keren.

Tapi, sekali lagi, keunggulan film ini adalah alur ceritanya. Jadi, film ini tetap masuk ke dalam daftar film favorit saya. Bravo buat ide ceritanya![]

090920
Adinda RD Kinasih

Image Source:
Instagram @vinogbastian__ & Pinterest

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama