Langsung ke konten utama

Empat Tanggal di Agustus (2)


Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut.

Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020.

Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan. Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat.

*

Menuju puncak, gemilang cahaya
Mengukir cita seindah asa
Menuju puncak, impian di hati
Bersatu janji kawan sejati
Pasti berjaya di Akademi Fantasi...

Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing.

*



Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), dan Hera (Surabaya).



Di jaman itu, meluapkan euforia terhadap finalis favorit hanya dapat dilakukan lewat sorak-sorai di depan televisi, juga coret-coretan di buku harian. Dulu, saking ngefans-nya dengan Dicky, saya sampai menangis semalaman saat dia harus tereliminasi. Hahaha.

Saya juga mengoleksi album kompilasi musik mereka yang bertajuk Menuju Bintang. Ke-12 akademia ini juga sempat membintangi sebuah film berjudul Fantasi.

*



Di AFI 2, akademia asal Jawa Timur masih jadi yang paling saya jagokan. Mereka adalah Adit dan Nia, yang rupanya berjodoh dan menikah beberapa tahun kemudian. Selain mereka, saya pun menjagokan Tia, Micky, dan Haikal.

Sama seperti saat Dicky tereliminasi, saya pun menangis tersedu saat Adit harus pulang. Bahkan, dahulu saya sempat mencari-cari alamat rumah Adit  di majalah.



Setelah ketemu, dengan semangat saya mengajak Ayah untuk berkunjung ke sana. Sebuah permintaan konyol yang tentunya tak dituruti oleh Ayah. Hahaha, ada-ada saja.


Sama seperti AFI 1, para akademia AFI 2 pun merilis album kompilasi mereka yang bertajuk Melangkah Bersama. Album itu pun tak luput saya koleksi.

*



AFI 3 digelar tak lama setelah AFI 2 usai. Telinga dan mata saya langsung tertarik pada dua finalis lelaki, yakni Sutha dari Bali, dan Alvin dari Yogyakarta.

Di musim ketiga ini, audisi memang diperluas hingga ke Bali. Dan Sutha menjadi wakil Bali pertama yang berhasil menuju babak Grand Final sekaligus menjadi pemenang AFI 3 ini. Sementara Alvin menjadi juara ketiga. Untuk pertama kalinya, jagoan saya tidak tereliminasi.



Saya masih ingat, dulu saat Grand Final digelar, saya tidak bisa menonton karena sedang pergi keluar kota. Saya sedih, namun tetap semangat mengirim dukungan pada Sutha. Sampai-sampai, saya meminjam dan meminta pulsa pada kakak sepupu saya untuk mengirim SMS dukungan pada Sutha. Hahaha.

Keesokan harinya, sebuah headline berita disertai foto Sutha di koran melebarkan senyum saya. Benar saja, dia yang menjadi juaranya.

Hingga saat ini, Sutha masih aktif menyanyi. Selain itu, dia juga membuka usaha kedai kopi. Terkadang, dia membalas pesan saya di Instagram, juga me-repost story yang saya bagikan. Such a humble person :)

*

Memasuki AFI musim keempat, atau yang lebih dikenal dengan sebutan AFI 2005. Di musim ini, saya pun punya beberapa jagoan.

Ada Tiwi (Bandung), Bojes (Jakarta), Arjuna (Jakarta), Luri (Surabaya), Yongki (Yogyakarta), dan Fibri (Solo).


Arjuna merupakan adik dari penyanyi Dea Mirella. Semasa karantina, ia paling dekat dengan Luri. Meskipun jadi yang paling pertama tereliminasi, jalinan cinta Arjuna dan Luri akhirnya sampai di jenjang pernikahan.
Sayang, pada 2009, Luri wafat seminggu usai melahirkan anak lelakinya.



Dari enam akademia itu, tentu saja Bojes yang jadi favorit saya. Entahlah, saat itu saya merasa dia unik, dengan rambut gondrong sebahu ala-ala Jepang. Gayanya atraktif di panggung. Suaranya agak serak khas band pop-rock. Saya sendiri tak mengerti kenapa bisa sesuka itu dengan lelaki jangkung ini. Tak hanya setia nonton penampilannya di televisi, saya juga mengoleksi poster Bojes.



Bojes berhasil menduduki juara ketiga saat itu. Dia pun dibuatkan lagu oleh Rieka Roslan, berjudul Persahabatan Kita. Lagu yang dinyanyikan duet bersama Tiwi ini semakin menguatkan rumor adanya hubungan spesial diantara mereka. Rumor yang berhasil dipatahkan, karena kini Bojes dan Tiwi sudah bahagia dengan pasangan mereka masing-masing.

*

Kembali pada bahasan seputar Konser Akademia Persahabatan Kita. Konser kali ini menampilkan Veri, Micky, Sutha, Yongki, Bojes, Aris, Takeda, dan Rieka Roslan tentunya.
Aris sempat menjadi aktor sinetron dan pembaca berita di sebuah stasiun TV. Ternyata dulu ia sempat mengikuti audisi AFI 2005, tapi tidak sampai babak 12 besar.



Sementara Takeda, adalah salah satu akademia AFI 2006. Saat itu, saya sudah tak terlalu mengikuti AFI lagi. Saat ini Takeda tergabung dalam sebuah grup nasyid bernama Gontor Voice.

*



Sementara Veri, dia adalah juara pertama AFI 1. Lebih sering menyanyikan lagu Melayu, di konser ini pun ia membawakan tembang tersebut. Setahu saya, selain masih aktif menyanyi di acara pernikahan, Veri juga membuka usaha kuliner.



Micky adalah juara ketiga AFI 2. Suaranya ngepop, tapi keren juga saat menyanyikan lagu rock. Sayangnya, saya lupa Micky membawakan lagu apa di konser ini. Kini, selain menyanyi, dia juga menjadi model foto.

*

Senang sekali rasanya bisa melihat Sutha dan Bojes tampil. Kedua jagoan saya ini menyanyikan lagu Jemu dari Koes Plus, dan Terbang milik Gigi. Melihat atraktifnya aksi panggung Bojes, membawa ingatan saya pada konser-konser AFI 2005 yang selalu saya saksikan dulu. Sutha pun dulu juga pernah menyanyikan lagu Jemu di konser AFI.



*

Konser reuni AFI ini benar-benar membawa saya bernostalgia. Senang rasanya melihat sejumlah alumni AFI masih aktif bermusik. Catatan ini akan segera berlanjut. Jangan letih menunggu, ya![]

September 2020
Adinda RD Kinasih

Foto Bercerita:
1. Logo Akademi Fantasi Indosiar. From mojok.co
2. 12 Akademia AFI 1. From idntimes.
3. Dicky AFI 1. From Instagram @dickysaputro.
4. 12 Akademia AFI 2. From tribunnews.com.
5. Adit dan Nia AFI 2. From tabloidbintang.com.
6. 12 Akademia AFI 3. From Twitter @afimania.
7. Sutha AFI 3. From Instagram @putusutha.
8. 12 Akademia AFI 2005. From detik.com.

9. Arjuna dan (Almh) Luri AFI 2005. From ibnuakmal.blogspot.com.
10. Bojes AFI 2005. From tribunnews.com.
11. Takeda AFI 2006. From Instagram @umarutakaeda.
12. Veri AFI 1. From merdeka.com

13. Micky AFI 2. From Instagram
@micky_afi.

14. Poster Konser Persahabatan Kita. From Instagram @very_well_07.






loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama