Langsung ke konten utama

Setelah 11 Tahun



 Mengikuti karir bermusik Afgan sejak tahun 2009, tentunya saya pernah punya keinginan seperti para penggemar yang lain. Bertemu langsung, nonton konser secara langsung, berfoto bersama, mendapatkan tandatangan, juga video penyemangat.

Dulu, di medio 2009-2017, semua ingin itu hanya sebatas angan. Akhirnya media jadi kawan paling kental. Televisi ditonton hingga dini hari demi lihat Afgan bernyanyi. Majalah, koran, dan tabloid tak luput dibeli, demi mendapatkan poster Afgan sebagai pajangan. Dua poster ini sudah ada di kamar saya sejak tahun 2009.






Facebook, YouTube, dan Instagram tak absen dikunjungi, demi bisa menonton penampilan offair, wawancara, mencari tahu lagu baru, atau mendapatkan kabar terkini. Saya juga mengoleksi kaset Afgan sejak album pertama hingga sekarang. Semua itu tak lepas dari peran dan kebaikan hati kawan-kawan Afganisme saya.

*

Saya tak terlalu banyak kenal dengan para Afganisme. Hanya segelintir saja. Bertemu langsung pun belum pernah. Komunikasi kami hanya terjadi di balik tembok linimasa. Namun, alangkah bersyukurnya saya, mereka yang tidak banyak itu memberi aneka kejutan yang tak sedikit.




Ada sebuah email dari seorang Afganisme Lumajang bernama Riza Umamy. Itu berisi lagu-lagu Afgan di album L1ve to Love, Love to L1ve. Saat itu sekitar tahun 2013. Album ini hanya bisa dibeli di KFC. Di tahun itu, KFC belum ada di Blitar.
Jadilah, Riza mengirim link unduh lagu-lagu itu lewat email.

Tak diduga, beberapa bulan kemudian, saya mendapatkan album aslinya saat berkunjung ke Malang dan mampir ke KFC.

*

Lalu, ada flashdisk hitam ini. Ini adalah pemberian Lulu Arbi, seorang Afganisme asal Klaten. Isinya, puluhan video penampilan Afgan di berbagai acara.

Kalau tak salah, dia mengirimnya tahun 2016. Sebagian besar adalah video-video penampilan yang langka, yang saat saya cari di YouTube pun tak ada. Entah dari mana Lulu mendapatkannya.




Saat saya tanya kenapa dia memberikan flashdisk ini, kata-kata Lulu membuat saya tertegun.

"Sudah, Din, itu buat kamu saja. Kalau suatu hari nanti aku sudah nggak ngefans Afgan lagi, paling nggak kumpulan video itu nggak sia-sia karena masih kamu simpan."

Terimakasih banyak, Lulu. Semoga kamu sehat selalu.

*

Kemudian, ada album bertajuk SIDES, yang juga dirilis tahun 2016. Dikirim jauh-jauh dari Jakarta, bersama sebentuk kotak musik dan gantungan kunci khas Afgan. Pengirimnya bernama Siti Rohana, biasa saya panggil Ana.




Kala itu, album ini hanya tersedia di Alfamidi, yang hanya ada di luar Blitar. Saya, yang belum sempat keluar kota, hanya bisa menumpahkan penasaran tentang album ini lewat status di Facebook.

Tak disangka, Ana menghubungi saya lewat pesan singkat. Menanyakan alamat rumah, membuat saya curiga. Benar saja, seminggu kemudian mendaratlah album ini di Blitar. Saya tidak menyangka.

*

Di tahun 2018, Afgan merilis album DEKADE. Skenario yang sama terulang. Ana kembali menghubungi saya, memastikan kalau saya belum memiliki album yang dijual di KFC itu. Dan memang, saya belum sempat ke KFC saat itu.




Album ini pun sampai di Blitar bersama sebuah mainan lucu ini. Ya, Ana yang mengirimnya. Terimakasih sekali lagi, ya An. Semoga kamu tetap semangat dan sehat selalu.

*

Ada lagi kejutan lain dari seorang Afganisme asal Bandung. Ayu Liestiani namanya.

Suatu ketika, ia nonton konser Afgan, kalau tidak salah di Sabuga. Ayu menghubungi saya lewat videocall. Tujuannya, agar saya bisa melihat dan menyapa Afgan secara langsung. Tapi, momen itu terlewatkan karena saya ketiduran. Sayang sekali...

Begitu pula saat Afgan berkunjung ke salah satu gerai KFC di Bandung untuk promosi album DEKADE dan meet and greet dengan Afganisme.

Ayu menghubungi saya berkali-kali lewat videocall Whatsapp. Sayang sekali, saat itu saya sedang offline. Saya jadi kesal dan gregetan sendiri, kenapa momen-momen langka itu selalu terlewat begitu saja.

Tapi ada satu kejutan lagi yang dia berikan. Saya kegirangan seketika. Ada sekeping CD album DEKADE bertandatangan asli Afgan!




Album ini baru tiba di Blitar sekitar sebulan kemudian, karena terkendala kesibukan Ayu yang padat. Bersama sebuah jilbab krem cantik. Rasanya seperti mimpi. Jika dulu saya hanya bisa mengunduh gambar tandatangan Afgan dari Facebook, kini saya punya tandatangan aslinya.




Di awal tahun 2020 ini, akhirnya saya bertemu langsung dengan Ayu saat saya bertandang ke Bandung. Hatur nuhun, Geulis. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti, ya. Tetap semangat dan sehat selalu.

*

Oh ya, saya pun pernah mencoba memesan kaos Afganisme dari sebuah toko di Bali. Kala itu sekitar tahun 2015. Postingan akun bernama Stepnotion Shop ini berseliweran di beranda Facebook saya.




Hingga, pada suatu hari, mereka tengah mengadakan promo, beli satu kaos, dapat dua aksesoris. Saya yang sudah berusaha menahan diri, akhirnya luluh juga. Setelah melewati sejumlah proses dan penantian, tibalah kaos ini bersama dua "bonus", yakni gantungan kunci dan gelang ini.

Tiga benda ini masih saya simpan hingga sekarang. Kaosnya baru sekali saya pakai. Rasanya sayang sekali jika kaos putih ini kotor, hehehe. Lagipula, keinginan menonton konser Afgan secara langsung itu masih ada. Jika suatu saat nanti itu terwujud, saya akan memakai kaos ini.

*

Siapa yang mengira, pandemi Covid19 inilah yang turut andil mewujudkan angan saya itu. Ya, dengan adanya pandemi ini, hampir seluruh musisi menggelar konser daring lewat YouTube, siaran langsung Instagram, atau di sejumlah platform lainnya.

Tak terkecuali Afgan. Pada 21 Mei lalu, ia menggelar konser "jarak jauh" bersama Erwin Gutawa Orchestra. Membawakan sejumlah lagu religi terbaik, Afgan juga berkolaborasi dengan Najwa Shihab.




Reservasi tiket mulai dibuka sejak seminggu sebelumnya. Tiket termurah seharga 50 ribu, dan paling mahal dibanderol 2 juta.

Yes! Ini kesempatan saya! Tanpa pikir panjang, saya segera membeli tiket yang paling murah. Kapan lagi nonton konser Afgan hanya dengan 50 ribu rupiah saja?

Di hari H konser, saya serius di depan laptop, lengkap dengan headset di telinga. Afgan menyanyikan beberapa lagu religi, seperti Ketika Tangan dan Kaki Berkata milik Chrisye, Tombo Ati milik Opick, Insha Allaah milik Maher Zein, Tobat Maksiat dari Wali, juga Shalawat Badar.



Meski siaran agak tersendat karena koneksi internet yang kurang lancar, tapi saya cukup senang karena akhirnya angan saya terwujud setelah 11 tahun. Bisa nonton konser Afgan secara live. Walau lewat daring dan durasinya hanya 45 menit saja.

*

Pada tanggal 1 Juni lalu, Afgan dan pihak manajemennya menggelar virtual gathering Afganisme lewat Zoom. Beberapa teman Afganisme saya pun menginfokan ini beberapa hari sebelumnya.




Saya sempat ragu. Ikut atau tidak, ya? Akhirnya, sehari sebelum hari H, saya mengontak seseorang dari tim manajemen Afgan untuk registrasi. Saya pun dimasukkan dalam sebuah grup Whatsapp.

Tibalah tanggal 1 Juni. Acara akan dimulai pukul dua siang. Tiba-tiba, saya agak malas ikut acara ini. Apalagi saat membaca ketentuan mengenai dresscode yang harus berwarna hitam. Saya sempat heran. Ini kan bertemunya lewat Zoom, masa ada dresscode-nya segala?

Tapi akhirnya, di jam setengah dua siang, saya meng-install aplikasi Zoom di laptop. Sambil mengenakan jilbab hitam panjang, tanpa berganti baju. Sama sekali tak terpikir di benak saya untuk memakai kaos Afganisme itu.




Saya pun masuk ke obrolan lewat tautan yang tersedia. Benar saja, ada beberapa host beserta ratusan Afganisme yang mengikuti acara ini. Ternyata mereka tak hanya berasal dari Indonesia, tapi juga dari Malaysia dan Brunei.

Selain menjawab pertanyaan dan menyapa Afganisme, Afgan juga sempat menyanyikan beberapa lagu. Ada pula sejumlah Afganisme yang berkesempatan ngobrol langsung dengan Afgan.

Saya? Jelas bukanlah, hahaha. Tapi walau saya tidak di-notice, saya cukup bersyukur bisa ikut acara ini dan melihat Afgan berbagi cerita seputar kegiatannya selama di rumah saja.

*

Maka, sungguh. Segala sesuatu pasti punya hikmah. Termasuk adanya Covid-19 dan keharusan berdiam di rumah.



Sebab, berkat pandemi ini pula, impian saya untuk menonton konser dan mendengarkan cerita Afgan dapat terwujud setelah 11 tahun hanya bisa membayangkan saja. Ya, meski masih terhalang dinding limimasa.[]

Juni 2020
Adinda RD Kinasih


Foto Bercerita:

1. Afgan. Source: Instagram @afgansyah.reza
2. Poster Afgan di dinding kamar saya. Dari Tabloid Gaul tahun 2009.
3. Saya bersama album L1VE To LOVE, LOVE To L1VE.
4. Flashdisk berisi video-video Afgan.
5. Album SIDES dan bingkisan kecil.
6. Album DEKADE dan bingkisan kecil.
7. Saya bersama album DEKADE bertandatangan.
8. Saya dan Ayu Liestiani di Alun-Alun Kota Bandung, Januari 2020.
9. Kaos, gantungan kunci, dan gelang khas Afgan. Source: Facebook Stepnation Shop.
10. Poster konser Afgan dan Erwin Gutawa Orkestra. Source: Instagram @afgansyah.reza.
11. Konser Afgan dan Erwin Gutawa Orkestra #dirumahaja disiarkan langsung di situs Loket.com
12. Poster Zoom Virtual Gathering Afganisme 2020. Source: Instagram @afganmanagement.
13. Ngobrol dengan Afgan lewat Zoom.
14. Album Afgan koleksi saya.



loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama